inspirasi

Shibam, Kota Kuno yang Memiliki Gedung Pencakar Langit Tertua

By  | 

Saat ini di dunia ada banyak gedung pencakar langit yang tampak menakjubkan. Masing-masing gedungnya dibangun dengan teknologi yang canggih.

Tapi bagaimana jika di zaman dahulu sudah ada gedung pencakar langit yang dibangun dari batu dan lumpur? Di negeri Yaman ada sebuah kota bernama Shibam yang telah berdiri sejak abad ke-2 Masehi.

Kota Shibam yang masih dihuni sampai sekarang juga memiliki ciri khas yang masih dipertahankan seperti pertama kali dibangun.

Baca juga: Dikelilingi Jutaan Pohon Kurma, Oasis Al Ahsa Arab Saudi Terluas di Dunia

Konstruksi bangunannya kuat walau dibangun dengan lumpur dan batu

Shibam, Kota Kuno yang Memiliki Gedung Pencakar Langit Tertua di Dunia

(foto: slate)

Shibam berasal dari bahasa Humyar yang berarti tinggi. Di sana terlihat bangunan gedung pencakar langit paling tua di dunia. Ada 500 bangunan yang terdapat di kota ini yang masing-masing punya 5-7 lantai.

Memang jika dibandingkan gedung pencakar langit modern, bangunan di tempat ini terlihat tidak terlalu tinggi.

Tapi, yang menjadi istimewa adalah karena kuatnya konstruksi bangunan, walau bahan yang digunakan dari lumpur dan batu.

Bangunan gedung pencakar langit di kota ini kebanyakan baru dibangun pada abad ke-16 seiring dengan pertambahan penduduknya.

Kota ini juga dinilai menjadi contoh kota tua dengan perencanaan terbaik dalam hal konstruksi vertikal.

Terletak di dataran tinggi dan melindungi masyarakat dari bencana banjir

Shibam, Kota Kuno yang Memiliki Gedung Pencakar Langit Tertua di Dunia

(foto: businessinsider)

Meskipun tersusun dari batu dan lumpur, tapi kota ini sudah punya sistem yang baik dalam keamanan dan pengelolaan kota.

Tidak jauh dari kota Shibam yang posisinya ada di dataran tinggi ada situs arkeologi Jujah, yakni pusat penggalian yang terbuat dari batu.

Ada juga situs Gabusa, tempat yang pernah ditemukan patung perunggu berbentuk kepala singa. Selain memiliki sumber air, ketinggian kota juga bisa melindungi masyarakat dari bencana banjir.

Meskipun sudah berabad-abad, tapi sampai sekarang bangunan-bangunan di kota ini masih dipertahankan sama seperti saat didirikan pertama kali.

Sejauh ini gedung-gedungnya direnovasi agar lebih kuat. Segala bentuk renovasi seolah memperjelas kembali suasana Shibam sebagai kota kuno.

Baca juga: George Washington, Tuan Tanah yang Menjadi Presiden Pertama Amerika Serikat

Tata kota yang rumit bisa melindungi penduduknya dari berbagai ancaman

Shibam, Kota Kuno yang Memiliki Gedung Pencakar Langit Tertua di Dunia

(foto: ritebook)

Dahulu pada abad ke-3 M, kota ini adalah pusat dari kerajaan Hadramaut. Itulah mengapa kota ini juga sering disebut Shibam Hadramaut.

Penduduk aslinya adalah suku Ibadi yang berkuasa sampai abad ke-15. Masing-masing bangunannya berlapis lumpur untuk memberi perlindungan dari erosi dan hujan.

Bangunan bertingkat-tingkat yang tingginya lebih dari 30 m digunakan sebagai hunian berkonsep apartemen. Ada 2-4 keluarga yang menempati setiap lantainya.

Selain itu, susunan gedung dan penataan kota yang cenderung rumit bisa melindungi dari berbagai ancaman. Sebagai strategi pertahanan kota, jalanan di antara gedung-gedungnya pun dibuat berjalur rumit dan sempit.

Kota Shibam juga menjadi tempat penting untuk aktivitas perdagangan

Shibam, Kota Kuno yang Memiliki Gedung Pencakar Langit Tertua di Dunia

(foto: alexchan)

Seiring berjalannya waktu, penduduk aslinya bergerak ke tempat-tempat tinggi saat datang penduduk baru yang bekerja sebagai petani dan pedagang.

Kota ini juga berperan sebagai titik pemberhentian yang penting untuk para pedagang. Di sanalah komoditas rempah-rempah dan juga kemenyan dikirim lewat jalur darat ke Timur Tengah.

Karena semakin ramai, di abad 15-16 M, pemerintahnya bekerjasama dengan arsitek untuk memberi ruang bagi penduduk baru tanpa memperluas wilayah. Alhasil dibangunlah ratusan gedung yang bertingkat-tingkat.

Pembangunannya juga disebut-sebut tidak mematuhi aturan pembangunan gedung pencakar langit modern. Bahannya pun berbeda dari gedung modern yang ada di dunia saat ini.

Lahan yang tidak jauh dari kota dimanfaatkan sebagai jalur irigasi, sehingga sistem perekonomian terpadu pun berjalan. Ada ladang pertanian dan pembuatan batu bata yang menghidupi masyarakatnya.