inspirasi

Xinjiang, Tempat Tinggal Suku Uighur yang Menyimpan Kekayaan Minyak Bumi

By  | 

Wilayah Xinjiang di China sempat menjadi sorotan dunia karena persoalan etnis Suku Uighur yang tinggal di sana.

Sebagai provinsi terluas di China, wilayahnya setara dengan Afghanistan dan Pakistan jika digabung menjadi satu.

Meskipun hanya sebagian kecil wilayahnya yang dapat ditinggali penduduk, tapi wilayah ini sudah  diperebutkan sejak dulu.

Alasannya adalah karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, khususnya minyak bumi. Inilah beberapa fakta tentang Xinjiang.

Baca juga: Asal Mula Burung Phoenix, Hewan Mitologi yang Menjadi Simbol Keabadian

Memiliki sejarah panjang dan sudah ada sejak  masa pemerintahan Dinasti Han

Xinjiang, Tempat Tinggal Suku Uighur yang Menyimpan Kekayaan Minyak Bumi

(foto: whatchina)

Xinjiang sebagai Daerah Otonomi Uighur memiliki sejarah yang cukup panjang, bahkan tidak kurang dari 2000 tahun yang lalu.

Daerah di ujung barat China ini sudah terbentuk sejak pemerintahan Dinasti Han.

Dinasti Han sendiri menguasai sejak tahun 206 SM sampai 220 M. Saat itu, wilayah ini masih dikenal dengan nama Xiyu, yang artinya adalah daerah barat.

Namanya kemudian secara resmi diganti jadi Xinjiang yang artinya ‘daerah terdepan yang baru’ ketika pemerintah China menetapkannya jadi provinsi pada tahun 1884.

Mayoritas wilayah di sini berupa padang rumput, gurun pasir, hutan, danau, dan juga perbukitan.

Lebih dari separuh wilayahnya yang sangat luas tidak ada penghuninya

Xinjiang, Tempat Tinggal Suku Uighur yang Menyimpan Kekayaan Minyak Bumi

(foto: medium)

Wilayahnya yang multi etnis terletak di lereng Gunung Tianshan dan membelah kawasan Asia Tengah. Dengan luas mencapai 1,6 juta km2, lebih dari separuh wilayahnya ternyata tidak ada penduduknya.

Sekitar 62% penduduknya adalah etnis pendatang, sedangkan suku aslinya adalah Uighur, Hui, Kazakh, Tajik, Tartar, dan Uzbek yang sebagian besar penganut agama Islam.

Ada delapan negara yang berbatasan dengannya, yaitu Rusia, Mongolia, Kirgizstan, Kazakhstan, Tajikistan, Pakistan, Afghanistan dan India.

Posisinya yang sangat strategis  membuatnya jadi sebuah jalur perdagangan utama dunia, yang menghubungkan Asia dengan Eropa.

Banyak komoditas yang diperdagangkan di sana, tapi daging babi dan minuman keras dilarang.

Baca: Legenda Gumiho, Siluman Rubah Berekor Sembilan yang Berwujud Perempuan Cantik

Sudah jauh lebih modern dan menjadi jalur penting perdagangan internasional

Xinjiang, Tempat Tinggal Suku Uighur yang Menyimpan Kekayaan Minyak Bumi

(foto: silkroadexplore)

Beberapa tahun terakhir pembangunan di China banyak difokuskan ke wilayah barat, termasuk Xinjiang yang menjadi prioritas.

Adanya Jalur Sutra (Silk Road) yang panjangnya mencapai 6.437 km cukup menguntungkan. Sejak dulu, banyak pedagang, biarawan, penjelajah, maupun prajurit yang pernah melewatinya.

Provinsi ini sekarang jauh lebih modern, banyak gedung tinggi dengan warna-warni lampu memenuhi jalanan utama. Ada kereta pembawa barang yang menghubungkan China dan Eropa.

Ada juga salah satu distrik yang sibuk karena menjadi kawasan industri petrokimia seperti di distrik Dushanzi.

Hanya saja posisinya yang langsung berbatasan dengan beberapa negara cukup rawan dengan gempuran isu politik dan diskriminasi etnis.

Memiliki banyak kekayaan alam yang tersimpan di perut bumi

Xinjiang, Tempat Tinggal Suku Uighur yang Menyimpan Kekayaan Minyak Bumi

(foto: caixinglobal)

Di balik wilayahnya yang sangat luas tapi tidak ada penghuninya ternyata terdapat kekayaan melimpah, khususnya di wilayah selatan atau Tarim Basin, tempat Suku Uighur tinggal.

Sejak tahun 1970, China sudah menggenjot esksplorasi kekayaan alam Xinjiang. Di perut buminya terdapat cadangan minyak terbesar di China.

Provinsi ini juga menyumbang sepertiga cadangan batu bara dan lebih dari seperempat cadangan minyak bumi dan gas nasional.

Mineral lain yang dihasilkan misalnya muscovit yang jadi bahan kosmetik, berilium yang dipakai untuk bahan katoda pada barang-barang elektronik, dan juga asbestos sebuah mineral yang tahan api.

Mineral-mineral tersebut adalah bahan baku yang penting untuk industri elektronik di masa depan.

Karena itulah badan usaha milik negara China juga menginvestasikan miliaran dolar untuk terus mengembangkan aktivitas industri di wilayah ini.