inspirasi

Sun Tzu, Ahli Strategi Perang dari Tiongkok yang Paling Disegani Dunia

Penulis:   | 

Saat membahas tentang ahli strategi perang terbaik, sepertinya nama Sun Tzu begitu sering disebut.

Karya terbesarnya, The Art of War menjadi rujukan yang berpengaruh besar di kalangan para pemimpin dunia.

Meskipun pemikirannya sudah muncul sejak ribuan tahun, tapi masih dirasa relevan sampai hari ini.

Keahliannya dalam strategi perang juga berpengaruh dalam perkembangan peradaban di dunia.

Tidak hanya bermanfaat di bidang militer, politik, dan pemerintahan, tapi juga menginspirasi bidang bisnis dan perfilman.

Baca juga: Sejarah High Heels, Awalnya Dipakai Pria untuk Menentukan Status Sosial

Menjadi sosok jendral militer yang dikenal efisien dan memiliki pribadi yang unik

Sun Tzu, Ahli Strategi Perang dari Tiongkok yang Paling Disegani Dunia

(foto: biography)

Sun Tzu (545-470 SM) adalah seorang jendral militer di Kekaisaran Tiongkok. Ia mengabdi pada masa pemerintahan Kaisar Wu di kerajaan Qi.

Selama mengabdi, pemikiran dan kepemimpinannya berkontribusi sangat besar bagi kekaisaran. Sosoknya dikenal efisien, bijaksana, dan memiliki pribadi yang unik.

Pengaruhnya bukan hanya dihargai dalam negaranya sendiri, melainkan juga di dunia.

Ia menanamkan keyakinan bahwa sebuah kekuatan intelektual dan moral manusia merupakan hal terpenting dan jadi penentu keberhasilan pemimpin.

Ia merumuskan strategi kepemimpinan yang kemudian diabadikan dalam masterpiece-nya, The Art of War yang sangat terkenal dan namanya pun disegani di dunia.

Merumuskan strategi militer dan manajemen konflik untuk meraih kemenangan

Sun Tzu, Ahli Strategi Perang dari Tiongkok yang Paling Disegani Dunia

(foto: chatwhatever)

Semasa hidupnya di lingkungan istana, perang adalah sesuatu yang bersifat ritualistik dan sakral sehingga tidak bisa dilakukan sembarangan oleh jenderal atau raja-raja di Tiongkok.

Ada filosofi, strategi militer, dan manajemen konflik yang ia rumuskan untuk merebut kemenangan.

Apalagi saat itu, senjata dan teknologi masih sulit ditemukan. Pasukan militer yang ingin memenangkan perang tidak cukup mengandalkan senjata saja.

Ada satu kunci kemenangan sebuah peperangan, yaitu strategi. Di antara strategi yang dititikberatkan adalah pemahaman pada diri sendiri, kekuatan musuh, dan kondisi medan.

Ia menyatakan bahwa jika seseorang mengetahui kondisi musuh dan juga mengenal diri sendiri, maka tidak perlu takut pada hasil dari pertempuran.

Ia juga memiliki gagasan, bahwa senjata perang merupakan alat yang tidak menyenangkan dan sebaiknya hanya digunakan saat tidak punya pilihan lain.

Baca juga: Jarang Diketahui, Inilah Sejarah Pizza yang Dulunya Identik dengan Kemiskinan

Menurut pandangannya peperangan bukan demi kekuasaan, tapi seni kepemimpinan

Sun Tzu, Ahli Strategi Perang dari Tiongkok yang Paling Disegani Dunia

(foto: pinterest)

Menurut pandangannya, tujuan dibentuknya pasukan militer kerajaan bukan untuk membinasakan musuh, menghancurkan negara, apalagi memporak-porandakan kehidupan rakyatnya.

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan para pemimpin yaitu; moral, jabatan, medan, cuaca, dan doktrin atau pemahaman tentang ideologi.

Saat berada dalam peperangan, tidak boleh menyerang orang yang tua dan lemah. Juga tidak boleh menyerang musuh terus menerus jika mereka sudah terluka.

Sebagai pengikut Konfusius, ia menyatakan bahwa sebuah kemenangan yang tertinggi adalah saat bisa mengalahkan musuh tanpa ada pertempuran, pengepungan, atau pertumpahan darah.

Karena peperangan bukan demi kekuasaan saja, tapi sebuah seni kepemimpinan.

Pemikirannya masih berlaku di zaman modern dengan permasalahan kompleks

Sun Tzu, Ahli Strategi Perang dari Tiongkok yang Paling Disegani Dunia

(foto: inspirationfeed)

Sejarah tentangnya memang ada beberapa versi, tapi pada umumnya sejarawan bersepakat tentang gagasan pemikirannya mencakup banyak hal strategis.

Yang pasti, ia berpandangan bahwa setiap upaya kemenangan harus berdasarkan pengetahuan dan analisis dengan informasi yang terpercaya.

Itulah mengapa pemikirannya masih berlaku di zaman modern dengan permasalahan yang lebih kompleks.

Ia juga menjadi sosok guru yang bijaksana yang mengedepankan nilai perdamaian, seperti tercermin dalam kata-kata bijaknya berikut ini.

“Kemenangan terbesar adalah saat (negara) tidak memerlukan pertempuran.”

“Tidak ada contoh negara yang memperoleh manfaat dari perang berkepanjangan.”