inspirasi

Tak Hanya Suriname, Jejak Orang Jawa Juga Ada di Kaledonia Baru

Penulis:   | 

Bicara tentang penduduk keturunan Jawa di luar negeri, mungkin kita akan langsung teringat pada Suriname. Ternyata masih ada negara lain yang menjadi tujuan pengiriman orang Jawa sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda.

Tempat tersebut adalah Kaledonia Baru (New Caledonia) yang masih jadi bagian dari Prancis. Bahasa Prancisnya adalah Nouvelle-Calédonie.

Pada tahun 1896, orang-orang Jawa dibawa menuju Kaledonia Baru oleh pemerintahan Hindia Belanda untuk bekerja di perkebunan.

Baca juga: 7 Logam Mulia Termahal di Dunia, Bukan Hanya Emas

Orang-orang Jawa diberangkatkan ke Kaledonia dengan kapal

Menelusuri Jejak Keturunan Jawa di Kaledonia Baru

(foto: dannoorlander)

Saat itu sebanyak 170 orang yang mayoritas berasal dari daerah Jawa Tengah diberangkatkan mengarungi Samudera Pasifik dengan kapal Saint Louis.

Berdasarkan cerita dari Widyarka Ryananta, Konsul Jenderal RI di Kaledonia Baru, waktu itu ada kerjasama antara Pemerintah Kolonial Prancis dan Belanda.

“Para leluhur kita ini dibawa oleh Pemerintah Kolonial Prancis yang bekerja sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda yang waktu itu menguasai Jawa. Mereka untuk didatangkan sebagai buruh kerja migran begitu di berbagai sektor perkebunan.”

Dipekerjakan di perkebunan dan rumah tangga

Menelusuri Jejak Keturunan Jawa di Kaledonia Baru

(foto: ncpedia)

Seperti disampaikan oleh Fidayanti Muljono Larue, penulis buku Imigrasi Orang Jawa ke Kaledonia Baru dari Tahun 1896-1950, penduduk Jawa generasi pertama yang diangkut ke Kaledonia baru menginjakkan kaki 16 Februari 1896.

Sesampai di sana mereka dikumpulkan di semacam tempat penampuangan, di mana nantinya semua orang yang ‘memesan’ pekerja Indonesia akan datang merekrutnya.

Selain dipekerjakan sebagai koeli kontrak di sektor perkebunan, orang-orang Jawa juga dijadikan sebagai pembantu rumah tangga.

Pekerja imigran dari Jawa saat itu lebih disukai di sana karena kecakapannya dalam teknik-teknik perkebunan, terbiasa disiplin, taat aturan, dan tidak suka banyak protes.

Setelah dirasa cocok dengan kinerja dan sikap para buruh Jawa yang dikirim itu, permintaan akan tenaga kerja dari Jawa pun meningkat sampai puluhan tahun kemudian.

Tak memulu soal pekerjaan, ini juga siasat Belanda mengantisipasi pemberontakan orang Jawa

Menelusuri Jejak Keturunan Jawa di Kaledonia Baru

(foto: pinterest)

Tidak hanya di tahun 1896, pengiriman orang-orang Jawa ke Kaledonia Baru yang terletak di barat daya Samudera Pasifik ini masih berlanjut sampai tahun 1943.

Bukan semata-mata demi tujuan pekerjaan, tapi sebenarnya ini karena kekhawatiran dari pemerintah Hindia Belanda.

Saat itu Belanda sedang mengantisipasi pemberontakan dari orang Jawa yang memang pertumbuhannya pesat.

Menurut pemerintah Hindia Belanda, akan lebih baik dan menguntungkan jika tenaga mereka dipakai di tempat lain yang jauh dari kampung halaman mereka.

Baca juga: Mengenal Hiu Kalabia, Hewan Endemik Papua yang Bisa Berjalan

Tidak mudah untuk jauh dari kampung halaman

(foto: insideindonesia)

Dimulai sejak 1896 sampai tahun 1948 sudah tercatat ada 87 perjalanan dari Jawa menuju Kaledonia Baru. Dari yang awalnya hanya 170, jumlah yang bekerja ke Kaledonia Baru bertambah menjadi 19.400 orang.

Rombongan imigran Jawa ini berangkat dengan tekad yang sama, yaitu memperbaiki nasib. Tentu saja banyak hal yang membuat mereka mendapat tantangan.

Lingkungan, budaya, dan bahasa yang berbeda dari yang ada di daerah asal menjadikan mereka berjuang untuk beradaptasi.

Sebagai bagian dari Prancis, Kaledonia Baru menerapkan aturan untuk Berbahasa Prancis untuk masyarakatnya. Padahal para buruh kontrak yang dikirim ke Kaledonia Baru itu belum pernah belajar Bahasa Prancis.

Bertahun-tahun menjalani kehidupan yang tidak nyaman, sampai pada saatnya kabar kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 menjadi angin segar tersendiri. Mereka Mereka sangat ingin bisa kembali ke kampung halaman.

Setelah Indonesia merdeka, sebagian memilih menetap dan sebagian memilih kembali ke kampung halaman

Menelusuri Jejak  di Kaledonia Baru

(foto: insideindonesia)

Setelah Indonesia merdeka, ada ribuan orang Jawa yang memilih kembali ke kampung halamannya di Jawa pada tahun 1948.

Akan tetapi, tidak semua orang Jawa itu kembali. Sebagian mereka memilih menetap dan membangun keluarga di Kaledonia Baru.

Meskipun mereka menyesuaikan dengan kultur dan bahasa setempat, tentu saja sebagian besar masih berbicara dalam bahasa Jawa hingga bertahun-tahun kemudian.

Jejak orang-orang keturunan Jawa di Kaledonia Baru menjadi warna tersendiri bagi kehidupan setempat. Tidak lagi bekerja kasar seperti nenek moyang, mereka bisa bekerja pada banyak sektor. Ada orang keturunan Jawa yang jadi dokter, pengusaha, bahkan wali kota.