travel

Menilik Geliat 10 Pesona Wisata Palu yang Tengah Bersolek Kembali

By  | 

Nama Palu sebagai tujuan wisata mungkin belum setenar kawasan ibukota provinsi lainnya, seperti Manado atau Makassar. Padahal, Palu memiliki kekayaan kenampakan alam mulai dari lembah, sungai, pegunungan, hingga teluk.

Namun, bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi yang sempat melanda Palu pada tahun 2018 lalu, sedikit banyak berpengaruh pada kondisi pesona indahnya alam Palu, terutama pada wilayah pantainya.

Namun, seperti banyak orang bilang, di balik musibah pasti ada hikmahnya. Mungkin, inilah yang dirasakan Palu, karena proses perbaikan dan pembangunan kembali kota ini, justru membuat Palu mulai banyak memiliki wajah baru dalam bidang pariwisatanya yang semakin menggiurkan untuk dikunjungi.

Menariknya, beberapa kawasan wisata yang terdampak tsunami, meskipun belum ditangani kerusakannya, justru sebagian semakin mengeluarkan keindahanya tersendiri. Inilahyang disebut anugrah dari bencana yang terjadi.

Yuk! kita intip apa saja sih objek wisata di Palu yang hingga kini pesonanya tidak hilang.

Baca juga: Pesona 7 Objek Wisata Kendari, Ibukota Sulawesi Tenggara yang Menyimpan Banyak Potensi Wisata

1. Mengagumi indahnya Pantai Talise, magnet wisata Kota Palu

Pantai Talise

(foto: instagram/soal_sulteng_)

Kota Palu juga pantai mempesona yang patut dikunjungi, namanya Pantai Talise. Pantai yang berlokasi tepat berhadapan langsung denga Teluk Palu ini, menawarkan pemandangan pasir putih yang cantic dengan deburan ombak yang menyapa lembut.

Pantai Talise beralamat di Jl. Cut Mutia. Palu, Sulawesi Tengah. Kenyamana berwisata kamu di Pantai Talise dapat cukup terjaga, dikarenakan beberapa fasilitas sudah didirikan di sini.

Nama Pantai Talise, diambil ari Bahasa Kaili, yang berarti ketapang. Disebabkan, dahulunya di area pantai ini disebut-sebut banya ditumbuhi pepohonan Ketapang. Panorama di Pantai Talise yang tak kalah memukau lainnya adalah pemandangan perbukitan yang berada di sekitarnya.

Beberapa olahraga air, dapat menjadi alternatif pilihan kamu dalam menghabiskan waktu di pantai ini. Seperti berenang, memancaing, sky air, selancar angin hingga menyelam menikmati alam bawah lautnya.

Sementara itu menikmati sunset maupun sunrise menjadi pemandangan menakjubkan lainnya yang membuatmu betah berlama-lam di Pantai Talise. Kemudahan akses dalam mencapai pantai ini, menjadikan Pantai Talise juga akan mudah untuk kamu jamahi.

Lampu-lampu warna-warni dari perahu nelayan yang sedang berlayar di malam hari di tengah laut, membuat pesona Pantai Talise sendiri tak akan terbantahkan.

Kamu juga bisa menikmati pemandangan laut malam yang disirami cahaya bintang yang gemerlapan di atasnya dengan menikmati berbagai penganan nikmat pilihan yang banyak dijajakan di area pantai.

2. Melihat keagungan Masjid Apung Palu, saksi bisu dahsyatnya tsunami Palu

Masjid Apung Palu

(foto: instagram/cing_iko)

Sejak bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi melanda Sulawesi Tengah, Kota Palu juga terus berusaha bangkit dari keterpurukan. Salah satunya, dengan menjadikan beberapa kawasan sebagai tujuan wisata. Seperti halnya Masjid Arkham Babu Rahman atau yang dikenal Masjid Apung Palu.

Masjid ini menjadi salah satu saksi bisu akan ganasnya bencana tsunami yang melanda. Masjid yang nampak ikonik terapung di tepian pantai setelah tsunami melanda ini. Diputuskan pemerintah akan dijadikan kawasan objek wisata.

