travel

Kaya Sejarah dan Keindahan Alam, Ini 10 Wisata di Bukittinggi

By  | 

Singgah di Kota Bukittinggi, tandanya kamu akan menyambut alamnya yang diselimuti hijau rerumputan dan rindangnya pepohonan.

Seperti namanya, Bukittinggi memiliki keelokkan bukit-bukit di datarannya. Menjadi lanskap alam menakjubkan, yang membuatnya selalu memiliki daya pikat yang membuat siapapun ingin mencoba menjelajahi kota yang pada masa silam pernah menjadi Ibukota dari Negara Indonesia ini.

Di kota yang letaknya berada di jajaran bukit barisan inilah, beberapa tokoh berpengaruh dari mulai tokoh sastra seperti Buya Hamka, hingga wakil presiden pertama Indonesia, Moh. Hatta dilahirkan.

Inilah 10 destinasi wisata menakjubkan, yang bisa kamu tuju ketika berpetualang ke Bukittinggi.

Baca juga: 10 Objek Wisata di Pulau Nias, Pesona Bahari Hingga Budaya yang Memikat

1. Menikmati pesona lanskap alam Bukittinggi di Bukit Takuruang

Bukit Takuruang Bukittinggi

(foto: instagram/whousah)

Bertandang ke Bukittinggi, jangan lupa buat melipir ke salah satu tujuan wisata andalannya, yaitu Bukit Takuruang! Kawasan ini akan memanjakan kamu dengan fenomena alam berupa patahan bumi yang merupakan bentukkan alam.

Disebut juga dengan Tabiang Takuruang, bukit ini eloknya berada di tepian sungai dengan padang rumput yang membentang di hadapannya.

Uniknya, di puncak Bukit Takuruang ini puncaknya hanya ditanami satu buah batang pohon. Disebut-sebut Bukit Takuruang sebenarnya masih merupakan bagian dari jajaran tebing dari ngarai sianok.

Menikmati panorama alam di kawasan Bukit Takuruang, dapat kamu lakukan dengan dua cara. Jika kamu senang berpetualang dan ingin coba melihat lebih jelas bentang alam nan memikat dari Bukittinggi dari atas ketinggian, kamu bisa mencoba menaikki puncak bukitnya.

Namun, jika kamu lebih senang mendengarkan suara gemericik air dari sungai yang mengalir hingga udara dingin yang sejuk di lembahnya, kamu bisa memilih untuk mampir kafe istimewa yang letaknya di tengah lembahnya, dengan dekat sungai.

Lalu kamu bisa coba menikmati kehangatan dari secangkir kopi atau teh talua yang uapnya masih mengepul panas sementara indahnya hamparan kenampakkan alam cipataan Tuhan akan menemani di hadapanmu.

Tabiang Takuruang sendiri, merupakan bahasa Padang, yang jika diartikan berarti tebing yang terkurung. Seperti letaknya yang seakan terkurung di antara ngarai. Bukit Takuruang terbentuk karena gempa yang pernah terjadi ribuan tahun lalu yang mengguncang Sumatera.

Namun, siapa sangka, bencana tersebut justru mendatangkan anugrah tersendiri dengan munculnya Bukit Takuruang ini, yag bahkan membuatnya menjadi spot incaran foto yang unik bagi para pelancong.

2. Berkunjung ke saksi bisu perang pasukan Imam Bonjol di Benteng Fort de Kock

Benteng Fort de Kock Bukittinggi

(foto: instagram/ronitongki)

Pada zaman kolonial Belanda, Kota Bukittinggi disebut dengan Fort de Kock. Maka kemudian Usut punya usut, nama tersebut salah sataunya tak lepas dari sebuah benteng yang menjadi saksi bisu dari perjuangan melawan Hindia-Belanda.

