inspirasi

5 Perbedaan Nabi dan Rasul dalam Islam

Penulis:   | 

Sebagian besar umat muslim, mungkin masih belum tahu apa perbedaan nabi dan rasul. Mereka menganggap bahwa nabi dan rasul adalah wujud yang sama. Padahal, kenyataannya adalah tidak semua nabi merupakan rasul.

Nabi dan rasul merupakan makhluk ciptaan Allah sama seperti manusia biasa. Bedanya, mereka merupakan manusia terpilih yang diutus oleh Allah untuk mengajarkan kebaikan di muka bumi.

Walaupun mereka merupakan wujud yang berbeda, namun Allah memerintahkan seluruh umat muslim untuk iman atau percaya akan keberadaannya.

Hal ini dibuktikan dengan adanya rukun iman ke empat yang berbunyi “percaya kepada nabi dan rasul”.

Nabi dan rasul memiliki tugas yang sama, yakni menyerukan kepada umat manusia untuk beriman kepada Allah SWT, dan senantiasa melakukan perintah-Nya.

Lantas, apa perbedaan nabi dan rasul? Berikut adalah penjelasannya.

Baca juga: Sumber Daya yang Menjadi Keunggulan Tiap Negara ASEAN

1. Perbedaan berdasarkan pengertian

Mengenal Perbedaan Nabi dan Rasul dalam Islam

(foto: adobestock)

Nabi berasal dari kata “naba” yang berati “berita”. Artinya adalah bahwa nabi merupakan utusan Allah yang menerima dan memberi kabar atau berita. Kabar tersebut berupa wahyu yang diberi oleh Allah.

Nabi kemudian menerima wahyu tersebut dan menyimpannya untuk diri sendiri. Kemudian, Ia juga memberitahukannya kepada kaum atau umat tertentu.

Seperti firman Allah yang tertulis di dalam surat Al Hijr ayat 49, yang berbunyi:

نَبِّئْ عِبَادِيْٓ اَنِّيْٓ اَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُۙ

Artinya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”

Sementara, rasul merupakan utusan Allah yang mendapatkan wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat manusia.

Rasul berasal dari kata “isral” yang berarti “mengarahkan”. Artinya, Allah mengarahkan para rasul untuk melakukan tugas tertentu. Seperti yang telah tertuang di dalam QS. Al-Mu’minun ayat 45, Allah berfirman:

ثُمَّ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَاۗ كُلَّمَا جَاۤءَ اُمَّةً رَّسُوْلُهَا كَذَّبُوْهُ فَاَتْبَعْنَا بَعْضَهُمْ بَعْضًا وَّجَعَلْنٰهُمْ اَحَادِيْثَۚ فَبُعْدًا لِّقَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ

Artinya: “Kemudian, Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut. Setiap kali seorang rasul datang kepada suatu umat, mereka mendustakannya, maka Kami silihgantikan sebagian mereka dengan sebagian yang lain (dalam kebinasaan). Dan Kami jadikan mereka bahan cerita (bagi manusia). Maka kebinasaanlah bagi kaum yang tidak beriman”.

2. Perbedaan berdasarkan jumlah

Mengenal Perbedaan Nabi dan Rasul dalam Islam

(foto: adobestock)

Di dalam Al Qur’an disebutkan terdapat 25 nama nabi dan rasul. Sehingga, kita sebagai orang awam hanya mengetahui nabi dan rasul sejumlah itu saja.

Di dalam beberapa hadist menyebutkan bahwa jumlah nabi lebih banyak dibanding jumlah rasul. Terdapat 124.000 jumlah nabi, sementara jumlah rasul hanya sebanyak 315 orang saja.

Dalam hadist dari Umamah, Rasulullah bersabda:

قُلتُ: يا رسولَ اللهِ، كم وَفَّى عِدَّةُ الأنبياءِ؟ قال: مِئةُ ألْفٍ وأربعةٌ وعشرونَ ألْفًا، الرُّسُلُ مِن ذلك ثلاثُ مِئةٍ وخَمسةَ عَشَرَ جَمًّا غَفيرًا

Artinya: Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Nabi? Rasulullah menjawab: Nabi ada 124.000 orang dan di antara mereka ada para Rasul sebanyak 315 orang, mereka sangat banyak”.