Masjid Apung, yang sebelum bencana memang sudah menjadi ikon Teluk Palu ini, tepatnya berada di Jl. Rono, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Pendirian masjid ini sendiri, sebagai bukti untuk mengenang jasa dari seorang datuk bernama Syekh Abdullah atau yang dikenal sebagai Datuk Karama.

Masjid Apung Palu ini, berada di garis pantai dengan panjang 43 kilometer serta luas perairan dari Teluk Palu yaitu 10.066 hektare.

Berdiri di tepian pantai, Masjid Apung disangga oleh pilar-pilar yang panjangnya menancap hingga 10 meter ke dalam laut dengan jembatan yang menghubungkan daratan dengan masjid. Jika air laut surut, 25 pilar penyangganya tersebut akan terlihat.

Istimewanya, maskipun pilar-pilar tersebut rusak diterjang ombak, namun bentuk bangunan Masjid Apung sendiri sama sekali tidak banyak mengalami kerusakan. Meskipun, memang belum dapat kembali difungsikan sebagai tempat beribadah.

Keindahan masjid ini, dahulunya dapat terlihat ketika malam hari. Dimana, dari kubahnya akan memencarkan cahaya dengan 7 warna yang berganti-ganti setiap detiknya. Setelah terdampak tsunami, jembatan yang menghubungkan daratan dengan masjid ini roboh dan hilang.

Sehingga, masyarakat hanya bisa memperhatikan bangunan masjid tersebut di bibir pantai, dengan kondisi bangunan yang sedikit miring. Meskipun begitu, Masjid Apung masih terlihat menarik dan ikonik untuk dijadikan latar foto.

3. Menikmati indahnya kenampakan alam Palu dari ketinggian di Tugu Perdamaian Nosarara Nosabatutu

Tugu Perdamaian Nosarara Nosabatutu Palu

(foto: instagram/ rudinandryatma)

Berada di kawasan perbukitan tepatnya di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mentikulore, Palu, Tugu Perdamaian Nosarara Nosabatutu, tak hanya dikunjungi karena bentuk bangunannya yang instagrammable saja, tetapi juga lokasinya yang masih asri dan sejuk untuk dikunjungi.

Selain itu letaknya yang berada tak jauh dari pusat kota, membuat wisatawan juga lebih banyak berdatangan karena kemudahan untuk mengakses lokasinya.

Dari tempatnya yang berada di ketinggian inilah, kamu juga dapat menikmati panorama alam keseluruhabn Kota Palu yang disertai dengan lanskap pegunungan, yang nampak tampak indah ketika sunrise maupun sunset.

Tugu perdamaian yang diresmikan sejak tahun 2014 lalu ini, dibangun sebagai lambang yang menunjukkan persatuan dan perdamaian dari masyarakat Sulawesi Tengah pasca konflik poso yang berlangsung pada tahun 1998-2000.

Tugu perdamaian ini dibangun diatas Monumen Nosarara Nosabatutu yang merupakan bangunan dengan tiga lantai dan memiliki ketinggian hingga 800 meter persegi.

Nosarara Batutu, merupakan semboyan yang diambil dari bahasa asli masyarakat Sulawesi Tengah, yang memiliki arti “Kita Bersaudara, Kita Bersatu” semboyan ini jugalah yang menjadi penguat kesatua ragam suku dan ragam pemeluk agama yang ada di Sulawesi Tengah.

Selain tugu perdamain spot foto ikonik lainnya, yang dapat kamu coba adalah di area tempat Gong Perdamaian berada. Gong ini berwarna kuning dan berdiameter 2 serta memiliki berat 180 kilogram.

Pada gong, digambarkan peta Indonesia, yang mana pada bagian tengah menunujukkan symbol perdamaian dan persaudaraan dari lima agama di Indonesia yakni Islam, Kristen, Hindu, Budha,  dan konghucu yang berada pada lingkaran kedua.