Benteng yang terletak di atas puncak Bukit Jirek ini, menyimpan sejarah perjuangan dari pasukan yang dipimpin pahlawan asal Bukittinggi, yaitu Imam Bonjol. Pasukan tersebut dikenal dengan pasukan paderi.

Kenyataaannya, Fort de Kock merupakan nama dari wilayah tempat benteng itu berada, sementara benteng ini sebenarnya bernama Sterreschans yang artinya adalah benteng pelindung. Faktanya, benteng ini dibangun sebagai bentuk perlindungan pemerintahan Hindia-Belanda dalam meredam serangan dari rakyat minang.

Tinggi benteng ini diperkirakan mencapai 20 meter, dengan perpaduan warna hjau dan putih serta dilengkapi meriam yang berada di setiap sudut benteng.

Meskipun benteng ini kemudian mengalami pemugaran, pada tahun 2002 silam, masyarakat tetap lebih mengenalnya dengan nama Benteng Fort de Kock.

Kini, Benteng Fort de Kock masuk ke dalam kawasan Taman Kota Bukittinggi yang dimana terletak satu kawasan dengan Kebun Binatang Bukittinggi dan Museum Rumah Adat Banjuang. Di area benteng ini, juga ditemukan sebuah prasasti yang diisi dengan tulisan berbahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Isinya menceritakan tentang riwayat berdirinya benteng yang dilakukan oleh  jenderal asal Belanda, hingga kemudian diresmikan kembali sebagai tujuan wisata pada tahun 2003. Selagi kamu berkunjung ke benteng ini, cobalah spot paling menariknya, yakni di atas Benteng.

Dari sini, kamu bisa melihat pemadangan Kota Bukittinggi yang menawan serta hamparan Gunung Merapi yang nampak gagah di hadapanmu.

3. Menggali kebudayan Minang di Bukittinggi melalui Museum Rumah Adat Baanjuang

Museum Rumah Adat Baanjuang bukittinggi

(foto: instagram/rockstartiket)

Jika kamu ingin mengetahui lebih banyak budaya minang di Kota Bukittinggi, kamu bisa mengunjungi Museum Rumah Adat Baanjuang. Menariknya, museum yang terletak di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, Jl. Cindua Mato no 1 ini, memiliki bangunan yang khas tradisonalnya ini, masih sangat terjaga.

Didirikan oleh salah seorang warga Belanda, yakni Ms. Mondellar Countroller, museum ini masih kokoh berdiri sejak dibangun sekitar 80 tahun yang lalu.

Layaknya rumah adat Minang, Museum Baanjuang dibangun berbentuk serupa rumah gadang bagonjong gajah maharram, yang terdiri dari 9 ruangan yang memiliki anjuang pada bagian sisi kiri dan kanannya.

Nuansa tradisioanal ini dapat kamu lihat juga dari bahan atapnya yang masih berasal dari sapu ijuk, dilengkapi dindingnya yang masih menggunakan kayu serta lantai yang berbahan dasar bambu.

Dengan wujudnya yang masih kental akan nilai tradisoanlnya ini, Museum Baanjuang masih terlihat sangat eksotis sehingga tak pernah kehabisan pengunjung.

Berbagai koleksi yang dipajang di museum ini meliputi miniatur dari berbagai arsitektur bangunan khas minang, seperti rumah gadang, surau, balairung, dan lain-lain.

Beragam bentuk pakaian adat juga ada di sini, lalu ada juga pakaian pengantin, perhiasan hingga pelaminan yang biasa digunakan masyarakat minang saat melangsungkan pernikahan.

Sebagai pelancong, kamu juga bisa coba berdandan ala pengantin minang, lengkap dengan latar belakang pelaminan dalam Suku Minang.

Di sini juga terdapat barang-barag antik, seperti Al-Qur’an dari masa lalu, hingga mata uang kuno. Berbagai perlengkapan sehari-hari dari mulai peralata rumah tangga hingga untuk bekerja juga dipajang di sini.