Terdapat hadist lainnya yang juga menjelaskan tentang jumlah nabi dan rasul ialah dari Abu Dzar, Ia berkata:

قلتُ : يا رسولَ اللهِ ! أيُّ الأنبياءِ كان أولُ ؟ ! قال : آدمُ، قلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ونبيٌّ كان ؟ ! قال : نعم نبيٌّ مُكلَّمٌ، قلتُ : يا رسولَ اللهِ : كم المرسلونَ ؟ ! قال : ثلاثُ مئةٍ وبضعةَ عشرَ ؛ جمًّا غفيرًا

Artinya: “Aku bertanya: wahai Rasulullah, siapa Nabi pertama? Rasulullah menjawab: Adam. Aku bertanya: wahai Rasulullah, apakah beliau (Adam) seorang Nabi? Rasulullah menjawab: benar, ia seorang Nabi yang diajak bicara oleh Allah. Aku bertanya: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah para Rasul? Rasulullah menjawab: 300 sekian belas, mereka sangat banyak”.

Sementara, menurut para ahli ulama, tidak ada hadist shahih yang menjelaskan tentang jumlah nabi dan rasul.

وهذا الذي ذكره أحمد ، وذكره محمد بن نصر ، وغيرهما ، يبين أنهم لم يعلموا عدد الكتب والرسل ، وأن حديث أبي ذر في ذلك لم يثبت عندهم

Artinya: “Ini pendapat yang disebutkan Imam Ahmad, Muhammad bin Nashr dan ulama lainnya. Mereka menjelaskan bahwa tidak diketahui berapa berapa jumlah kitab dan berapa jumlah Rasul. Dan hadits Abu Dzar dalam hal ini tidak shahih menurut mereka” (Majmu’ Al Fatawa, 7/409).

3. Perbedaan berdasar tugas-tugasnya

Mengenal Perbedaan Nabi dan Rasul dalam Islam

(foto: adobestock)

Perbedaan tugas antar nabi dan rasul adalah nabi diutus oleh Allah untuk mengokohkan syari’at Islam yang sudah ada kepada kaum tertentu. Sementara, tugas rasul adalah mengajarkan syari’at baru kepada seluruh umat.

Rasul ditugaskan untuk memberikan contoh perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi suri tauladan bagi umatnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21.

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21).

Mengenai tugas-tugas para nabi dan rasul,
Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian” (QS. Al-Anbiya: 25).

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’” (QS. An-Nahl: 36).

Baca juga: Mengenal Bridal Shower, Fakta Menarik Serta Inspirasi Tema

4. Perbedaan berdasarkan kitab

berdasarkan kitab

(foto: adobestock)

Mengingat tugas nabi hanya untuk mengokohkan syari’at Islam yang sudah diajarkan oleh para pendahulunya, sehingga nabi tidak diberi kitab. Sementara, tugas rasul adalah mengajarkan syari’at baru sehingga diberi kitab oleh Allah yang digunakan sebagai pegangan.

Sehubungan dengan hal ini, Allah berfirman dalam surat Al Madinah ayat 44, yang berbunyi:

اِنَّآ اَنْزَلْنَا التَّوْرٰىةَ فِيْهَا هُدًى وَّنُوْرٌۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّوْنَ الَّذِيْنَ اَسْلَمُوْا لِلَّذِيْنَ هَادُوْا وَالرَّبَّانِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوْا مِنْ كِتٰبِ اللّٰهِ وَكَانُوْا عَلَيْهِ شُهَدَاۤءَۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗوَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ

Artinya: “Sungguh, Kami yang menurunkan Kitab Taurat; di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan Kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir”.

5. Perbedaan berdasarkan statusnya

berdasarkan statusnya

(foto: adobestock)

Nabi dan rasul memiliki perbedaan dalam hal status. Setiap rasul adalah nabi, namun setiap nabi tidak semuanya rasul.

Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang mengatakan: “Semua rasul adalah nabi, namun tidak semua nabi adalah rasul.” (Majmu’ Fatwa 10/209).

