inspirasi

Raden Saleh, Pelukis Legendaris Indonesia yang Dikagumi Bangsa Eropa

By  | 

Saat Indonesia masih di bawah kekuasaan Belanda, ada sosok pelukis Indonesia yang karyanya sangat dihargai di kancah internasional.

Raden Saleh menjadi salah satu pelukis yang karyanya membanggakan tanah air dan dipamerkan di museum terkenal di Eropa.

Karyanya memang mendunia, tapi masih banyak yang kurang mengetahui namanya sebagai pelopor seni lukis modern di Indonesia.

Meskipun lukisannya bermakna dalam, ada sejumlah kontroversi yang menyangkut karyanya maupun kehidupannya.

Yang jelas, sampai ia meninggal pun karyanya masih dihargai dan diperbincangkan di dunia internasional. Beginilah sosok Raden Saleh dan lukisannya.

Baca juga: Tashirojima Island, Pulau yang Populasi Kucingnya Lebih dari Manusia

Dilahirkan di keluarga yang memberontak pemerintah Belanda

Raden Saleh, Pelukis Legendaris Indonesia yang Dikagumi Bangsa Eropa

(foto: wikimedia)

Raden Saleh atau Saleh Sjarif Boestaman lahir di Semarang tanggal 23 April pada tahun yang belum dapat dipastikan antara 1811 atau 1814.

Tahun lahirnya rancu karena ada perubahan penerapan tahun Jawa/Islam ke tahun Masehi.

Ia merupakan keturunan Jawa ningrat dan masih berdarah Arab dari kakeknya, Kiai Ngabei Kerta Basa atau Abdullah Muhammad Boestaman yang terkenal pemberontak pemerintah Belanda.

Sampai umur 7 tahun ia diasuh Kanjeng Terboyo yang merupakan pamannya. Konon demi menekan upaya pemberontakan dari keturunan keluarga Boestaman, ia dididik oleh seorang warga Belanda yang cukup terpandang di Bogor, G.A.G. Baron van der Capellen.

Menempuh pendidikan seni lukis di Eropa

Raden Saleh, Pelukis Legendaris Indonesia yang Dikagumi Bangsa Eropa

(foto: invaluable)

Bakat seni lukis Raden Saleh sudah terlihat sejak kecil. Karena itu, ia berguru pada seorang pelukis Belgia, A.J. Payen sampai tahun 1826 di Bogor.

Payen meminta pemerintah Belanda memberi beasiswa padanya untuk dapat belajar di Belanda. Permintaan itu dikabulkan tiga tahun kemudian.

Ia makin disiplin melukis dengan pengaruh romantisme abad 19 yang sedang berkembang di Eropa.

Meskipun berbakat, tapi prosesnya dalam berkarya juga panjang. Keahliannya melukis objek alam yang terlihat asli membuat pelukis muda Belanda menganggapnya sebagai saingan.

“Lukisan kalian hanya mampu mengelabuhi kumbang dan kupu-kupu,

tapi lukisanku mampu menipu manusia.” itulah kata-katanya yang terkenal pernah diucapkan pada orang Belanda yang pernah mencemooh karyanya.

Baca: Sejarah W.R. Supratman, Pencipta Lagu Indonesia Raya yang Sempat Terlupakan

Lukisannya banyak menyimpan pesan untuk kehidupan manusia

Raden Saleh, Pelukis Legendaris Indonesia yang Dikagumi Bangsa Eropa

(foto: wdl)

Di balik karyanya yang memukau di abad ke-19, ia sempat dipandang kontroversial.

Jika dilihat dari pesan-pesan dalam lukisannya, ia dinilai banyak melakukan perlawanan pada pemerintah Kolonial dengan lukisannya.

Lukisannya yang indah dan realis banyak bercerita tentang manusia dan kehidupan.

Selain lukisan Pangeran Diponegoro yang ditangkap pemerintah Belanda, lukisan lainnya juga menampilkan pemandangan alam Indonesia, potret Daendels, banjir di Jawa, dan masih banyak lagi.

Werner Kraus dalam bukunya Raden Saleh: Awal dari Lukisan Modern Indonesia mengungkapkan bahwa beberapa karya Raden Saleh sudah memiliki gagasan soal lingkungan yang terancam karena manusia.

Pernikahannya dengan wanita keturunan Eropa dianggap skandal

Raden Saleh, Pelukis Legendaris Indonesia yang Dikagumi Bangsa Eropa

(foto: rscikini)

Setelah 20 tahun tinggal di Eropa, Raden Saleh merasa tidak nyaman saat kembali ke Jawa. Ia ingin hidup sejajar dengan bangsa Eropa.

“Di sini orang hanya bicara tentang gula dan kopi, kopi dan gula.” tulisnya dalam sebuah surat.

Ia pernah menikah dengan Constancia, janda kaya keturunan Jerman di Indonesia.

Setelah ditinggal suami meninggal, Constancia mendapat banyak warisan. Mereka membangun rumah besar di Cikini, Jakarta Pusat.

Saat itu pernikahannya dianggap melewati batas, baik untuk Raden Saleh maupun Constancia. Bahkan pernikahan pria Jawa dan wanita kulit putih dari Eropa dipandang sebagai skandal sosial.

Setelah pernikahan, bisnis manufaktur milik Constancia justru merugi. Akhirnya mereka bercerai sebelum mendapat keturunan.

Raden Saleh pada tahun 1867 menikah lagi dengan RA. Danoediredjo yang merupakan keturunan Keraton Yogyakarta.

Setelah meninggal pada tahun 1880, bekas rumahnya dialihfungsikan jadi Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta.

Saat ini masih ada karyanya yang disimpan di Rijkmuseum, Belanda dan Museum Louvre di Paris, Prancis.

Untuk mengenang hasil karyanya, di bulan September 2011 pernah ada pameran yang menampilkan lukisannya.

Pameran itu digelar di Dresden Jerman dan karyanya masih begitu dikagumi, bahkan oleh  masyarakat mancanegara.