inspirasi

Hanya Lulus SD, Inilah Sepak Terjang Semaun Sebagai Ketua PKI Pertama

Penulis:   | 

Selama ini banyak yang mengenal nama DN Aidit sebagai petinggi PKI. Tapi sebetulnya ada orang lain yang berkontribusi besar sampai terpilih menjadi orang pertama yang memimpin PKI.

Jauh dari kesan kejam dan brutal, ternyata ketua PKI juga pernah menduduki jabatan penting dalam organisasi Islam.

Sosok yang terpilih menjadi ketua sejak PKI pertama kali didirikan adalah Semaun, atau Semaoen jika dalam ejaan lama.

Sepak terjangnya dimulai di Sarekat Islam. Setelah mengenal Henk Sneevliet, ideologi komunisnya berkembang.

Baca juga: Mengenal Henk Sneevliet, Pria Belanda Pembawa Ajaran Komunisme ke Indonesia

Semaun berhenti sekolah di usia 13 tahun dan langsung bekerja

Hanya Lulus SD, Inilah Sepak Terjang Semaoen sebagai Ketua PKI Pertama

(foto: pinterest)

Nama Semaun barangkali sering dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak, entah karena latar belakangnya atau ideologi yang dianutnya.

Ia lahir di Mojokerto pada tahun 1899 di tengah keluarga yang pas-pasan. Itulah mengapa sekolahnya hanya selesai di tingkat dasar di Tweede Inlandsche School, Sekolah Dasar untuk kaum pribumi.

Orang tua tidak mampu menyekolahkan ke tingkat lanjut, ia langsung bekerja di Perusahaan Kereta Api Negara atau Staats Spoor Maatschapi. Saat itu usianya 13 tahun dan masih menyimpan minat untuk belajar.

Dikenal sebagai anak cerdas, ia masih bersemangat belajar bahasa Belanda di samping aktivitasnya bekerja.

Mulai aktif di Sarekat Islam dan dipertemukan dengan Henk Sneevliet

Hanya Lulus SD, Inilah Sepak Terjang Semaoen sebagai Ketua PKI Pertama

(foto: quora)

Dengan pekerjaannya sebagai klerk atau juru tulis di perusahaan kereta api Surabaya tahun 1912, sebetulnya ia sudah mulai merasakan hidup yang terjamin.

Tapi, ia melihat banyak rakyat menderita karena pekerjaannya sebagai buruh. Saat itu ia sudah membaca buku-buku bertema kemanusiaan. Itulah yang menjadikannya tergerak untuk bergabung di organisasi pergerakan yang membebaskan.

Saat itu usianya menginjak 15 tahun dan mulai bergabung ke Sarekat Islam (SI). Di situlah ia dipertemukan dengan Henk Sneevliet, sosok yang menjadi guru baginya.

Menurut sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Soewarsono seperti dimuat di Berbareng Bergerak, Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaun, pertemuannya menciptakan kekaguman atas ketulusan Sneevliet.

Karena itu ia terima tawaran untuk masuk ke ISDV (Indische Social Demokratische Vereeniging) atau serikat buruh Hindia Belanda yang jadi cikal bakal komunisme di Indonesia.

Baca juga: Awalnya Dikenal Religius, Beginilah Sosok DN Aidit Hingga Jadi Petinggi PKI

Sikapnya yang semakin radikal membuat para pimpinan SI tidak nyaman

Hanya Lulus SD, Inilah Sepak Terjang Semaun sebagai Ketua PKI Pertama

(foto: flickr)

Meski berpendidikan rendah, ia pembelajar otodidak yang baik dan piawai menjadi pemimpin. Saat kongres SI di Semarang 1917, ia berhasil terpilih jadi ketua cabang Semarang di usianya yang masih di bawah 20 tahun.

Di bawah kepemimpinannya, SI cabang Semarang bisa berkembang sangat pesat. Anggotanya dalam setahun bertambah sampai puluhan ribu dari yang semula hanya 1.700 anggota dan tersebar hingga ke wilayah desa.

Pada tahun 1918 dalam rapat terbuka SI di Semarang mencuri perhatian karena terlihat unik dengan ‘seragam’ caping. Masyarakat banyak yang menonton lalu bersorak menyeru dengan bangga berulang-ulang.

“Hidup Sarekat Islam!”

“Hidup Semaoen!”

Masyarakat memang mengelu-elukannya, tapi sikap dan kepemimpinannya yang semakin radikal membuat pimpinan SI lainnya tidak nyaman.

Masih intens berguru dengan Henk Sneevliet sekaligus menularkan ideologi sosialis dan komunisme, pimpinan SI seperti HOS. Tjokroaminoto dan Agus Salim mengambil tindakan. Kaum komunis yang ada di dalam SI akan ‘ditertibkan’.

Pemikiran radikaln Semaun sempat membawa ke penjara dan pengasingan

Hanya Lulus SD, Inilah Sepak Terjang Semaun sebagai Ketua PKI Pertama

(foto: docplayer)

Sebelumnya memang ada desas desus bahwa ia akan didepak dari SI, akhirnya terjadi juga.

Tapi momen tersebut menjadi kesempatan yang tepat baginya agar lebih fokus memimpin Partij der Komunisten in Indie (PKI) atau Perserikatan Komunis Hindia yang baru diresmikan 23 Mei 1920.

Pemikiran radikalnya juga ditunjukkan melalui media massa, hingga ia sempat dipenjara 4 bulan.

Di penjara ia masih menyibukkan diri dengan menulis buku Penuntun Kaum Buruh dan Hikayat Kadirun. Di dalamnya tertuang gagasan supaya buruh berani menunjukkan aksi protes karena ketimpangan.

Sepak terjangnya masih terus berlanjut, bahkan sampai ketika diasingkan ke Belanda, merantau ke Uni Soviet sampai kembali ke Indonesia untuk menjadi pengajar kuliah Ekonomi di Universitas Padjadjaran dan mendapatkan gelar doktor Honoris Causa.

Meskipun tidak sedikit upayanya untuk memperjuangkan keadilan bagi kaum pribumi, tapi sosok Semaun masih lekat dengan kontroversi.

Apalagi setelah beberapa puluh tahun kemudian organisasi PKI bentukannya mendapat citra yang begitu kelam dengan pemberontakan yang brutal.

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.