Sementara pada lingkaran ketiga, dilambangkan keberadaan 33 provinsi di Indonesia. Kamu juga bisa melanjutkan kegiatan dengan bersantai di perbukitan kawasan ini di Taman Bersantai hingga Cottage yang tersedia.

4. Mengujungi spot wisata instagenic, di wisata Sate Mobil

Sate Mobil Palu

(foto: instagram/chesyellow57)

Objek wisata Sate Mobil yang berada di Bukit Indah Kanuna, Donggal Kodi, Palu ini tengah banyak digandrungi oleh para wisatawan. Letaknya yang berada di tengah lahan kosong yang luasnya 20 hektar ini, menjadi begitu ikonik untuk dijadikan spot foto instagenic yang sedang banyak diburu orang.

Objek wisata ini dibangun oleh salah seorang warga yang memang pencinta mobil. Bahkan, ia sudah merencanakan idenya membangun Sate Mobil, sejak tahun 1987.

Ada beberapa sate mobil yang dapat kamu lihat di sini, antara lain sate mobil yang berjumlah delapan tumpukkan mobil hingga yang berjumlah tujuh. Mobil-mobil yang disusun layaknya bangunan tinggi ini, merupakan mobil bekas.

Yang kemudian sengaja diberi warna yang beragam dan disangga oleh semacam tiang yang membuatnya terlihat seperti sate. Tak hanya keberadaan sate mobil saja, di area ini juga terdapat beberapa mobil antik yang sengaja dipamerkan.

Salah satu mobil antik yang cocok kamu jadikan latar foto ala vintage, adalah mercy yang merupakan keluaran sekitar tahun 1950an. Ada juga mobil morris serta beberapa motor antik yang juag nampak kental dengan nuansa kuno.

Objek wisata yang dibangun oleh pengoleksi mobil hingga motor antik bernama Tadjuddin Lantagi ini, semakin terasa menyenangkan dengan lanskap alam menakjubkan yang melatarinya.

Udara sejuk dari angin semilir di pegunungan sekitar membuatnya terasa segar. Kamu juga dapat menikmati beberapa menu kuliner yang dijual di restoran sekitarnya.

5. Pesona tersembunyi dari Danau Sibili, tersembunyi di dekat pelabuhan

Danau Sibili Palu

(foto: instagram/entyfauzia)

Kota Palu juga menyimpan keindahan danau yang bernama Danau Sibili. Letaknya yang berada di Pelabuhan Pantoloan memberikan kesejukan alam tersendiri di tengah aktivitas masyarakat yang banyak melalukan bongkar muat barang di pelabuhan.

Meskipun tidak luas, namun pesona danau ini cukup memberi kedamaian bagi para pengunjung. Alamnya yang tenang serta tumbuhan-tumbuhan alami yang masih memenuhi area ini, membuat Danau Sibili masih memancarkan kesejukan alam mnan asri yang memanjakan.

Beberawa aktivitas hewan unik dapat kamu jumpai juga di sini. salah satunya, keberadaan Burung Kareo Padi. Burung jenis ini, memiliki bentuk kaki yang jenjang serta jemari yang panjang.  Sesekali burung ini akan muncul menyembul dari area berlumpur.

Paruhnya yang panjang, digunakan untuk mendeteksi keberadaan mangsa di dalam lumpur yang berarir. Sesekali kepanya juga menegadah untuk memastikan tak ada predator yang akan menghampirinya.

Jika dirasa aman, burung ini akan kembali sibuk mematok lumpur yang biasanya tersembunyi di balik semak belukar. Ada pula jenis burung-burung lainnya seperti Burung Kutilang hingga Burung Bondol Rawa.

Kekayaan akan burung-burung liar yang terdapat di Danau Sabili, menjadikannya pesona wisata yang menyenangkan untuk dikunjungi.

Keberadaan danau di antara rindangnya pepohonan yang menyelip di antara panas teriknya Pelabuhan Pantoloan, menjadi sumber udara segar tersendiri bagi kawasan ini.

