. ";s:18:"ihaf_insert_footer";s:0:"";s:16:"ihaf_insert_body";s:0:"";s:21:"_transient_doing_cron";s:33:"1596417378.3123149871826171875000";}}

inspirasi

Kisah Kesederhanaan Bung Hatta, Tak Bisa Beli Sepatu Impian Lantaran Tabungan Tak Cukup

By  | 

Sudah menjadi rahasia umum bila sosok salah satu Proklamator Republik Indonesia, Mohammad Hatta atau biasa disapa Bung Hatta begitu sederhana.

Ia dikenal sebagai seorang yang jujur, bersih dan hidup hemat. Banyak kisah yang diceritakan orang mencerminkan kesederhanaan dan bersahajanya dirinya.

Dilansir dari Intisari Online, sejarahwan dari Universitas Airlangga menurutkan, ketika melakukan kunjungan ke luar negri, Bung Hatta hanya membawa satu kopor ketika berangkat dan satu kopor ketika pulang. Tidak pernah lebih dari itu.

Kisah lain juga datang ketika ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden. Saat itu ia hampir tak mampu membayar langganan air minum dan membayar iuran pembangunan daerah.

Padahal dengan jabatan sebagai wakil presiden, pintu bisnis terbuka lebar bagi Bung Hatta yang memiliki banyak kolega. Namun ia memilih hidup sederhana, tidak menyimpang dari tugasnya sebagai wakil presiden.

Selain dua cerita di atas, ada cerita menarik lainnya antara Bung Hatta dengan sepatu yang ia idam-idamkan. Berikut ceritanya.

Baca juga: Mengenal Minapadi, Sistem Pertanian Terbaik di Indonesia yang Diakui Badan Pangan Dunia

Cerita Bung Hatta dan sepatu yang diidam-idamkan

Kisah Kesederhanaan Bung Hatta, Tak Bisa Beli Sepatu Impian Lantaran Tabungan Tak Cukup

(foto: riauonline)

Pada 1950-an, Bally menjadi salah satu merek sepatu yang berkualitas tinggi di Indonesia. Bung Hatta ternyata menjadi salah seorang yang tertarik mengenakan sepatu tersebut.

Harganya yang terbilang mahal menjadi halangan untuk memilikinya. Padahal, saat itu ia masih menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Bisa dibayangkan, dengan kekuasannya ia dapat dengan mudah memiliki barang tersebut. Namun ia tak mengeruk keuntungan dari jabatannya. Ia justru memendam impiannya tersebut.

Sampai suatu saat ia tak sengaja membaca iklan sepatu di koran yang mempromosikan tempat menjual sepatu idaman tersebut.

Bung Hatta yang ingin membelinya akhirnya menggunting potongan iklan tersebut. Saat itu ia berpikir agar ketika ada rezeki, tak perlu repot-repot mencar informasi dimana membeli sepatu itu di Jakarta.

Uang tabungan tak kunjung mencukupi untuk membeli sepatu idaman

Kisah Kesederhanaan Bung Hatta, Tak Bisa Beli Sepatu Impian Lantaran Tabungan Tak Cukup

(foto: intisari)

Realita tak sesuai dengan ekspektasi. Mungkin inilah yang cocok menggambarkan keadaan Bung Hatta ketika itu. Sekuat apapun keinginannya menabung, kenyataannya uang tabungan itu tak pernah mencukupi. Selalu saja diambil untuk keperluan yang tak terduga.

Entah itu untuk keperluan rumah tangga atau membantu handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta tak kesampaian membeli sepatu Bally. Hal ini lantaran uang tak pernah cukup.

Tak lama setelah dirinya wafat pada 14 Maret 1980, keluarga Bung Hatta menemukan lipatan guntingan iklam lama sepatu tersebut.

Potongan iklan itu ditemukan di dompet mendiang Bung Hatta. Iklan itu tentunya iklan sepatu Bally yang sejak lama ia idam-idamkan.

Baca juga: Pieter Erberveld, Pria Eropa yang Dihukum Paling Sadis Selama Masa Kolonial Belanda

Nasib mesin jahit yang sama dengan sepatu Bally

Kisah Kesederhanaan Bung Hatta, Tak Bisa Beli Sepatu Impian Lantaran Tabungan Tak Cukup

(foto: idntimes)

Sama seperti sang suami, istri Bung Hatta, Rahmi Rachim, juga diketahui memiliki keinginan yang sederhana. Bukan sepatu, ia menginginkan mesin jahit.

Dilansir dari Aneka Kisah Unik yang diterbitkan oleh Majalah Intisari pada 2016, Rahmi menginginkan mesin jahit dengan alasan bisa menghemat pengeluaran.

Ia berpendapat dengan memiliki mesin jahit, berarti ia dan keluarga tak perlu mengeluarkan uang lebih untuk membeli baju. Sama seperti sang suami, Rahmi juga menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli mesin jahit.

Impiannya hampir menjadi kenyataan, namun nasib tak berpihak padanya. Ketika hampir membeli barang impiannya, terjadi pemotongan nilai mata uang rupiah yang semua bernilai Rp 100 menjadi Rp 1.

Kebijakan ini ternyata berdampak pada tabungan Rahmi yang jatuh nilainya. Ia pun tak bisa membeli mesin jahit impiannya.

Sedih, Rahmi mendatangi sang suami dan bertanya padanya, “Pak, Bapak kan Wakil Presiden, pasti tahu pemerintah akan mengadakan sanering. Mengapa Bapak tidak memberi tahu kepada ibu?” tanyanya seperti dilansir dari Intisari.

Bung Hatta pun menjawab bahwa itu rahasia negara. Jika ia memberi tahu sang istri, itu sudah bukan rahasia lagi. Lebih lanjut, ia juga mengatakan pada sang istri, biarlah mereka rugi sedikit, demi kepentingan negara dan mengajak Rahmi untuk kembali menabung.