4. Menengok jejak sejarah pilu masyarakt pribumi di bawah kolonial Jepang melalui Goa Lobang Jepang

Goa Lobang Jepang Bukittinggi

(foto; instagram/poerbalewis)

Bukittinggi juga menyimpan kisah pilu dari masa lampau, di masa kolonial. Kisah tersebut, berasal dari keberadaan Goa Lobang Jepang, yang berlokasi masih di kawasan Ngarai Sianok.

Goa yang dahulunya difungsikan sebagai bunker Jepang ini, merupakan saksi bisu sejarah dari peristiwa kerja paksa yang dilakukan pada rakyat Indonesia di Bukittinggi melalui perintah membuatkan bunker yang kini dikenal masyarakat sebagai Lobang Jepang ini.

Bunker ini memiliki panjang hingga 1.470 meter, letaknya sekitar 40 meter di bawah Ngarai Sianok. Beberapa terowongan dengan berbagai fungsinya di masa lalu, dapat kamu lihat ketika memasuki area bunker yang memang terkenal dengan suasananya yang cukup mencekam.

Di antaranya, ruangan-ruangan tersebut digunakan sebagai tempat menyimpan amunisi, dapur, rumah tinggal, ruang makan, ruang tahanan, ruang mata-mata, ruang penyergapan bahkan ruang penyiksaan. Serta ada juga gerbang yang digunakan untuk melarikan diri.

Keberadaan Lobang Jepang, seakan menjadi bukti betapa berkuasanya Jepang pada masa itu. Tiap terowongan dalam bunker ini bahkan memiliki diameter 3 hingga dinding-dinding tebal yang membuatnya seperti terisolir dari suara-suara yang ada di luar maupun sebaliknya.

Bunker ini pun sangat luas, yang mana hampir mencapai dua hektar dengan jumlah pintu 6. Akses pintunya pun tak hanya melalui Ngarai Sianok saja. Pintu lainnya dapat kamu temukan di Taman Panorama.

5. Berpetualang melewati seribu anak tangga ala tembok Cina di The Greatwall Koto Gadang

Koto Gadang Bukittinggi

(foto: instagram/kiddrock85)

Masih di wilayah Ngarai Sianok, kamu akan menemukan  tembok besar unik yang bentuknya memanjang hingga ke atas perbukitan yang menyerupai tembok besar Cina. Namannya, adalah Koto Gadang.  Serunya, sebelum kamu mencapai Koto Gadang, kamu harus melalui anak tangga yang bermulai dari kaki bukit.

Karena jumlah anak tangga yang terlihat sangat banyak, mengular hingga puncak bukit tersebut, masyarakat sekitarnya menyebut tangga tersebut dengan Janjang Seribu. Padahal, disebut-sebut sebenarnya jika dihitung anak tangga tersebut jumlahnya tak sampai seribu.

Menjadi petualangan yang seru ketika kamu, menapakkan kaki melalui tangga ini. Selagi kamu berjuang melewati anak tangga yang kepanjagannya mencapai 780 meter dengan jalur tracking sejauh 1.5 meter ini, kamu akan menghabiskan waktu selama 16-30 menit dengan disajikan pemandangan alam Bukittinggi yang memesona.

Semakin tinggi  ke atas, semakin banyak panorama alam yang dapat memanjakan matamu. Pastinya, akan menjadi pengalaman yang berkesan. Apalagi setelah kamu mencai Koto Gadang dan menikmati keselurahan indahnya alam Bukittinggi.

Tak perlu khawatir karena kelelahan di tengah jalan, karena di beberapa titik Jajang Saribu ini, kamu akan menemukan tempat istirahat setidaknya untuk sekadar meluruskan kaki sejenak.

Dengan pemandangan kabut awan yang semakin tebal, serta udara sejuk yang menyegarkan, sebenarnya lelahmu pun pada akhirnya akan terbayarkan.

