inspirasi

Legenda Gumiho, Siluman Rubah Berekor Sembilan yang Berwujud Perempuan Cantik

By  | 

Apa yang terbayang di benakmu saat mendengar nama Gumiho? Buat penggemar drama Korea pasti familiar dengan namanya.

Ada beberapa kisah yang terinspirasi dari makhluk legenda Gumiho. Meskipun diangkat dengan latar belakang dan alur berbeda, tapi ceritanya memiliki kesamaan, yakni menjadikan laki-laki sebagai korbannya.

Di kalangan masyarakat Korea, dia dipandang seperti hantu. Tentunya kisahnya di drama tidak sama dengan legenda aslinya.

Baca: Mengenal Suku Maori, Penduduk Asli Selandia Baru yang Pernah Jadi Kanibal

Memiliki niat kejahatan dan bertindak bahaya dengan modal kecantikannya

Legenda Gumiho, Siluman Rubah Berekor Sembilan yang Berwujud Perempuan Cantik

(foto: pinterest)

Memang ada cukup banyak legenda, cerita mitologi, dan hantu di Korea Selatan.

Yang paling populer adalah siluman yang mengembara di pegunungan untuk mencari orang yang sedang berjalan dan dimakannya hidup-hidup.

Legendanya berkembang di kalangan masyarakat Korea secara turun temurun. Sosoknya adalah berupa siluman hewan rubah yang ekornya ada sembilan.

Dengan modal kecantikan, ia melancarkan niat kejahatan dan hal-hal berbahaya.

Salah satu drama yang terkenal adalah My Girlfriend is Gumiho (2010) tentang siluman rubah perempuan yang ingin jadi manusia dengan cara mendekati laki-laki yang disukainya.

Tentunya rubah berekor sembilan dalam legenda atau cerita rakyat tidak seindah di cerita drama.

Memakan jantung atau hati manusia untuk memperoleh kekuatan baru 

Legenda Gumiho, Siluman Rubah Berekor Sembilan yang Berwujud Perempuan Cantik

(foto: pinterest)

Ia akan menjerat laki-laki supaya tertarik kepadanya. Setelah berhasil, dia akan menghabisi kehidupan laki-laki incarannya.

Ada pula kisah yang menyebutkan Rubah berekor sembilan ini akan memakan jantung atau hati manusia untuk dapat memperoleh kekuatan baru.

Legendanya sering dihubungkan dengan tingkah laku cerdik perempuan kepada laki-laki yang disimbolkan dalam wujud hewan rubah.

Rubah sendiri oleh masyarakat Korea digunakan untuk menggambarkan kelicikan.

Seringkali gambaran tentang Gumiho adalah sesosok makhluk yang menyedihkan dan hanya ingin hidup seperti manusia.

Selain makan jantung atau hati, ada cara lain agar makhluk ini bisa jadi manusia, yaitu menikahi laki-laki selama seratus hari tapi laki-lakinya tidak tahu tentang identitas aslinya.

Baca juga: Isla de Las Munecas, Pulau dengan Koleksi Ribuan Boneka Menyeramkan

Gumiho di Korea digambarkan lebih jahat daripada siluman rubah lainnya

Legenda Gumiho, Siluman Rubah Berekor Sembilan yang Berwujud Perempuan Cantik

(foto: aurovilleradio)

Legenda rubah yang dikenal di negara Korea Selatan sebenarnya terpengaruh oleh mitologi China dan Jepang. Di China, namanya bukan Gumiho tapi Huli Jing yang juga tak kalah mengerikan.

Huli Jing konon berasal dari energi seorang wanita yang menyerap energi manusia, khususnya laki-laki untuk dapat mempertahankan hidup.

Di Jepang pun ada siluman rubah namanya Kitsune. Bedanya adalah bahwa Kitsune di Jepang juga bisa bersifat baik.

Konon Gumiho di Korea Selatan digambarkan lebih jahat daripada siluman rubah lainnya. Legenda lain menyebut bahwa ia terbentuk dari siluman rubah yang sudah hidup selama seribu tahun.

Melakukan banyak cara untuk bisa berubah menjadi manusia

Legenda Gumiho, Siluman Rubah Berekor Sembilan yang Berwujud Perempuan Cantik

(foto: weheartit)

Di luar reputasinya sebagai makhluk jahat, sebenarnya dalam dongeng kuno Gumiho juga bisa menunjukkan kemampuannya untuk membantu manusia.

Seekor rubah yang berumur seribu tahun disebut-sebut punya kemampuan berubah jadi apa saja.Tapi kemampuan supranaturalnya untuk berubah menjadi manusia tetap menjadi ciri khasnya.

Konon telinganya yang runcing dibiarkan tersembunyi.  Dengan hati-hati ia menjaga identitas aslinya.

Dipercaya bahwa dengan usaha besar, ia bisa bangkit dari keadaan yokwe atau monster, menjadi manusia secara permanen dan melepaskan watak jahatnya.

Cara-cara yang dilakukannya untuk menjadi manusia antara lain; tidak menunjukkan bentuk aslinya kepada manusia seratus hari, tidak membunuh hewan, dan membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan.

Jika gagal, maka kesempatan untuk menjadi manusia akan hilang selama seribu tahun.