Keindahan danau yang ternyata masih sedikit terjamah oleh wisatawan ini, akan semakin memancar ketika senja tiba dan mentari meninggalkan langit sore dengan perpaduan warna oranye yang mengagumkan.

Baca juga: 10 Destinasi Wisata Favorit Saat Liburan ke Palangkaraya

6. Menelusuri jejak kehidupan keluarga kerajaan di Palu, melalui rumah Banua Oge (Sou Raja)

Banua Oge (Sou Raja) Palu

(foto: instagram/jibonnajib)

Berkunjung ke Banua Oge (Spu Raja) di Kota Palu, akan membawau ke objek wisata budaya di ibukota Sulawesi Tengah ini.  Bangunan berbentuk rumah adat dari Suku Kaili yang dahulunya bertempat tinggal di Lembah Palu. Sebagai cagar budaya, situs bersejaraj Banua Oge menjadi bukti peninggalan Kerajaan Siranindi.

Kawasan ini dahulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Siranindi di dalam lingkungan patanggota. Bangunan ini, didirikan oleh Raja Palu Jodjokadi sekitar tahun 1892.

Rumah adat ini berbentuk rumah panggung pelana, dengan terdapatnya tangga di depan yang berjumlah dua, berada di sisi kanan serta kiri rumah.

Memasuki dalam rumah Banua Oge, kamu masih dapat menemukan benda-benda peninggalan kerajaan. Seperti pada ruang tamu, terdapat foto anggota keluarga kerajaan, serta sebuah mesin jahit yang usianya diperkirakan sudah puluhan tahun.

Sementara bangunan ini sudah berusia kurang lebih ratusan tahun, kamu masih bisa merasakan kekohan hingga bentukya yang nampak tidak banyak berubah sejak bangunan ini didirikan.

Meskipun, sebenarnya sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Bangunan Banua Oge juga diangap keramat karena dahulunya ditinggal raja hingga bangsawan.

Kamu juga masih bisa melihat kamar tidur kerajaan, kursi goyang, hinga benda-benda antic lainnya di dalam rumah. Setelah selesai berkeliling rumah, kamu diberikan semaca, penghargaan berupa dioleskannya minyak ramuan miliki Suku Kaili, di bagian tangan yang menyisakan keharuman.

Banua Oge ini dapat kamu kunjungi di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Letak Bangunan Banua Oge ini berdekatan dengan jembatan kuning yang menjadi ikon Kota Palu.

7. Berfoto di antara pepohonan eksotis ala Eropa di Taman Hutan Kota Jabal Nur Palu

Taman Hutan Kota Jabal Nur Palu

(foto: instagram/jibonnajib)

Palu punya objek wisata baru, yang semakin populer setelah terjadinya bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi pada tahun 2018 lalu.

Berlokasi tidak jauh dari pusat Kota Palu, yaitu tepatnya di Jl. Jabal Nur, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, kawasan wisata satu ini berupa Taman Hutan Kota Kaombona yang oleh warga setempat disebut juga  Taman Pasigala Salonde.

Berada di hutan ini, kamu akan dimanjakan dengan wujud pohon-pohonnya yang unik, bagaikan jajaran pohon yang ada di Eropa.

Pohon-pohon yang ditanam di sini merupakan sisa dari pohon-pohon yang dahulunya ditanami oleh mendiang Tien Suharto. Keunikan pohon di sini disebabkan karena dedaunan pohonnya sudah mengering, namun tetap meninggalkan batang dan ranting yang masih terlihat dalam kondisi hidup.

Sehingga, batang-batang pohon ini masih nampak berdiri kokoh, meskipun daun-daunnya nampak gundul. Justru, inilah daya tarik pepohonan di sini yang membuatnya ramai dikunjungi wisatawan yang datang untuk berfoto ala di Eropa di gugur.

Tak hanya pepohonan dengan daun gundul yang eksotis, di Taman hutan kota ini juga terdapat kumpulan tanaman kaktus yang ukurannya besar. Membuatnya nampak begitu artistik dan menjadi salah satu spot andalan dari lokasi ini.

