inspirasi

Sisi Kelam Kehidupan Animator Jepang, Gaji Rendah dan Rentan Depresi

By  | 

Sudah menjadi rahasia umum kalau anime asal Jepang menjadi favorit banyak orang, termasuk di Indonesia. Industri ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi negeri sakura tersebut.

Selain laku keras lewat serial TV atau layar lebar, anime juga kerap merambah ke dunia game, mainan dalam wujud action figure dan berbagai merchandise lainnya.

Di balik gemerlapnya lantaran semakin diminati karya mereka, para animator di Jepang nyatanya mengalami nasib yang kurang baik.

Dalam sebuah video yang diunggah oleh Asian Boss dalam kanal Youtubenya, banyak masalah yang dihadapi para animator di balik karyanya yang melejit.

Baca juga: Adnan Menderes, Perdana Menteri Turki yang Dihukum Gantung karena Kebijakan Pro Islam

Dibayar rendah bahkan kalah dari siswa yang bekerja paruh waktu

Tak Seindah Karyanya, Inilah Sisi Kelam Kehidupan Animator Jepang, Gaji Rendah dan Rentan Depresi

(foto: mariviu)

Laku kerasnya karya yang dihasilkan, ternyata berbanding terbalik dengan hasil yang didapatkan. Asian Boss mewawancarai animator pemula bernama Ayame Nakamura.

Baru 6 bulan, ia sudah menangani judul-judul besar seperti Vinland Saga dan Boruto. Nakamura mengakui bahwa proses produksi animasi memiliki jadwal dan tenggat waktu yang sangat ketat.

Namun tak diimbangi dengan uang yang merekadapatkan. Apalagi ia tinggal di Tokyo yang menjadi salah satu kota termahal di dunia.

Bahkan Nakamura mengakui siswa sekolah menengah yang bekerja paruh waktu bisa menghasilkan lebih banyak uang.

Dilansir dari mariviu, untuk animator pemula, gaji yang ditawarkan adalah 700 yen atau sekitar Rp 90 ribu per jam.

Jika bekerja selama 8 jam sehari dan 260 hari setahun, total gaji yang didapatkan adalah Rp 15 juta sebulan. Angka ini memang besar di Indonesia, namun tidak untuk di Jepang yang biaya hidup dan kebutuhannya tinggi.

Dibandingkan dengan gaji pegawai minimarket yang mendapatkan 900 yen per jam dan bisa sampai 1100 yen hingga shift malam, dalam sebulan mereka bisa mendapatkan Rp 20 juta.

Apalagi jika bekerja di McDonald yang bisa mendapatkan 980 hingga 1225 yen, dalam sebulan bisa mendapatkan Rp 24 juta.

Jam kerja yang tinggi terutama untuk anime yang terkenal

Tak Seindah Karyanya, Inilah Sisi Kelam Kehidupan Animator Jepang, Gaji Rendah dan Rentan Depresi

(foto: The Wall Street Journal)

Seperti yang dijelaskan Nakamura, proses produksi anime memiliki jadwal dan tenggat waktu yang ketat.

Pembuatan anime ini melibatkan banyak tahap, dari mulai perencanaan per episode, mendapatkan skrip per episode, mengubah skrip menjadi storybard lalu gambar dan menambahkan background serta dijadikan animasi.

Belum lagi para animator harus menggambar tiap gerakan dalam adegan hingga membentuk flipbook  yang terdiri dari ratusan gambar. Jelas ini merupakan pekerjaan yang berat.

Belum lagi untuk anime terkenal yang sangat peduli terhadap detail. Oleh karena itu wajar jika animator tertekan dengan jam kerja. Tak jarang ada yang kelelahan hingga harus dirawat di rumah sakit.

Studio animasi Madhouse pernah dituduh melanggar kode etik karena memperkerjakan karyawan hingga 400 jam sebulan.

Mereka juga tak mendapatkan libur 37 hari berturut-turut karena deadline. Inilah yang menjadi alasan studio lebih mempekerjakan freelancer karena tak perlu mengkhawatirkan peraturan ketenagakerjaan.

Memperbudak freelancer karena tak ada peraturan yang mengikat

Tak Seindah Karyanya, Inilah Sisi Kelam Kehidupan Animator Jepang, Gaji Rendah dan Rentan Depresi

(foto: japan info)

Walaupun kejam, nyatanya industri ini sangat membutuhkan banyak pekerja karena banyak anime yang dihasilkan. Namun pihak studio juga masih sulit mencari animator berbakat.

Solusinya, mereka menggunakan tenaga freelance muda yang sebenarnya tak terlalu tertarik dengan anime dan gajinya murah. Para freelancer ini biasanya menghubungkan antar frame sehingga pergerakan anime terlihat lebih mulus.

Keberadaan pekerja freelance ini ternyata kerap kali dimanfaatkan oleh pihak studio. Mereka dipekerjakan seenaknya karena tak adanya peraturan yang mengikat jam bekerja para tenaga freelance. Bahkan jika sudah tak dibutuhkan lagi, mereka juga bisa diputus kontrak kapanpun.

Baca juga: Viral Gerombolan Pesut Mahakam, Berikut Fakta Si Lumba-lumba Air Tawar yang Terancam Punah

Ada animator yang bunuh diri karena tertekan oleh rutinitas kerja

Tak Seindah Karyanya, Inilah Sisi Kelam Kehidupan Animator Jepang, Gaji Rendah dan Rentan Depresi

(foto: vox)

Dilansir dari Japan Press Weekly, seorang animator yang bekerja di A-1 Pictures bunuh diri lantaran kelebihan kerja. Dalam rekam medis, sang animator disebut bekerja lebih dari 600 jam tiap bulan atau 20 jam sehari.

Saat itu ia terlibat dalam pembuatan anime Kannagi dan Ookiku furikabutte. Kejadian ini membuat pihak A-1 Pictures harus membayar kompensasi pada keluarga animator.

Para animator bekerja memang karena passion, bukan karena penghidupan yang layak. Namun tak jarang yang merasa jenuh dan stress karena tekanan kerja yang tinggi. Alhasil ada yang memutuskan untuk bunuh diri.

Banyaknya animasi yang diproduksi, jadi bencana untuk industri sendiri

Tak Seindah Karyanya, Inilah Sisi Kelam Kehidupan Animator Jepang, Gaji Rendah dan Rentan Depresi

(foto: tokyo treats)

Kini banyak judul anime yang tengah diproduksi. Jumlah staf studio bahkan tak mampu mengimbangi jumlah animasi yang diproduksi.

Padahal pihak studio juga sudah berjuang memenuhi jadwal yang diinginkan oleh klien. Belum lagi dengan masuknya investor seperti Netflix yang membuat makin tingginya produksi.

Untuk melatih animator yang berkualitas juga membutuhkan waktu. Ditambah lagi makin sedikit orang yang berminat menjadi animator karena rendahnya kesejahteraan hidup yang diterima.

Alhasil, industri ini kesulitan untuk menghasilkan animasi dengan kualitas bagus dalam waktu yang cepat.