inspirasi

Mengenal Suku Hopi, Bangsa Primitif Amerika yang Sering Terbukti Ramalannya

By  | 

Ada banyak suku bangsa kuno di dunia yang punya tradisi unik. Contohnya adalah Suku Hopi di Amerika yang masih bertahan dengan cara hidup seperti para leluhurnya.

Suku Hopi sejak dulu menjaga budaya, bahasa, dan keyakinan warisan nenek moyang, meskipun ada pengaruh dari luar.

Salah satu tradisi leluhurnya adalah meramal sesuatu yang terjadi di masa depan. Konon, ramalan mereka tentang benda-benda dan peristiwa dunia sering terbukti di kemudian hari.

Baca juga: Villa Las Estrellas, Wilayah di Kutub Selatan Dihuni Sekitar Seratusan Orang

Suku ini tinggal di atas tanah lindung yang disebut dengan Hopi Reservation

Mengenal Suku Hopi, Bangsa Primitif Amerika yang Sering Terbukti Ramalannya

(foto: indianz)

Suku Hopi primitif datang dari daerah Meksiko ke Amerika Utara. Tinggal di cagar alam yang luasnya sekitar 6000 km2 di timur laut Arizona, mereka tinggal di atas sebuah tanah lindung yang disebut dengan Hopi Reservation. Hopi Reservation terletak 145 km di timur laut Flagstaff, Arizona.

Belum diketahui secara pasti kapan datangnya mereka ke Arizona. Namun, melalui identifikasi sebuah ukiran batu ramalan, eksistensi mereka sudah ada sekitar 50 ribu tahun lamanya.

Mereka masih menjaga arsitektur bangunan rumahnya dengan batu bata yang bertingkat, serta masih mengolah ladang seperti yang dilakukan nenek moyang.

Peradaban mereka juga tumbuh di jantung Dataran Tinggi Colorado. Bagi nenek moyang mereka, lembah di antara tempat yang ditinggali adalah pusat alam semesta.

Bangsa asing mulai datang dan berbaur di tempat tinggalnya  

Mengenal Suku Hopi, Bangsa Primitif Amerika yang Sering Terbukti Ramalannya

(foto: grandcanyontrust)

Pada mulanya mereka bertahan hidup dari berburu. Tapi, kurang lebih tahun 700 Masehi, mereka banyak bercocok tanam di ladang pertanian.

Untuk urusan tanah, mereka membagi di antara keluarga dan memanfaatkan area umum untuk tujuan pertanian, pengobatan, dan  spiritual

Mereka hidup damai sampai orang luar pertama tiba di wilayah Hopi Reservation pada tahun 1540. Berada di bawah kepemimpinan Don Pedro de Tovar, orang Spanyol pencari Tujuh Kota Emas yang legendaris.

Orang-orang Spanyol pada awalnya tidak diterima dengan ramah, tetapi pertentangan dengan penduduk asli segera diatasi.

Orang-orang dari Spanyol tetap berusaha membaur, belajar dari mereka tentang keberadaan Grand Canyon. Seiring waktu, kedatangan bangsa asing berpengaruh pada kehidupan agama yang dijalani.

Selama ini mereka percaya pada Animisme. Tapi, seperti kelompok penduduk asli Amerika lainnya, mereka kini sudah mengenal agama Kristen.

Baca juga: Mengenal Manatee, ‘Putri Duyung’ yang Sempat Mengecoh Christopher Columbus

Dikenal memiliki kemampuan meramal masa depan

Mengenal Suku Hopi, Bangsa Primitif Amerika yang Sering Terbukti Ramalannya

(foto: reydekish)

Pada abad ke-16, budaya mereka sangat berkembang dengan siklus seremonial yang sedikit rumit, organisasi sosial yang kompleks, dan sistem pertanian yang maju. Mereka juga berpartisipasi dalam jaringan perdagangan rumit yang meluas di Meksiko.

Sebelum tiba ke bumi Amerika bagian utara, mereka meyakini bahwa sebenarnya para leluhur sudah hidup di tiga dunia yang kemudian hancur karena bencana alam. Menurut mereka, yang saat ini ditinggali adalah Dunia Keempat,

Karena itu mereka mengembangkan ritual khusus yang terkait ramalan dunia yang tujuannya adalah untuk memprediksi peristiwa alam yang akan terjadi sehingga bisa diantisipasi. Karena itu, ramalan menjadi bagian penting kehidupan mereka.

Selain peristiwa alam, beberapa ramalan yang terkenal adalah tentang munculnya ular besi, yang kini diketahui sebagai kereta api.

Mereka juga memprediksi adanya tanah bersilang dengan batuan yang dikenal sebagai jalan raya. Mereka juga sudah meramal mengenai dua perang besar, yang kemudian tercatat sebagai perang dunia I dan II.

Tetap konsisten menjalani hidup seperti para leluhur 

Mengenal Suku Hopi, Bangsa Primitif Amerika yang Sering Terbukti Ramalannya

(foto: crystalink)

Sepanjang waktu mereka hidup berdampingan dengan berbagai macam perubahan. Meskipun semakin lama semakun banyak pengaruh dari luar, mereka konsisten menjalani hidup seperti para leluhur.

Ramalan yang dikuasai setelah belajar dari nenek moyang tetap menjadi budaya tersendiri.

Gagasan mereka tentang upaya menjaga alam menjadi sesuatu yang patut direnungkan. Ada harga yang pada akhirnya akan dibayar oleh umat manusia yang telah menodai Bumi.

Mereka meyakini bahwa jika manusia berbuat baik dengan alam, maka alam juga baik dengan manusia.