Pemerintah pun dalam rangka melakukan perbaikan akibat bencana, terus membenahi area wisata ini. Kini, beberapa wahana dan fasiltas rekreasi juga dapat kamu nikmati ketika berkunjung ke sini, mulai dari lapangan futsal dan basket, arena bermain ATV, hingga area bermain skateboard. Beberapa kafe juga sudah mulai ramai memenuhi kawasan wisata ini.

8. Menyusuri jembatan ke tengah laut, menikmati panorama Pantai Taipa yang mengagumkan

Pantai Taipa Palu

(foto: instagram/ivan_jonadie)

Objek wisata pantai lainnya di Kota Palu yang juga menjadi primadona tersendiri bagi masyarakatnya, adalah Pantai Taipa. Untuk dapat berkunjung ke Pantai Taipa kamu dapat menemukannya di desa Talipa, Kecamatan Palu Utara.  Fasilitas untuk para wisatawan di sini juga terbilang cukup lengkap.

Mulai penginapan, gazebo untuk sekadar bersantau menikmati angin di pantai dan melihat cantiknya deburan ombak, hingga danau buatan yang juga tampak indah.

Dahulunya, pantai ini juga dilengkapi dengan area kolam renang yang memiliki air mancur, wahana bermain, serta beberapa kafe yang menawarkan menu makanan pilihan. Beberapa ruangan untuk acara-acara tertenju juga tersedia. Seperti ruang rapat dan ruang pesta untuk pengantin.

Keindahan alam bawah laut dari pantai ini juga patut dijelajahi. Meskipun pasca bencana Palu area pantai banyak mengalami kerusakan, namun kamu masih bsa menikmati kehidupan di bawah lautnya.

Selain itu, berkunjung ke sini kamu juga akan merasakan suasan pantai yang masih bersih serta asri. Disertai pepohonan rindang yang menambahkan kesegaran udara yang kamu hirup di pantai ini.

Di depan pantai kamu juga dapat dengan cukup jelas memandangi lukisan alam Sang Pencipta berupa kenampakan Gunung Gawalise. Dahulunya, Pantai Taipa juga dilengkapi dengan rumah-rumah kayu tempat bersantai, yang banyak bejajar di bibir pantainya.

Namun, sayang seiring dengan dampak bencana yang disebut sebagai kawasan pantai terparah kerusakannya, beberapa fasilitas pantai salah satunya rumah kayu tersebut sudah sirna. Meskipun begitu, pemerintah sejak awal tahun 2019 sudah berusaha terus melakukan perbaikan pada kawasan Pantai Taipa ini.

9. Belajar mencintai alam melalui karya seni, di  Rumah Hutan Drupadi

Rumah Hutan Drupadi Palu

(foto: instagram/jesznat)

Rumah Hutan Drupadi berdiri di hutan tepat di belakang Universitas Tadulako. Rumah ini berdiri sebagai wujud kecintaan akan lingkungan, khususnya akan kesehatan hutan yang saat ini semakin banyak terjadi penebangan liar di sekitarnya.

Menariknya, di rumah kecil ini kamu akan menemukan berbagai tulisan berupa kampanye mengenai kepedulian pada kelestarian hutan, khususnya di Kota Palu. Oleh karena itu, rumah yang dibangun pada tanggal 24 Agustus 2014 lalu ini, seringkali menjadi objek latar foto bagi para pengunjung yang datang ke tempat ini.

Tak hanya itu, di tempat ini pula bahkan sempat diadakan Komunalisme Festival 2015. Berbaga pertunjukan film, music painting, serta art perfomence, hingga kegiatan jual beli-kaya, membuat keberadaanya rumah pohon ini seru untuk disambangi.

Selain keberadaannya sebagai wujud kampanye terhadap kecintaan lingkungan, Rumah Hutan ini juga menjelma menjadi sebuah ruang ekspresi seni. Saat kamu masuk ke dalam rumah tersebut kamu akan melihat berbagai batag poho serta kayu-kayu sisa.

