inspirasi

Laksamana Maeda, Perwira Jepang yang Berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan RI

Penulis:   | 

Nama Laksamana Maeda sering disebut berperan penting dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Rumahnya yang sekarang menjadi museum di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat juga menjadi tempat bersejarah.

Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Subardjo berada di ruangan tengah rumah Laksamana Maeda.

Sebelum Soekarno membacakan teks proklamasi di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56, sebenarnya sempat ada sedikit ketegangan dini hari pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selesai merumuskan teks proklamasi kemerdekaan, ada sebuah masalah lantaran tidak adanya mesin ketik huruf Latin di rumah Laksamana Maeda.

Anak buah Laksamana Maeda, yaitu Satsuki Mishima kemudian segera berangkat meminjam mesin ketik di Kantor Perwakilan Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) di Indonesia.

Baca juga: Jadi Simbol Kesuburan, Beginilah Cerita tentang Dewi Sri dalam Mitologi Jawa

Kedekatan Laksamana Maeda dengan Indonesia sudah terjadi sejak lama

Laksamana Maeda, Perwira Jepang yang Berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan RI

(foto: endofempire)

Cerita kedekatannya dengan Indonesia sejatinya terjadi jauh sebelum malam menjelang kemerdekaan itu. Ia pernah menjadi atase militer Jepang di Belanda dan Jerman.

Sejak bertugas di Belanda, dalam dirinya muncul rasa simpati pada gerakan kemerdekaan Indonesia.

Ia kemudian sering berkomunikasi dengan tokoh-tokoh mahasiswa Indonesia, seperti Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo, dan AA Maramis.

Begitu selesai tugasnya di Belanda dan Jerman, ia dipanggil pemerintah Jepang untuk menjalankan tugas baru di Indonesia pada tahun 1942.

Laksamana Maeda sempat membangun sekolah di Indonesia

Laksamana Maeda Perwira Jepang yang Berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan RI

(foto: bbc)

Ketika sedang dinas di Jakarta, ia membangun sekolah yang dinamai Asrama Indonesia Merdeka pada bulan Oktober 1944 yang diperuntukkan bagi pemuda terpilih.

Ahmad Subardjo dan Wikana kemudian berperan sebagai penggerak di Asrama Indonesia Merdeka. Sementara itu,  selain sebagai pendiri, ia juga jadi sponsor untuk sekolah itu.

Banyak tokoh nasionalis yang mengajar di sekolah Asrama Indonesia Merdeka. Soekarno mengajar politik, Hatta mengajar ekonomi.

Sanoesi Pane mengajar Sejarah Indonesia, Ahmad Subardjo mengajar hukum internasional, Sjahrir mengajar sosialisme, dan Iwa Kusuma Sumantri mengajarkan hukum pidana.

Baca juga: Misteri Ouija, Papan Permainan yang Dipercaya Bisa Memanggil Makhluk Halus

Jepang menyerah pada Sekutu, Maeda memberi isyarat agar Indonesia segera merdeka

Laksamana Maeda Perwira Jepang yang Berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan RI

(foto: apjjf)

Mohammad Hatta dalam tulisannya Memoir (2002) menceritakan tentang peran Laksamana Maeda sebelum Proklamasi.

Saat itu bulan Agustus 1945, tersiar kabar bahwa pihak Jepang sudah menyerah kepada Sekutu.

Akhirnya Hatta mengajak Soekarno dan Achmad Soebardjo pada 15 Agustus 1945 untuk mendatangi rumah Maeda demi kebenaran kabar itu.

Jawaban tersirat Laksamada Maeda menjadi semacam isyarat bahwa itulah saatnya Indonesia merdeka.

Bahkan ia yang sejak awal bersimpati pada pergerakan tokoh nasionalis memberi fasilitas berupa rumahnya untuk jadi tempat perumusan naskah Proklamasi.

Saat mendengar Soekarno mengucapkan terima kasih, ia segera menjawab dengan antusias.

“Itu kewajiban saya yang mencintai Indonesia merdeka.”

Dianggap sebagai pengkhianat dan keluar dari militer Jepang

Laksamana Maeda, Perwira Jepang yang Berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan RI

(foto: wikipedia)

Setelah dirumuskan di rumah Laksamana Maeda, pagi hari 17 Agustus 1945 menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lalu bagaimana dengan sikap pemerintah Jepang?

Apakah tindakannya yang mendukung Indonesia tidak diketahui? Barbara Gifford Shimer dan Guy Hobbs dalam The Kenpeitai in Java and Sumatra (2010) menyatakan bahwa tentara Jepang sebenarnya mengetahui Maeda terlibat dalam kemerdekaan Indonesia.

Setelah itu, ia ditangkap dan dipenjara setahun, sebelum akhirnya kembali ke Jepang pada tahun 1947.

Di Jepang, ia mendapat kecaman karena dianggap sebagai pengkhianat dengan cara membantu kemerdekaan Indonesia.

Ia pun sempat diadili oleh Mahkamah Militer Jepang sebelum akhirnya dinyatakan tak bersalah.  Setelah itu, ia malah mundur dari militer dan memilih menjalani hidup sebagai rakyat biasa.

Sebelum meninggal 13 Desember 1977, Soekarno sempat menjenguknya di Jepang.

Bahkan anaknya, Nishimura Toaji Maeda, sempat berencana untuk menaburkan abu ayahnya tersebut di Indonesia, tepatnya di Pulau Jawa.