Perlu diketahui bahwa diantara para rasul, terdapat 5 rasul yang memiliki gelar istimewa Ulul Azmi, yakni seseorang yang memiliki kesabaran, ketabahan, dan tekad yang kuat dalam menyebarkan ajaran agama Islam walau begitu banyak ujian yang datang.

Ke lima rasul tersebut adalah nabi Nuh AS, nabi Ibrahim AS, nabi Musa AS, nabi Isa AS, dan terakhir adalah nabi Muhammad SAW.

Kisah para nabi ulul azmi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat 5 nabi atau rasul yang memiliki gelar ulul azmi. Namun sebelumnya, apa sih yang dimaksud dengan ulul azmi?

Ulul azmi berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yakni “ulul” yang berarti “memiliki atau mempunyai”. Sementara, “azmi” yang berarti “tekad atau keteguhan hati yang kuat”

Berdasarkan istilah, ulul azmi memiliki arti yakni seorang utusan allah yang memiliki ketabahan. Keuletan, dan kesabaran, dan kesabaran dalam menjalankan tugasnya walau diuji dengan berbagai macam rintangan.

Imam Thahir bin Asyur di dalam kitabnya At-Tahrir wat Tanwir berkata:

وَأولُوا الْعَزْمِ: أَصْحَابُ الْعَزْمِ، أَيِ الْمُتَّصِفُونَ بِهِ، وَالْعَزْمُ، نِيَّةٌ مُحَقَّقَةٌ عَلَى عَمَلٍ أَوْ قَوْلٍ دُونَ تَرَدُّدٍ] اهـ.

“’Ulul Azmi’ adalah orang-orang yang memiliki azam, yakni orang-orang yang diberi sifat azam. Sedangkan azam adalah niat yang dinyatakan dengan perbuatan atau ucapan yang tidak (akan) ditolak.”

Ulul azmi dalam tafsir Al-Jalalain adalah:

فَاصْبِرْ﴾ على أذى قومك ﴿كَمَا صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ﴾ ذَوُو الثَّبَات وَالصَّبْر عَلَى الشَّدَائِد

“Maka bersabarlah” atas gangguan kaummu ‘sebagaimana ulul azmi bersabar’, yakni orang-orang yang memiliki sifat teguh dan sabar atas beban-beban.”

Para nabi bergelar ulul azmi tersebut memiliki kisah masing-masing dengan tingkat kesabaran dan ketabahan yang bisa dikatakan di luar batas kemampuan manusia. Untuk lebih lengkapnya, simak berikut ini.

1. Nabi Nuh AS

Nabi Nuh merupakan salah satu nabi yang memiliki kesabaran dan ketabahan luar biasa dalam menghadapi rintangan saat melakukan dakwah.

Bahkan, rintangan dan halangan tersebut tidak hanya berasal dari kaum kafir, melainkan juga berasal dari keluarganya sendiri.

Di usia yang menginjak 900 tahun, beliau menghabiskan banyak waktunya untuk berdakwah tentang kemuliaan agama Islam.

Namun, sebagian besar dari umatnya justru mengingkarinya, termasuk istri dan anaknya yang bernama Kan’an.

Tidak hanya mengingkari, mereka juga berniat ingin membunuh Nabi Nuh namun selalu gagal. Walau demikian, beliau tetap melanjutkan dakwahnya untuk menyebarkan agam Islam.

Hingga pada suatu hari, Nabi Nuh mendapatkan wahyu dari Allah SWT untuk membuat sebauah perahu yang sangat besar. Bukan tanpa maksud, perahu tersebut nantinya akan digunakan untuk menyelamatkan dirinya dan juga umatnya yang taat.

Pada saat membuat perahu tersebut, banyak orang-orang yang ingkar menyebut beliau sebagai orang gila. Sebab, beliau membuat perahu di tengah hutan yang jauh dari laut maupun sungai.

Namun, nabi Nuh tidak memperdulikan olokan tersebut. Beliau tetap mengerjakan perahu tersebut sampai selesai, dibantu oleh pengikutnya yang setia.

Beberapa waktu berlalu, kapal nabi nuh telah selesai dibuat. Dengan selesainya kapal tersebut, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan mengirim air bah yang snagat besar, hingga mampu menenggelamkan seluruh isi desa dan hutan.

Seluruh orang-orang ingkar tenggelam. Sebagian besar dari mereka memohon ampun, namun semua sudah terlambat.