Udara di sekitar kawasan Rumah Pohon Dripadi ini juga masih asri. Membuat kamu seakan menepi sebentar dari polusi udara kota yang menjemukan. Sebuah motto dari rumah ini yang terpajang di salah satu dinding, menyita banyak perhatian pengunjung. Motto ini berbunyi “Merimba di Tengah Betonisasi”.

Di sekitar rumah pohon ini, pengelolanya terus berusaha menjaga lingkungannya, bercocok tanam, serta upaya lainnya dalam rangka menjaga kehijauannya.

Ketika pembangunan Rumah Hutan Drupadi ini, dilibatkan banyak seniman di dalamnya. Rumah ini pun dibebaskan untuk siapapun seniman yang ingin mengekspresikan art projects miliknya.

Di dalam rumah ini, beberapa lukisan milik seniman Palu banyak dipamerkan, seperti Rio Oszcar, Eno Cafzur, Otenk Botak, Endeng Mursalin, FJRX, dan masih banyak lainnya. Latar artistic rumah hutan sederhana inilah yang membuatnya memiliki daya pikat berbeda dari objek wisata Palu lainnya.

Berkunjung ke rumah hutan ini, kamu akan diajarkan untuk lebih mencintai lingkungan, sekaligus wisata pameran seni dengan nuansa alam yang membuatnya istimewa.

10. Wisata edukasi sekaligus wisata foto di Bright Gas Taman Wisata Tanggul Nosarara 

Bright Gas Taman Tanggul Nosarara Palu

(foto: instagram/asrinurrahman_abdullah)

Terletak di pinggir bantaran sungai Palu, membuat objek wisata ini menawarkan aktivitas memancing yang banyak disuguhkan dengan kehadiran ikan-ikan tawar yang berenang di tanggul ini. Objek wisata ini, hanya berjarak 2,4 kilometer dari pusat Kota Palu.

Objek wisata memancing di bantaran sungai ini, menjadikan masyrakat sekitarnya akan lebih sadar untuk menjaga kelestariannya. Untuk mewujudkan tujuan menjadi objek wisata yang menarik, maka bantaran singai tersebutpun telah disulap sedemian rupa sehingga dapat menarik banyak wisatawan.

Berada di dekat Tugu Nosarara Batutu, menjadikan tanggul ini masih berada di area perbukitan tinggi. Sehingga, kamu masih bisa menyaksikan panorama alam Kota Palu yang menakjubkan dari sini. di tempat ini pua,

Pada tahuan 2018 dilakukan kerjasama denga Pertamina, mewujudkan objek wisata berupa “Nosarara Bgright Gas” hingga dapat turut serta menjadi sarana promosi pemerintah dalam memperkenalkan lebih luas gas nonsubsidi yang memiliki berat 5,5 kg atau yang disebut juga Bright Gas.

Dengan menghadirkan pengenalan gas tersebut, menjadikannya selain wisata alam, juga wisata edukasi. Kini, Tanggul Nosarara Nunu juga dilengkapi dengan tersedoanya penginapan, area bermain anak, serta Bataya atau ruang pertemuan.

Setelah menjadi lokasi pengenalan Bright Gas, tampilam kawasan Tanggul Nosarara Nunu menjadi instagrammable. Beberapa lukisan mural menghiasi dinding-dinding bangunan yang bercat didominasi pink. Beberapa tulisan kampanye juga dapat kamu temukan, seperti tulisan “Mari Hemat Air Yuk!”.

Selain itu, di sini juga terdapat ruangan wisata up side down world yang membuatnya semakin menjadi buruan wisata foto yang menarik.

Itulah beberapa ulasan tempat wisata yang berada di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sarat akan sejarah, kini Palu sudah berevolusi menjadi suatu daerah yang kaya akan budaya dan wisata.

Di sini kamu bisa melihat sejarah kehidupan kerajaan yang berkuasa di Palu dahulu, hingga menikmati keindahan perbukitan dan lautnya yang eksotis. Jadi, sudahkah kamu liburan ke Palu?

Segera rencanakan liburan ke Kota Palu jika ingin merasakan sensasi liburan unik dan berbeda.