inspirasi

Sejarah High Heels, Awalnya Dipakai Pria untuk Menentukan Status Sosial

By  | 

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan sepatu berhak tinggi atau high heels.

Sepatu tinggi yang ujungnya runcing dan didesain dengan cantik seolah menjadi hal yang wajib untuk sebagian wanita.

Memang high heels tidak dipakai sehari-hari, tapi pada momen tertentu banyak wanita yang rela kakinya sakit agar bisa tampil lebih menarik.

Baca juga: Terbuat dari Cacing, Omelet Cha Ruoi Jadi Menu Populer Khas Vietnam

Sudah ada sejak tahun sebelum masehi dan dipakai saat menyembelih hewan

Awalnya Dipakai Pria, Inilah Sejarah High Heels yang Menentukan Status Sosial

(foto: nypost)

Sepatu ini memang dianggap bisa menunjang tampilan wanita dan menambah rasa percaya diri dengan postur tubuh yang lebih tinggi.

Pemakaiannya bisa dipadukan dengan beragam model pakaian, mulai dari yang glamor hingga yang kasual.

Tapi, di balik kesan feminin yang biasa terlihat, ternyata dahulu alas kaki ini diciptakan bukan untuk wanita.

Barangkali akan mengejutkan bahwa sejarahnya sudah ada sejak sebelum masehi dan dipakai saat menyembelih hewan.

Di Mesir Kuno banyak tukang jagal hewan yang memakainya agar kakinya terhindar dari darah hewan.

Selain di Mesir, ada juga di Yunani dan Romawi Kuno, aktor teater memakainya untuk mendukung peran yang dibawakan.

Awalnya digunakan oleh prajurit Persia, kemudian diperkenalkan ke Eropa

Awalnya Dipakai Pria, Inilah Sejarah High Heels yang Menentukan Status Sosial

(foto: pinterest)

Ada beberapa sumber lain yang menyebutkan perkembangannya dari masa ke masa, antara lain dalam buku Standing Tall: The Curious History of Men in Heels dari Elizabeth Semmelhack.

Sejak abad ke-17, para prajurit penunggang kuda dari Persia memakai sepatu boots cowboy dengan hak tinggi.

Tujuannya adalah agar kakinya tetap aman dan tidak terpeleset ketika sedang menunggang kuda.

Dari prajurit Persia, high heels kemudian mulai dikenal di Eropa. Saat itu, ada seorang pegawai kedutaan besar dari Persia yang memperkenalkan high heels modern ke Eropa.

Sejak saat itulah high heels jadi lebih dari sekadar alas kaki, tapi juga menunjukkan gengsi.

Yang biasa memakainya pun tidak semua orang. Hanya golongan pria kaya atau bangsawan saja yang mampu memakainya untuk melindungi kaki dari debu dan lumpur.

Baca juga: Jarang Diketahui, Inilah Sejarah Pizza yang Dulunya Identik dengan Kemiskinan

Menunjukkan perbedaan status sosial pada masyarakat kelas atas dan kelas bawah

Awalnya Dipakai Pria, Inilah Sejarah High Heels yang Menentukan Status Sosial

(foto: pixabay)

Kaum elit di Eropa semakin mengukuhkan peran high heels menjadi simbol dari status sosial. Apalagi setelah Raja Louis XIV dari Prancis juga memakainya.

Banyak kalangan biasa yang sebelumnya tidak kenal alas kaki, mulai ikut memakai sepatu seperti yang digunakan pemimpinnya.

Saat itu, pihak yang berkuasa membuat semacam peraturan terkait high heels.

Pembuatannya dibuat unik dengan ukuran hak berbeda, untuk menunjukkan perbedaan status masyarakat kelas atas dan kelas bawah.

Yang paling pendek untuk rakyat biasa, dan yang paling tinggi untuk raja.

Konon postur tubuh yang tinggi bisa memberi rasa dominan dan kesan terhormat, sehingga rakyat yang memakai high heels lebih tinggi dari raja akan dihukum.

Sejak abad ke-19, lebih banyak wanita yang pakai high heels untuk menunjang penampilan

Awalnya Dipakai Pria, Inilah Sejarah High Heels yang Menentukan Status Sosial

(foto: pixabay)

Seiring waktu, para wanita Eropa mulai ikut memakai high heels. Tapi tidak untuk sembarang tempat atau segala suasana.

Pemakaiannya di kalangan wanita Italia sempat dikaitkan dengan simbol wanita penghibur untuk membedakan dengan wanita pada umumnya.

Secara bersamaan, penggunaannya di kalangan pria mulai berkurang. Perubahan besar terjadi sejak Revolusi Prancis.

High heels makin banyak disukai para wanita abad ke-19 dan menjadi pilihan fashion tersendiri.

Berdasarkan desainnya, saat itu disadari bahwa pemakaian high heels lebih pantas untuk wanita karena menunjang penampilan agar terlihat lebih tinggi.