inspirasi

Rahasia Kuatnya Hafalan Imam Syafi’i, Jauh dari Maksiat

By  | 

Imam Syafi’i adalah sosok imam mazhab yang terkenal dengan keilmuannya. Hafalan Alqurannya begitu kuat dan punya banyak keistimewaan dalam hidupnya.

Selain Alquran dan hadits, ilmunya mencakup beberapa bidang seperti fiqih, waris, dan beberapa ilmu lain termasuk sastra.

Bicara tentang kepandaiannya, khususnya tentang kemampuannya menghafal ayat-ayat, ternyata ada sebuah rahasia tersendiri.  Tidak hanya faktor dalam dirinya sendiri, tapi juga dari orang tuanya. Beginilah kisah Imam Syafi’i.

Baca juga: Brondby Haveby, Pemukiman dengan Konsep Lingkaran Unik

Mendapat pendidikan yang baik meskipun terlahir sebagai anak yatim

Jauh dari Maksiat, Inilah Rahasia Kuatnya Hafalan Imam Syafi'i

(foto: pinterest)

Imam Syafi’I memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib.

Ia berasal dari Suku Quraisy yang garis keturunannya terhubung langsung ke Nabi Muhammad SAW. Terlahir di Gaza sebagai anak yatim pada tahun 767 Masehi atau 150 H, masa kecilnya berjalan dengan baik.

Ibunya seorang wanita yang cerdas dan bijaksana yang selalu memperhatikan halalnya makanan atau minuman yang dikonsumsi. Sejak ayahnya meninggal, memang hidupnya cenderung kekurangan secara ekonomi.

Tapi hal itu tidak menghalanginya untuk mendapat pendidikan yang baik. Sang ibu dengan cepat memahami kecerdasannya.

Banyak ilmu yang dipelajarinya dalam waktu yang relatif singkat

Jauh dari Maksiat, Inilah Rahasia Kuatnya Hafalan Imam Syafi'i

(foto: bradfordtoday)

Banyak teladan yang diberikan dalam perjalanannya menuntut ilmu. Berkat ketekunan dan dukungan ibunya, sejak usianya masih tujuh tahun, ia sudah mampu membaca dan menghafal ayat Alquran.

Setelah selesai dengan hafalan Alqurannya, ia kemudian menghafal kitab Al Muwattha’ yang ditulis Imam Malik.

Tujuan utama ke Madinah adalah untuk belajar langsung dengan Imam Malik yang saat itu terkenal sebagai ahli hadits dan fiqih.

Banyak ilmu dan kebijaksanaan ia pelajari dengan waktu yang relatif singkat. Saat itu usianya memasuki 13 tahun. Ia tidak beranjak dari kota Madinah sampai gurunya wafat.

Setelah Imam Malik wafat, ia mendapat amanah dari gurunya yang lain yaitu Muslim bin Khalid untuk menyampaikan fatwa agama walau usianya baru 15 tahun.

Baca juga: Menelusuri Danau Blautof, Mata Air Berwarna Biru yang Terdapat Gua di Bawahya

Banyak mempelajari naskah sastra dan menggubah syair Arab

Jauh dari Maksiat, Inilah Rahasia Kuatnya Hafalan Imam Syafi'i

(foto: pinterest)

Selain didukung untuk belajar di berbagai majelis ilmu, ia juga sempat dikirim ke Suku Hudzail di Makkah untuk belajar bahasa Arab lebih fasih.

Kemampuannya berbahasa Arab dengan baik sangat membantunya untuk menghafal Alquran dan kitab-kitab penting.

Ia pun banyak menggunakan waktunya untuk mempelajari naskah sastra sampai di pedalaman ke kabilah Suku Hudzail.

Selama hidupnya, tidak sedikit syair Arab yang diubahnya. Oleh Syekh Yusuf Muhammad Al Biqa’i kemudian karya-karyanya digabung ke dalam buku berjudul Diwan As Syafi’i.

Selalu bersikap hati-hati dari segala bentuk maksiat untuk menjaga hafalannya

Jauh dari Maksiat, Inilah Rahasia Kuatnya Hafalan Imam Syafi'i

(foto: freepik)

Suatu hari ia ditanya tentang rahasia yang membuat hafalannya sangat kuat. Jawabannya adalah dengan meninggalkan maksiat. Dikisahkan bahwa setiap kali berjalan ke masjid, ia menutup telinga.

Hal tersebut membuat orang di dekatnya bertanya-tanya. Ternyata memang suara-suara yang didengarnya sangat mudah diingat dan dihafal dengan sendirinya. Sehingga ia berhati-hati dalam mendengar sesuatu.

Tidak hanya berhati-hati dengan apa yang didengar, sikap hati-hatinya juga tetap berlaku untuk sesuatu yang masuk ke perutnya.

Suatu hari ia mengeluhkan hafalannya yang sedikit terganggu setelah beberapa waktu sebelumnya ia sempat membeli kurma untuk keluarganya.

Ketika bertransaksi dengan penjualnya, ia coba mencicipi sebutir kurma demi memastikan kurmanya manis. Setelah menelan kurma, barulah pembayaran dilakukan.

Ternyata hal sekecil itu saja dapat berpengaruh pada penurunan kemampuan menghafal. Sikap hati-hatinya pernah diabadikan dalam sebuah syair terkenal yang sekaligus menyebut nama gurunya.

“Kuadukan pada Waki’ hafalanku nan jahat. Dia berpesan supaya kutinggalkan maksiat.”

“Katanya pula, ilmu itu terang seperti kilat. Cahaya Allah bukan untuk pelaku maksiat.”