Bangunan yang sudah berdiri sejak zaman Hindia-Belanda ini, dahulunya difungsikan sebagai jalan pintas dari Koto Gadang menuju pusat Kota Bukitttinggi. Selain kayak akan sejarah, arsitekturnya puna nampak artistik, bergaya ala tangga istana kerajaan Eropa.

Baca juga: 10 Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi Saat Pelesiran ke Jambi

6. Menilik kesederhaaan hidup Bung Hatta di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Museum Rumah Bung Hatta Bukittinggi

(foto: instagram/jimmywarnery)

Destinasi wisata menarik selanjutnya yang bisa kamu kunjungi di Bukittinggi adalah rumah tempat Bung Hatta dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya, yang kini disebut dengan Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta.

Dengan dijadikannya rumah bekas tempat tinggal sang proklamator ini sebagai museum, maka diharapkan mampu mengenang jasanya dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Rumah asli dari Rumah Moh. Hatta ini sendiri, sebenarnya sudah lapuk termakan usia.

Namun, sebuah yayasan yang berasal dari salah satu universitas yang memakai nama besar Bung Hatta, kemudian mengagas untuk melakukan pemugaran kembali pada bangunan yang berada di atas lahan rumah Bung Hatta sebelumnya.

Berdasar pada foto dari rumah Bung Hatta sebelum rusak, maka selanjutnya dibangunlah kembali rumah Bung Hatta yang dibuat serupa mungkin dengan yang asli.

Tak hanya bentuk rumah hingga cat yang digunakannya saja yang serupa dengan yang asli, isi dari rumah ini pun sebisa mungkin dibuat seperti isi rumah pada awalnya. Seperti dari tempat tidur yang berbahan kuningan dari Inggris, tempat tidur hitam, hingga tempat tidur ukir yang digunakan oleh Bung Hatta.

Bahkan, penataan halaman depan rumahnya pun dibuat sama persis. Sehingga, ketika kamu berkunjung ke sini, kamu akan merasakan sensasi menyelami kehidupan masa lalu yang membentuk pribadi hebat salah satu tokoh besar bangsa Indonesia tersebut.

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta tepatnya berlokasi di Jl. Soekarno Hatta No 37, Bukittinggi. Melalui rumah ini, kamu akan diajak menyaksikan langsung kesederhanaan yang ada dari balik sosok Bung Hatta. Kamu juga bisa melihat silsilah keluarganya, melalui berbagai dokumentasi yang ada di dalamnya.

Di halaman belakang rumah, kamu akan menemukan kereta bugi, satu-satu benda yang dahulu dianggap mewah di tengah kehidupannya yang sederhana. Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, merupakan bangunan berlantai dua dengan dinding berupa kayu.

7. Uniknya berbagai spot foto Instagenic di Rumah Pohon Inyiak

Rumah Pohon Inyiak Bukittinggi

(foto: instagram/handjuf_)

Satu lagi destinasi wisata yang berada di kawasan Ngarai Sianok, Bukit Tinggik. Tepatnya, di Kayu Kubu, Kecamatan Guguk Panjang. Selain lanskap alamnya yang melenakan, Bukittinggi juga punya wisata selfi yang seru untuk kamu singgahi. Yaitu, Rumah Pohon Inyiak ini.

Kawasan wisata ini, menawarkan beberapa spot wisata foto yang instagrammable. Seperti saat kamu memasuki kawasan wisatanya, kamu akan disambut dengan mobil Jeep Willys tua, yang sangat cocok dijadikan latar foto bagi kamu yang merupakan pencinta vintage.

Kurang lebih ada total 11 spot foto unik yang bisa kamu gunakan di sini. Seperti rumah di atas pohon, rumah yang atapnya terbuat dari rumput, serta rumah Vietnam yang beratapkan jerami. Spot andalan di sini, adalah rumah dengan atap rumput, yang menjadi ciri khas dari objek wisata Rumah Pohon Inyiak ini.