Nabi Nuh beserta pengikutnya yang setia, serta binatang yang berpasang-pasangan selamat dari terjangan air bah. Sebab, mereka berlindung di dalam perahu besar.

Betapa pedihnya harti nabi nuh tatkala melihat anak dan istrinya juga tenggelam diantara orang-orang yang ingkar. Saat beliau meminta mereka untuk naik, tapi mereka tetap menolak, yang akhirnya membuat mereka tenggelam dan mati.

2. Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim merupakan ayah dari nabi Ismail. Terdapat banyak kisah dari beliau yang bisa dijadikan sebagai motivasi.

Terdapat dua kisah nabi Ibrahim yang cukup menjadi bukti bahwa beliau pantas mendapat elas sebagai nabi ulul azmi, yakni ketika menghancurkan berhala dan saat diperntah Allah untuk menyembelih nabi Ismail.

Nabi Ibrahim pernah menentang ayah kandungnya yang bernama Azar, yang merupakan pembuat patung berhala yang digunakan untuk menyembah oleh kaum kafir.

Dikisahkan, ada raja kejam yang bertitah dengan sewenang-wenang terhadap seluruh rakyatnya. Nabi Ibrahim diutus untuk mengajak orang-orang untuk beriman kepada Allah dan meninggalkan berhala.

Tentu saja, sebagian besar dari mereka menolak. Akan tetapi, nabi Ibrahim tidak pernah putus asa dan tetap melanjutkan dakwahnya dengan menggunakan kecerdasan yang dimiliki.

Saat raja Namrud pergi untuk melaksanakan upacara, nabi Ibrahim segera menghancurkan parung-patung berhala tersebut menggunakan kapak. Kemudian, beliau meletakkan kapak tersebut di tangan patung berhala yang memilki ukuran paling besar.

Tujuannya, agar orang-orang menganggap bahwa yang menghancurkan parung-patung tersebut adalah patung berhala besar yang mereka yakini sebagai Tuhan.

Namun, raja Namrud tidak mempercayainya. Ia memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mencari siapa yang melakukan perbuatan tersebut dan akan dihukup seberat-beratnya, yakni dibakar hidup-hidup.

Akhirnya, nabi Obrahim ditemukan. Kemudian, beliau dihukum dan dibakar. Namun, berkat kekuasaan Allah, api yang membakar beliau menjadi dingin. Sehingga, beliau tidak apa-apa saat dibakar.

Melihat hal tersebut, sebagian besar orang yang sedang menyaksikan hukuman nabi Ibrahim, akhirnya menjadi pengikut beliau dan beriman kepada Allah SWT.

3. Nabi Musa AS

Nabi Musa merupakan nabi ulul azmi yang sangat sabar dalam mengahadapi kaum Bani Israil, yang mana sangat dikenal dengan kaum pembangkang.

Tidak hanya itu, beliau harus menghadapi seorang raja yang mengaku sebagai Tuhan, ialah raja Fir’aun.

Sebelum nabi Musa lahir, raja Fir’aun memerintahkan seluruh parajuritnya untuk membunuh bayi laki-laki yang baru saja lahir. Sebab, ia bermimpi bahwa akan ada anak laki-laki yang akan membunuhnya kelak.

Pada saat ibunda nabi Musa melahirkan, beliau sangat takut kalau nanti bayinya akan dibunuh. Akhirnya, beliau menghanyutkan nabi Musa yang masih bayi ke sungai Nil.

Beruntungnya, nabi Musa ditemukan oleh istri Fir’aun yang bernama Aisyah. Berbeda dengan suaminya, Aisyah merupakan sosok ratu yang sangat baik.

Kemudian, aisyah membawa bayi tersebut pulang dan memohon kepada suaminya untuk diangkat menjadi anak. Dengan keteguhan hati aisyah dalam memohon, akhirnya Fir’aun mengabulkannya.

Saat nabi Musa menginjak usia dewasa, beliau diangkat menjadi nabi dan diutus untuk berdakwah kepada kaum Bani Israil.

Fir’aun merasa sangat cemas. Kemudian ia menantang nabi Musa untuk adu kekuatan. Akhirnya nabi Musa menang.

