inspirasi

Sepak Bola Api, Permainan Ekstrem yang Populer di Pesantren

Penulis:   | 

Di lingkungan pondok pesantren, ada satu permainan yang selalu dimainkan dalam situasi tertentu. Permainan ini dikenal dengan sebutan sepak bola api.

Para santri di pesantren-pesantren di Jawa menganggap permainan ini sebagai sesuatu yang menguji keberanian, menantang, dan juga sebuah budaya turun temurun.

Untuk memainkannya juga penuh strategi dan sikap hati-hati agar tidak kena luka bakar. Meskipun tempak bahaya, ternyata penonton selalu antusias melihatnya.

Karena itu bagi mereka kemampuan bermain bola api di atas rata-rata menjadi prestasi yang patut dibanggakan.

Baca juga: Silsilah Prabu Angling Dharma, Lahir Setelah Perang Saudara

Sebelum melakukan atraksi sepak bola api, santri perlu lakukan ritual khusus

Sepak Bola Api, Permainan Ekstrem yang Populer di Pesantren

(foto: tirto)

Pada zaman dahulu permainan sepak bola api juga tidak bisa dimainkan oleh sembarang orang. Hanya orang-orang yang mampu menjalani latihan untuk mengendalikan diri yang bisa memainkannya.

Pasalnya sebelum permainan digelar, para pemain harus mempersiapkan diri dengan ritual atau cara-cara khusus sesuai yang sudah diajarkan oleh guru mereka.

Contohnya adalah para santri yang akan bermain diharuskan berpuasa selama satu bulan, menghindari masakan yang dimasak dengan api, dan membaca doa-doa khusus.

Hal ini sesuai dengan pemahaman yang berkembang di lingkungan para santri, bahwa dalam diri setiap manusia pasti memiliki unsur api.

Siapa pun yang membiarkan dirinya terbakar oleh nafsu maka seluruh sikap, tindakan, dan perilaku akan berpotensi merusak yang dapat menimbulkan kekacauan, disharmoni, dan ketidakstabilan.

Bolanya terbuat dari kelapa kering yang direndam minyak tanah lalu dibakar

Sepak Bola Api, Permainan Ekstrem yang Populer di Pesantren

(foto: kompas)

Seiring berkembangnya waktu, siapa saja dapat memainkan permainan legendaris yang satu ini.

Terlebih saat ini, sudah ditemukan cara-cara yang lebih mudah untuk mencegah para pemain merasakan panas ketika memainkan bola.

Misalnya dengan mengoleskan minyak kelapa ke bagian kaki dan juga tangan yang sering bersentuhan dengan bola api, atau menggunakan ramuan khusus yang membuat tubuh kebal dan tahan panas.

Tradisi yang telah diproduksi serta direproduksi sejak zaman dulu ini menggunakan kelapa kering sebagai bolanya. Kelapa kering sebagai bolanya pertama-tama dikuliti lapisan luarnya dan airnya dibuang terlebih dulu.

Setelah itu direndam di dalam minyak tanah selama beberapa hari agar meresap. Kemudian kelapa itu dibakar saat akan digunakan.

Baca juga: Menguak Keberadaan Suku Mante, Makhluk Misterius di Pedalaman Aceh

Aturan permainannya juga sama seperti sepak bola pada umumnya

Sepak Bola Api, Permainan Ekstrem yang Populer di Pesantren

(foto: beritabaik)

Area bermain biasanya menggunakan lapangan khusus dengan ukuran yang beragam, namun batas maksimal pemain adalah 5 sampai 6 orang per grup. Selain itu, tidak ada batasan waktu untuk permainan ini.

Para pemain dapat menentukan durasi permainan sesuai dengan kesepakatan bersama-sama. Peraturan dan cara bermainnya pun sama dengan sepak bola atau futsal.

Pemain dapat menggiring, menendang, atau bahkan memegang bola api. Bedanya, jika pemain bola pada umumnya menggunakan sepatu khusus, maka pemain bola api hanya bertelanjang kaki selama pertandingan.

Meski dianggap hiburan semata oleh penonton dan pemainnya, namun sebetulnya permainan bola api ini memiliki beberapa manfaat, khususnya melatih santri mengontrol emosi.

Ketika bermain, jika para santri melibatkan emosi, maka bola akan terasa panas. Namun jika tidak, api tidak akan terasa panas.

Biasa ditampilkan dalam acara khusus yang digelar di lingkungan pesantren

 Permainan Ekstrem yang Populer di Pesantren

(foto: republika)

Para santri dapat belajar semangat keberagaman karena permainan bola api saat ini dapat diikuti oleh santri putra maupun putri. Hal ini juga menandakan bahwa tidak ada batasan atau perbedaan di antara dua gender.

Selain itu, dengan tradisi memainkan bola api, para santri juga diharapkan dapat mencintai tanah air dan menumbuhkan semangat jiwa nasionalisme.

Biasanya, sepak bola api dimainkan untuk memperingati acara-acara khusus yang digelar di Pesantren.

Seperti tahun 2016 silam, saat Peringatan Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober di halaman Plaza Masjid Agung Jawa Tengah, ada pertandingan sepak bola api digelar untuk memeriahkan acara.

Namun seringkali para santri juga memainkannya untuk mengisi waktu di malam hari saat bulan Ramadhan.

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.