Kawasan wisata ini, menjelma menjadi objek wisata kekinian yang banyak menjadi incaran pelancong, terutama anak muda. Bahkan, jumlah pengunjungnya pun bisa mencapai 200 orang. Waah, kamu tertarik menjadi salah satu di antaranya?

Setelah asyik mengabadikan berbagai momen seru dengan berbagai latar yang ciamik, kamu bisa memilih menyantap beberapa menu makanan yang tersedia di kafe yang berada di kawasan ini juga. Menariknya lagi, kafe ini bangunannya berbentuk kapal dan berada di ketinggian.

Selain itu, di tempat wisata Rumah Pohon Inyiak ini, juga baru dibangun sebuah patung singa berwarna putih, serupa seperti yang ada Marlion Park, Singapur.

Dengan begitu, objek wisata ini semakin difavoritkan oleh para pengunjung sekitar dan menjadi destinasi wisata yang fresh bagi para pelancong yang datang dari daerah lain.

8. Berkunjung ke danau andalan Bukittinggi yang rupawan, Danau Maninjau

Danau Maninjau Bukittinggi

(foto: instagram/almirafelicia)

Menelusuri kekayaan alam Minang, memang tak pernah ada habisnya. Salah satunya dapat kamu temui dari salah satu pesona danaunya yang bernama Danau Maninjau. Danau yang memilki kurang lebih luas 105 meter persegi ini, memiliki kedalaman rata-rata 150 meter.

Danau Maninjau, disebut-sebut terbentuk akibat letusan sebuah gunung berapi bernama Gunung Sitinjau yang telah terjadi di ribuan tahun lalu. Danau ini nampak mempesona, dengan udara sejuk yang menyapa, serta keindahan puncak lawang yang dapat terlihat dari sini.

Ada tradisi unik, yang menarik untuk kamu saksikan ketika berkunjung ke Danau Maninjau. Tradisi ini, disebut “Rakik-rakik”. Sebuah tradisi yang dilakukan satu tahun sekali, setiap malam takbiran.

Tradisi Rakik-rakik ini berupa sebuah perlombaan, di mana warga sekitar akan berlomba-lomba membuat perahu dan menghiasnya sedemikian rupa. Menariknya lagi, bahkan ada beberapa masyarakat yang membuat perahunya seperti versi mini dari rumah gadang, masjid, dan lainnya.

Namun, dibalik keindahan panorama Danau Maninjau ini, ternyata terdapat cerita legenda yang sudah dipercaya oleh masyarakat. Legenda ini disebut dengan “Bujang Sembilan” yakni kisah tentang 10 orang kakak-beradik di mana adik bungsu mereka adalah satu-satunya perempuan.

Suatu saat, adik perempuan ini membawa kekasihnya ke hadapan Sembilan kakaknya, namu tak disetujui, karena menuduh sudah melanggar norma adat.

Sang adik dan kekasihnya kemudian mencoba membuktikan kesuciannya dengan melompat ke danau, jika ia sudah tidak suci maka Gunung Sitinjau tak akan meletus, namun jika ia masih suci, maka Gunung Sitinjau meletus. Hingga akhirnya, Gunung Sitinjau meletus, dan terbentuk lah Danau Maninjau.

9. Bermain dengan segarny air di kaki Gunung Merapi,  Air Terjun Badorai

Air Terjun Badorai Bukittinggi

(foto: instagram/rendyhendrizal)

Air Terjun Badorai, terletak di kaki Gunung Merapi. Salah satu gunung, yang mengapit kawasan Bukittinggi, selain Gunung Singgalang. Air terjun ini, memiliki 3 bagian, yaitu Air Terjun Badorai 1, 2, dan 3. Namun, spot yang paling harus kamu coba adalah Air Terjun Badorai 3.

