inspirasi

Keunikan Tari Lengger, Kesenian untuk Mengingat Sang Pencipta

Penulis:   | 

Tari Lengger adalah kesenian tradisional dari Jawa Tengah yang masih bertahan sampai saat ini. Konon tarian ini dirintis oleh Gondhowinangun.

Gondhowinangung adalah seorang tokoh kesenian tradisional yang berasal dari Dusun Giyanti, Desa Kecis, Kecamatan Selomerta, Wonosobo pada tahun 1910 Masehi.

Tarian ini biasa dimainkan oleh 2 sampai 4 orang laki-laki atau perempuan yang didandani menggunakan pakaian khas.

Di Indonesia, Lengger sangat terkenal dan telah diadaptasi menjadi film berjudul Tarian Lengger Maut (2021). Selain itu, tarian ini juga ada di dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Baca juga: Tradisi Nginang, Mengunyah Sirih sebagai Simbol Menjaga Lisan

Sejarah tari Lengger dulunya dipercaya sebagai sayembara menemukan putri raja

Keunikan Tari Lengger, Kesenian untuk Mengingat Sang Pencipta

(foto: 1001indonesia)

Tari Lengger memiliki sejarah yang cukup panjang dan menarik untuk diketahui. Konon, asal mula tarian ini adalah sebuah sayembara untuk menemukan Putri Raja Brawijaya, yaitu Dewi Sekartaji.

Dalam sayembara, raja berjanji akan memberikan imbalan bagi siapa pun yang menemukan putri kesayangannya.

Jika yang menemukan adalah perempuan, ia akan diangkat menjadi anggota keluarga kerajaan dan jika laki-laki maka akan dinikahkan dengan putrinya.

Putri Dewi Sekartaji sendiri kabur dari kerajaan karena tidak setuju dengan rencana perjodohannya dengan Prabu Klana.

Banyak kesatria yang mengikuti sayembara, namun yang berhasil bertahan hanya 2 orang yaitu Raden Panji Asmara Bangun atau Joko Kembang Kuning dari Kerajaan Jenggala dan Prabu Klana dari Kerajaan Sebrang.

Dimainkan di berbagai daerah agar putri raja keluar dari persembunyian

Keunikan Tari Lengger, Kesenian untuk Mengingat Sang Pencipta

(foto: kompas)

Untuk membuat sang putri keluar dari tempat persembunyiannya, Joko Kembang Kuning menyamar sebagai ledhek perempuan yang menari ke berbagai daerah.

Penampilan Joko Kembang perlahan-lahan mulai disaksikan oleh banyak orang.

Selang beberapa waktu, tariannya dikenal dengan nama Lengger yang diambil dari Bahasa Jawa Ledhek atau penari, dan Geger yang artinya kerumunan atau kehebohan.

Perjuangan Joko Kembang Kuning membuahkan hasil memuaskan. Sang putri keluar dari persembunyiannya dan mereka pun menikah. Dalam pernikahannya, mereka disuguhi dengan pertunjukan Tari Lengger.

Baca juga: Keunikan Seni Liping, Miniatur Kehidupan Jawa Masa Lalu

Beginilah perkembangan tari Lengger dan makna filosofis di baliknya

Keunikan Tari Lengger, Kesenian untuk Mengingat Sang Pencipta

(foto: suarabanyumas)

Saat Kerajaan Islam menguasai Jawa Tengah, tari Lengger sempat dipandang negatif karena adegan dan gerakannya dianggap dapat mengundang birahi. Pada masa itu, para penonton seringkali ikut menari sambil tidak sadarkan diri.

Tapi, saat itu Lengger banyak disenangi oleh masyarakat untuk dijadikan hiburan. Menurut sejarahnya, Sunan Kalijaga melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk menyebarkan ajaran agama Islam.

Kemudian ia mengubah tariannya menjadi sarana dakwah dengan cara menyisipkan ajaran untuk selalu mengingat Sang Pencipta. Sejak saat itu, nama Lengger berubah maknanya menjadi ‘Elingo Ngger‘ yang berarti ‘Ingatlah Nak’.

Selain itu, dalam tembang-tembang yang digunakan untuk mengiringi tari ini terdapat pesan-pesan ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin dan juga nilai kebaikan lainnya.

Ada beberapa perubahan makna dalam tradisi tarian Lengger yang sakral

Keunikan Tari Lengger, Kesenian untuk Mengingat Sang Pencipta

(foto: liputan6)

Meski sempat dipandang sebelah mata, tarian ini dianggap sebagai tarian sakral dan tidak bisa dimainkan oleh sembarang orang. Para penarinya dianggap telah bersih secara spiritual.

Penari Lengger melakukan ritual khusus berupa tidur di depan pintu setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, melakukan puasa mutih atau hanya makan nasi kepal dalam sehari, dan tirakat di tempat khusus yang bernama Panembahan Lengger.

Pada dasarnya tidak ada waktu dan tempat khusus untuk menggelar pertunjukan Lengger, asalkan ada syarat memberi sesajen sebelum pertunjukan dimulai.

Satu lagi yang unik dari tari Lengger sebagai warisan budaya yang berkembang di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Barat seperti Banyumas, Wonosobo, dan Purwokerto.

Dulunya, tarian ini banyak dimainkan oleh penari transgender. Tapi, sekarang ini justru lebih banyak dimainkan oleh perempuan.

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.