inspirasi

Kekejaman Khmer Merah, Rezim Diktator yang Menghabisi Nyawa Rakyatnya Sendiri

By  | 

Di bawah rezim Khmer Merah, Kamboja menyimpan sejarah kelam tersendiri. Antara tahun 1975 dan 1979, seperempat populasi negara Kamboja meregang nyawa. Jutaan orang dibunuh massal, disiksa, dibuat kelaparan, atau kerja paksa

Khmer Merah atau Khmer Rouge merupakan kelompok bersenjata sekaligus sebuah partai bernama Partai Komunis Kampuchea

Nama untuk Kamboja saat itu adalah Kampuchea, sedangkan Khmer merupakan suku bangsa yang terdapat di negara itu.

Kelompok ini berambisi meraih kekuasaan di tengah suasana Kamboja yang terlibat konflik regional dengan Thailand dan Vietnam.

Seperti apa itu sepak terjangnya dan mengapa mereka sampai menjadi sorotan dunia? Beginilah riwayat kejamnya rezim Khmer Merah.

Baca juga: Mengenal Beirut, Ibukota Lebanon yang Dapat Julukan ‘Paris di Timur Tengah’

Memimpin Kamboja setelah melengserkan pemerintah

Rezim Khmer Merah, Diktator yang Menghabisi Nyawa Rakyatnya Sendiri

(foto: pinterest)

Sebelumnya, Kamboja adalah negeri yang penuh pertikaian. Begitu berhasil melepaskan diri dari jajahan Prancis pada 9 November 1953, Kamboja kemudian menjadi negara merdeka di bawah pimpinan Norodom Sihanouk.

Tahun 1970, Sihanouk dikudeta oleh sekutu politik sendiri, yaitu Marsekal Lon Nol. Lon Nol kemudian menghapuskan kerajaan dan mendeklarasikan Kamboja sebagai negara republik.

Di periode yang sama, bahkan sudah sejak tahun 1960, Khmer Merah bergerilya melawan pemerintahan Pangeran Shihanouk dan juga Jenderal Lon Nol.

17 April 1975, kelompok mereka yang saat itu dipimpin oleh Pol Pot menduduki kota Phnom Penh. Mereka baru saja melengserkan kekuasaan kemudian menjadi pemimpin Kamboja.

Menghukum mati rakyat dan menghapuskan kehidupan modern

Rezim Khmer Merah, Diktator yang Menghabisi Nyawa Rakyatnya Sendiri

(foto: pinterest)

Baru beberapa hari memimpin, mereka membuat kebijakan yang ekstrem. Memberi hukuman mati ke sebagian besar rakyat Kamboja yang dipandang menjadi mendukung Jenderal Lon Nol.

Begitu juga warga yang tidak berasal dari kelas petani, segera menjadi sasaran keganasannya.

Khmer Merah memang ingin menghapuskan tatanan kehidupan modern Kamboja dan kemudian menjadi negara agraris menurut versi Marxist.

Kelompok ini juga menggiring rakyat menjadi buruh tani yang mandiri, tidak tergantung dunia luar, dan menolak teknologi modern.

Baca juga: Tanpa Mesin, Kapal Padewakang Buatan Makassar Mampu Berlayar ke Australia

Tentara Khmer Merah juga memakan organ tubuh manusia

Rezim Khmer Merah, Diktator yang Menghabisi Nyawa Rakyatnya Sendiri

(foto: pinterest)

Pada zamannya, Khmer Merah bukan hanya menyiksa dan kerja paksa, tapi juga memenjarakan warga yang masih anak-anak. Tidak cukup dengan itu, tentara Khmer Merah juga melakukan praktik kanibal.

Para sejarawan memiliki pendapat tentang kanibalisme yang berlangsung di sana, mulai dari penerapan hukum yang identik dengan kekerasan, sadisme di zaman Pol Pot, kepercayaan pada takhayul, sampai isu kelaparan di antara para tentara Khmer sendiri.

Mereka percaya bahwa dengan memakan organ tubuh korban, itu dapat menyerap energi dari korban.

Seperti yang dikisahkan oleh Meu Peou yang dilansir dari CNN, ia menangis ketika menceritakan pengalaman di penjara Khmer Merah. Bahkan waktu itu dirinya masih seorang anak-anak.

Di Provinsi Pursat, Meu Peou ditahan dengan tuduhan pengkhianatan pada kader komunis karena mencuri beras.

Di dalam penjara, Meu kecil melihat wanita dibunuh di depan matanya secara sadis. Isi perut wanita itu dikeluarkan saat itu juga. Hatinya diambil dari tubuhnya, kemudian dimasak untuk dimakan para penjaga penjara.

“Wanita itu diminta membuka pakaiannya dan tubuhnya dibelah. Darah dimana-mana. Hatinya dikeluarkan dan dimasak untuk makanan,” terang Meu dengan menahan air mata.

Kekuasaannya berakhir setelah invasi militer Vietnam

Rezim Khmer Merah, Diktator yang Menghabisi Nyawa Rakyatnya Sendiri

(foto: pinterest)

Sepanjang kepemimpinan rezim Khmer Merah, tak kurang dari dua juta rakyat Kamboja meregang nyawa, termasuk di antaranya 500 ribu warga Muslim Cham dan juga 20 ribu warga Vietnam yang mana keduanya merupakan etnis minoritas yang netral pada pemerintah Kamboja.

Pemerintahan Khmer Merah yang penuh aksi brutal akhirnya berakhir pada tahun 1979.  Tepatnya, 7 Januari 1979, saat pasukan Vietnam menginvasi Kamboja.

Untuk mengenang kekejaman rezim Khmer Merah, dibangunlah Museum Genosida Tuol Sleng di kota Phnom Penh. Pembangunan museum itu juga  didedikasikan bagi para korban.