Merasa tidak terima, Fir’aun memerintahkan prajuritnya untuk menangkap nabi Musa. Hingga sampailah mereka di tengah laut yang ternyata sudah dibelah oleh nabi Musa. Tongkat tersebut merupakan mukjizat dari Allah.

Setelah beliau melewati lautan dan berhasil menepi, kemudian beliau mencabut tongkatnya. Setelah tongkat tersebut dicabut, maka lautan kembali menyatu sehingga Fir’aun dan pengikutnya tenggelam.

4. Nabi Isa AS

Nabi Isa merupakan nabi yang lahir dari rahim Siti Maryam tanpa seorang ayah. Padahal, Sity Maryam dikenal sebagai seorang wanita yang solehah dan taat kepada Allah, sehingga tidka mungkin beliau hamil tanpa memiliki seornag suami.

Namun, hal tersebut merupakan mukjizat yang diberikan oleh Allah. Semua orang tidak percaya dan menganggap anak yang dikandung adalah anak haram dan hasil dari perbuatan zina.

Saat nabi Isa lahir, Allah memberikan mukjizat untuk kedua kalinya, yakni membuat nabi Isa bisa berbicara sehingga bisa menjelaskan kepada semua orang apa yang terjadi.

Ketika dewasa, nabi Isa diangkat menjadi nabi untuk berdakwah dan mengajarkan tauhid kepada orang-orang yang tersesat. Namun, banyak dari mereka justru menghina dan mencacii maki. Meskipun demikian, beliau tetap sabar dan tetap melanjutkan dakwahnya.

Pada suatu hari, ada salah satu sahabat beliau yang bernama Yahuda berkhianat dan mendapatkan banyak pengikut. Hingga pada puncaknya, nabi Isa ditangkap dan akan dibunuh dengan cara disalib.

Akan tetapi, atas izin dan kekuasaan Allah, nabi Isa diselamatkan oleh Allah dengan cara menggantikan tubuhnya dengan sahabatnya yang berkhianat.

Akhirnya, orang yang disalib adalah si penghianat dan bukan nabi Isa.

Allah memberikan nabi Isa mukjizat yakni dapat menyembuhkan orang buta, menghidupkan burung yang terbuat dari tanah, menghidupkan orang yang sudah mati, serta dapat menurunkan semua hidangan.

5. Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad merupakan nabi dan rasul terkahir yang menjadi panutan bagi seluruh umat muslim di dunia.

Beliau merupakan seorang nabi yang masuk ke dalam golongan nabi ulul azmi karena memiliki kesabaran dan ketabahan yang sangat besar ketika di cacai dan dihina oleh kaum Quraisy.

Nabi Muhammad merupakan seorang yang sangat jujur dan dapat dipercaya. Hal tersebut dibuktikan dengan julukan yang diberikan kepada beliau yakni sebagai Al-Amin yang artinya dapat dipercaya.

Ketika memasuki usia yang ke-40 tahun, beliau diangkat menjadi rasul dan dijelaskan pula bahwa beliau merupakan nabi dan rasul terakhir.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Quran dalam surat A-\l-Ahzab ayat 40, yang berisi:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا

Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi, dan Allah-lah Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS al-Ahzab: 40).

Nabi Muhammad memiliki keluarga yang juga menentang ajarannya, diantaranya Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sufyan. Tidak hanya dari keluarga, para pemimpin kaum Quraisy juga ikut menentang beliau dalam mengajarkan agama Islam.

Akhirnya, nabi Muhammad memutuskan untuk berhijrah dari kota Mekkah menuju kota Madinah. Namun, karena kekuasaan Allah, akhirnya beliau dan para sahabat serta pengikutnya, berhasil menaklukkan kembali kota Mekkah.

Mukjizat yang dimiliki nabi Muhammad adalah Al-Quran, yang merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat muslim.

Karena keteguhan, kesabaran, ketabahan, dan keuletan nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya banyak orang yang mengikuti ajarannya dna memeluk agama Islam hingga detik ini.

Demikianlah penjelasan mengenai perbedaan nabi dan rasul yang wajib diketahui. Sebaiknya, kita selalu mengikuti ajaran nabi dan rasul dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, mereka merupakan suri tauladan bagi seluruh umat.

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.