inspirasi

Kisah Nabi Yusha, Panglima Perang yang Tangguh dan Bisa Menahan Matahari

By  | 

Pernahkah kamu mendengar cerita Nabi Yusha yang bisa menahan matahari? Dalam ajaran agama Islam, ada 25 nabi yang namanya wajib untuk diketahui.

Tapi masih ada nama-nama nabi lain yang diutus oleh Allah SWT di tengah suatu kaum. Atas kehendak Allah, para nabi bisa memperlihatkan keajaiban di depan umatnya.

Meski namanya tidak sering diceritakan dalam kisah nabi-nabi, tapi Nabi Yusha memiliki keistimewaan yang tidak ada pada nabi lain, yakni mampu menahan matahari dalam sebuah peperangan.

Baca juga: Mengenal Lubna, Budak Wanita yang Jadi Tokoh Penting di Istana Cordoba

Sebelum memimpin Bani Israil, pernah menjadi murid setia dari Nabi Musa

Kisah Nabi Yusha, Panglima Perang yang Tangguh dan Bisa Menahan Matahari

(foto: ifilmenglish)

Nabi Yusha pernah menjadi murid sekaligus sosok yang menjadi orang kepercayaan Nabi Musa. Sejak Nabi Musa masih hidup, Nabi Yusha adalah seorang pengikut paling setia yang sering mendampingi dakwah Nabi Musa.

Sosoknya menjadi penting karena selalu berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan umat. Nabi Musa sendiri yang menunjuknya untuk menjadi pemimpin di Bani Israil.

Sebenarnya Nabi Yusha tidak langsung menggantikan peran kenabian setelah Nabi Musa wafat,karena masih ada Nabi Harun yang tidak lain merupakan kakak Nabi Musa.

Setelah wafatnya Nabi Harun, Nabi Yusha menjalankan amanah dengan baik untuk menjadi pemimpin sekaligus panglima perang yang pemberani. Terkait kenabian, ia juga mendapatkan wahyu dari Allah.

Melaksanakan ajaran Taurat dan mengatur pembagian kaum Bani Israil

Kisah Nabi Yusha, Panglima Perang yang Tangguh dan Bisa Menahan Matahari

(foto: wikipedia)

Kisahnya disebutkan secara tersirat di dalam Alquran surat Al Baqarah, Al Maidah, Al Kahfi, dan Al Waqi’ah. Keberadaan sosoknya juga disepakati dalam Kitab Taurat.

Pada bab 3 kitab Taurat dijelaskan bahwasanya Allah memerintah agar kaum Bani Israil dibagi ke dalam dua belas kelompok suku.

Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan supaya mengangkat para pemimpin untuk masing-masing suku.

Selain melaksanakan ajaran Taurat, ia juga bertanggung jawab mengatur dua belas suku Bani Israil saat memasuki tanah suci Yerusalem dan merebut Kota Yerikho.

Sepeninggal Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi Yusha membuka akses tanah suci untuk kaum Bani Israil.

Baca juga: Nabi Sya’ya, Orang Kepercayaan Raja yang Digergaji Kaumnya Sendiri

Memilih prajurit yang berkualitas dan hatinya tidak sibuk dengan dunia

Kisah Nabi Yusha, Panglima Perang yang Tangguh dan Bisa Menahan Matahari

(foto: khanacademy)

Berkat jasanya, tanah suci Yerusalem dapat direbut kembali. Khususnya kota Yerikho yang berada di Tepi Barat, dekat sungai Yordan. Yerikho saat ini menjadi tempat tinggal orang Palestina dan Israel.

Allah memberi berkah kemenangan ketika melawan musuh-musuh. Sebagai panglima perang yang cerdik, ia tidak hanya mengandalkan jumlah yang besar, tapi juga kualitas dari pasukannya.

Untuk persiapan menuju ke kota yang akan ditaklukkan, ia memiliki strategi supaya pasukannya benar-benar tangguh.

Maka dari itu, ia menyingkirkan prajurit lemah yang hatinya sibuk dengan perkara dunia, begitu juga segala unsur yang melemahkan dan menjadi sebab kekalahan.

Meskipun pasukannya sudah kuat, ternyata ada kondisi lain yang menjadi tantangan yaitu masalah waktu. Saat itu ia dan pasukannya mendekati kota Yerikho sore hari.

Berhasil merebut kota Yerikho, sesaat sebelum matahari terbenam

Kisah Nabi Yusha, Panglima Perang yang Tangguh dan Bisa Menahan Matahari

(foto: islamiclandmarks)

Padahal pasukannya hampir menang setelah berhasil membuat musuh terkepung. Tapi sebelum benar-benar menang, matahari terlihat sudah menjelang terbenam.

Nabi Yusha berdoa supaya Matahari tertahan sejenak dan belum terbenam. Saat itu perang terjadi di hari Jumat.

Padahal kaum Yahudi meyakini bahwa hari Sabtu tidak boleh ada peperangan. Dalam kondisi kritis, doa pun dipanjatkan secara khusus agar matahari tidak terbenam dulu.

Ia memiliki keyakinan bahwa matahari tunduk pada perintah Allah sebagaimana manusia yang bersujud pada-Nya.

“Ya Allah, tahanlah Matahari untukku agar matahari tidak terbenam,” demikianlah sepotong doa yang dipanjatkannya.

Atas izin dari Allah, maka matahari bersinar lebih lama. Perang pun masih berlanjut di hari Jumat saat itu. Alhasil kota Yerikho berhasil ditaklukkan untuk menjadi medan dakwah selanjutnya.

Sampai akhir hayat, Nabi Yusha terus bersama kaum Bani Israil. Kini, makamnya bisa ditemukan di Kota As Salt, kurang lebih 25 km ke barat Amman, Yordania.