inspirasi

Seperti Menggantung di Langit, Biara Meteora Dibangun pada Tebing Raksasa

By  | 

Yunani sudah lama menjadi surga dunia untuk para traveler. Bukan hanya karena lanskap kotanya atau keindahan alamnya. Peninggalan bangunan bersejarah di sana juga menjadi magnet tersendiri.

Salah satu situs yang paling mengagumkan di Yunani adalah Meteora yang terletak di kota Kalabaka. Meteora merupakan salah satu kompleks biara Ortodoks bersejarah.

Yang menjadikannya luar biasa adalah posisinya berada di tebing raksasa dan terlihat seolah menggantung di langit.

Baca juga: Raden Saleh, Pelukis Legendaris Indonesia yang Dikagumi Bangsa Eropa

Dibangun di atas pilar batuan dan terbentuk sejak berabad-abad

Seperti Menggantung di Langit, Biara Meteora Dibangun pada Tebing Raksasa

(foto: planetware)

Nama Meteora memiliki banyak arti, misalnya; tinggi, mulia, ditangguhkan di udara, surga di tengah langit, atau batu melayang.

Saat dilihat dari tempat rendah, biara ini seperti sedang terapung di angkasa. Hal itulah yang kemudian menjadi inspirasi namanya.

Keberadaannya di tempat setinggi 313 meter di kaki pegunungan Pindus sudah banyak ditempa oleh alam dalam waktu sedemikian lama.

Diperkirakan oleh para pakar geologi, pilar batuan yang menopang bangunannya sudah terbentuk sejak 60 jutaan tahun lalu. Kemudian pada abad ke-11 biara ini dibangun di atasnya.

Pembangunannya pun memiliki keterkaitan dengan sejarah peperangan berabad-abad dan masih berfungsi sampai sekarang.

Pada tahun 1988 tempat ini menjadi salah satu warisan dunia yang tercatat UNESCO

Tempatnya yang terpencil dianggap paling aman dan sakral untuk beribadah 

Seperti Menggantung di Langit, Biara Meteora Dibangun pada Tebing Raksasa

(foto: reversehomesick)

Sebelum Meteora dibangun, saat itu biarawan dari gereja Ortodoks mencari cara untuk menyikapi tekanan para penguasa.

Tidak hanya soal politis saja, tapi juga untuk menjalankan kegiatan secara sembunyi-sembuyi agar lebih tenang.

Kelompok biarawan kemudian mencari lokasi-lokasi yang aman untuk menjadi tempat ibadah. Tebing tinggi dan pilar batuan pegunungan adalah salah satu tempat pilihan yang tenang dan sakral.

Biarawan pertama kali menempati Meteora pada abad ke-11, tidak lama setelah selesai dibangun. Tapi pengembangan kompleks biara baru dimulai setelah Kekaisaran Ottoman menaklukkan Bizantium tahun 1453.

Karena ada kekhawatiran terhadap posisi Kekaisaran Ottoman, kelompok biarawan dari Gereja Ortodoks pun menjadikan tempat ini untuk berlindung. Tempatnya yang terpencil menjadikan Meteora dirasa paling aman.

Baca juga: Tashirojima Island, Pulau yang Populasi Kucingnya Lebih dari Manusia

Dahulu biarawan perlu memakai tali untuk menuju ke kompleks bangunan biara

Seperti Menggantung di Langit, Biara Meteora Dibangun pada Tebing Raksasa

(foto: shutterstock)

Ada 24 biara yang dibangun di atas pilar batu, tapi tinggal enam yang berfungsi sampai sekarang. Penghuninya kurang dari sepuluh orang di setiap biara.

Untuk menuju ke kompleks biara yang posisinya begitu tinggi, kelompok biarawan perlu memanjat batuan dan menggunakan bantuan tali yang diikatkan beserta jaring besar.

Talinya juga dalam kondisi yang memprihatinkan di banyak sisi. Konon biarawan memiliki pandangan khusus, bahwa tali untuk mengakses Meteora hanya akan diganti pada momen yang filosofis: saat Tuhan berkehendak tali-talinya putus.

Seiring waktu, pada tahun 1920an, pemerintah membangun anak tangga yang diukir di pilar batuan. Bukan hanya untuk biarawan, tapi penduduk dan turis bisa lebih mudah menuju ke puncak biara.

Ada pemandangan yang sangat indah saat mendaki ke atas Meteora

Seperti Menggantung di Langit, Biara Meteora Dibangun pada Tebing Raksasa

(foto: nina-travel)

Untuk pengunjung, ada 700 jalur pendakian yang bisa dilewati. Salah satu jalur yang terkenal adalah Path of the Holy Spirit.

Rata-rata pendakian butuh waktu sekitar 2-3 jam. Selama itulah orang-orang dibuat terpesona setiap menit karena pemandangannya.

Ada anak sungai bersih yang mengalir memecah batuan raksasa. Ada hamparan bunga di sekitar batuan yang tinggi. Sambil mengabadikan momen dalam jepretan, pendakian bisa memakan waktu lebih lama lagi.

Salah satu objek favorit yang sering difoto adalah Monastery of The Holy Trinity atau Agia Triada. Pastinya setiap pengunjung harus memakai baju sopan dan menjaga sikap tenang saat di lingkungan biara.