Karena, di sini kamu akan melihat air terjun yang airnya berderai jatuh ke sungai di bawahnya, dari ketinggian tebing 50 meter. Seperti namannya, Badorai ini berasal dari kata Minangkabau yang artinya berderai atau bercerai berai. Sebagaimana aliran airnya yang jatuh bercerai-berai.

Bentuk air terjun ini memang keistimewannya adalah bertingkat-tingakat, dengan ketinggian pada tiap tingkatnya yang berbeda-beda. Di sini, kamu bisa sekadar bersantai di bebatuan sekitar air terjun sembari merendam kaki atau berenang di kolam air terjunnya yang segar.

Wilayahnya yang berada di kaki gunung, membuat airnya masih terasa dingin dan tentu saja masih bersih karena ke alamiannya masih terjaga.

Air Terjun Badorai ini, terletak di Nagari Sungai Puar. Kamu bisa mengaksesnya cukup dengan jarak 8 km dari pusat Kota Bukittinggi. Selain air terjun setinggi 50 meter, air terjun kedua juga memiliki ketinggian yang lumayan seru untuk kamu coba melompat, yakni 20 meter.

Kamu juga bisa merasakan sensasi meluncur dari batu gunung halus yang terdapat di ketinggian air terjunnya tersebut. Jika kamu penggemar fotografi yang senang memotret air terjun, tidak ada salahnya menjadikan Air terjun Badorai sebagai slah satu lokasi incaran kamu selanjutnya.

10. Berkunjung menyaksikan fenomena pasang suru danau di Tarusan Kamang

Tarusan Kamang Bukittinggi

(foto: instagram/ardiesensei)

Selain Danau Maninjau, wilayah Bukittinggi juga masih punya Danau Tarusan Kamang. Sebuah danau yang tak hanya terkenal akan keindahannya, tetapi juga karena fenomena alam langka yang terjadi di danau tersebut.

Keistimewaan danau ini adalah fakta bahwa sebenarnya lokasi ini tadinya merupakan sebuah lapangan luas yang seringkali digunakan sebagai lahan warga dalam mengembala ternaknya.

Namun, jika area ini diguyur hujan deras, airnya kemudian akan menggenang dan menenggalamkan lapangan tersebut, namun tetap meningglkan bukit ditengahnya yang bentuknya lebar, seperti gugusan pulau kecil di tengah danau.

Dataran yang masih tersisa dan muncul ke permukaan danau ini, masih diselimut rerumputan hijau, serta ditumbuhi satu dua buah pohon. Inilah, daya tarik Danau Tarusan Kamang yang seringkali membuat banyak wisatawan ingin berfoto dengan latar danau yang disertai bukit hijau diatas danau tersebut.

Danau Tarusan Kamang, akan kembali surut ketika musim kemarau atau saat debit air di muka bumi sedang sedikit. Sehingga, yang kamu temukan nantinya hanya hamparan lapangan rumput hijau yang luas.

Berdasarkan penelitian, fenimena pasang surutnya air di kawasan Tarusan Kamang ini, karena terdapatnya bebatuan disekitarnya, yang pada saat musim penghujan bisa mengeluarkan air yang cukup banyak dari celah-celah bebatuannya.

Danau Tarusan Kaman ini sendiri, termasuk ke dalam bagian patahan yang ada di Suamtera bagian timur dan tergolong ke dalam danau karst, yaitu danau yang terbentuk karena peralutan kapur.

Bukittinggi memang punya banyak pesona alam yang membuat kamu tidak pernah bosan untuk berkunjung dan berkunjung lagi ke kota yang masyarakat aslinya masih berasal dari Suku Minang ini.

Menyimpan berbagai sejarah kemerdekaan, kekayaan budaya yang bernilai, hingga bentangan alam hijau yang masih asri dan amat hijau. Kelengkapan paket wisatanya tersebut, membuat Bukittinggi mempunyai potensi wisata yang sangat harus kamu kunjungi.