inspirasi

Mengenal Louis Braille, Penemu Sistem Tulisan untuk Penyandang Tunanetra

Penulis:   | 

Huruf Braille melambangkan angka, huruf, serta tanda baca yang disusun dalam titik-titik sedemikian rupa.

Huruf timbul yang bisa diraba melalui ujung jari menjadi serangkaian kode yang bisa dibaca. Huruf Braille memudahkan para penyandang tunanetra untuk bisa melihat dengan tangan.

Tahukah kamu bahwa ternyata pembuatan huruf Braille sempat melewati sejarah panjang sebelum akhirnya bisa digunakan di seluruh dunia.

Sosok penemunya adalah Louis Braille dari Prancis yang juga penyandang tunanetra saat masih kecil.

Baca juga: Uniknya Turritopsis dohrnii, Ubur-ubur Abadi yang Tidak Bisa Mati

Awalnya terlahir normal, tapi pada usia lima tahun sudah tidak bisa melihat

Mengenal Louis Braille, Penemu Sistem Tulisan untuk Penyandang Tunanetra

(foto: simplyknowledge)

Pada makalah John D. Bullock yang berjudul The Story of Louis Braille (2009), tercatat bahwa Louis Braille terlahir dalam kondisi normal pada tanggal 4 Januari 1809. Ia sejak kecil sering bermain di ruang kerja sang ayah.

Ayahnya adalah seorang pengrajin peralatan untuk berkuda. Di ruangan tempat kerja ayahnya itulah terjadi sesuatu yang kemudian mengubah jalan hidupnya selamanya.

Suatu hari, usianya baru tiga tahun dan ia terjatuh ketika bermain menggunakan perkakas ayahnya. Celakanya, sebuah perkakas tajam mengenai mata kanannya. Ia mulai buta sebelah matanya.

Setelah itu penyakit sympathetic ophthalmia menyerangnya. Mata kirinya pun ikut tidak berfungsi seperti mata kanan. Saat itu usianya lima tahun dan sudah tidak bisa melihat sama sekali.

Setelah pindah sekolah, mencari cara untuk membaca dan menulis dengan lebih efisien

Mengenal Louis Braille, Penemu Sistem Tulisan untuk Penyandang Tunanetra

(foto: tripadvisor)

Meskipun tidak bisa melihat, tapi kemampuan berpikirnya sangat baik. Ayahnya pun tidak ragu untuk mendaftarkannya sekolah umum.

Tapi ternyata ia kesulitan untuk mengikuti pelajaran karena keadaan matanya. Ia masih bisa belajar dengan mendengar kata-kata dari guru.

Tapi pada saat ada kewajiban dari kurikulum yang mana semua siswa harus membaca, ia terpaksa keluar.

Pada usia yang ke-10, ia mendapatkan beasiswa sekolah di Royal Institution for Blind Youth.

Di sana murid-murid diajarkan cara untuk membaca tulisan dengan metode khusus yang dikembangkan oleh pendiri sekolah.

Tapi ia merasa metode di sekolahnya masih susah untuk dimengerti. Ia tidak dapat memahami semua ilmu yang diajarkan karena tidak mampu membaca lancar.

Dengan ketekunan dan kecerdasannya, ia berpikir bagaimana caranya membaca dan menulis dengan lebih efisien.

Baca juga: Tradisi Walking Marriage, Wanita Suku Mosuo Boleh Punya Banyak Pasangan

Mulai kenal metode night writing yang menjadi cikal bakal huruf Braille

Mengenal Louis Braille, Penemu Sistem Tulisan untuk Penyandang Tunanetra

(foto: wikipedia)

Sampai pada suatu hari sekolahnya dikunjungi oleh Charles Barbier, mantan kapten artileri dari Prancis.

Dalam kunjungan itu diperkenalkanlah sebuah metode night writing, yaitu cara mengirim pesan pada orang lain saat kondisi gelap.

Kode night writing cukup terkenal di kalangan tentara Napoleon Bonaparte saat peperangan di malam hari.

Dengan sarana titik-titik timbul di atas kertas, orang yang menerima pesan akan mampu memahami isinya.

Night writing adalah susunan kode yang terdiri dari matriks sel sebanyak 12 titik, dua titik mendatar , serta enam titik yang menurun.

Untuk setiap matriks disusun dengan kombinasi yang mewakili bunyi tertentu. Ia mulai memahami cara kerja night writing, kemudian ia juga menyadari bahwa ini bisa menjadi jawaban bagi orang yang tidak dapat melihat seperti dirinya.

Meskipun masih banyak kekurangan pada night writing, inilah yang di kemudian hari menjadi cikal bakal huruf Braille.

Pemerintah baru mengakui dan mengesahkan huruf Braille setelah kematiannya

Mengenal Louis Braille, Penemu Sistem Tulisan untuk Penyandang Tunanetra

(foto: dcmp)

Pada usianya yang ke-15, ia berhasil memodifikasi metode night writing. Matriks yang sebelumnya terdiri dari 12 titik dikerucutkan menjadi 6 titik.

Tujuannya agar yang membaca bisa memahami setiap matriksnya dalam satu sentuhan saja. Ia memodifikasi agar setiap matriksnya mewakili huruf-huruf alfabet dan bukan untuk bunyi.

Lima tahun kemudian ia juga menerbitkan buku Method of Writing Words, Music, and Plain Songs by Means of Dots, for Use by the Blind and Arranged for Them yang merupakan buku pertama yang ditulis dengan huruf Braille.

Tahun 1834 ia mencoba untuk mendemonstrasikan hasil karyanya di depan Raja Louis Philippe. Ia berharap sang raja menyambut baik agar karyanya bisa tersebar luas untuk membantu penyandang tunanetra.

Tapi ternyata raja belum mengizinkan temuannya disebarkan. Karena belum mendapat izin, baru kalangan terbatas yang mendapat manfaatnya.

Tapi ia tidak berhenti memperjuangkan karya besarnya sepanjang hidup. Dua tahun setelah kematiannya pada tahun 1952, pemerintah Prancis baru menyetujui tentang alat komunikasi yang kemudian disahkan sebagai huruf Braille.