inspirasi

Fenomena Bledug Kuwu, Semburan Lumpur dengan Legenda yang Unik

By  | 

Pernahkah kamu berkunjung ke daerah semburan lumpur Bledug Kuwu? Atau barangkali baru kali ini mendengar namanya.

Bledug Kuwu merupakan fenomena yang langka dan unik karena lumpur yang meletup-letup bisa membubung tinggi sampai 3 meter. Posisinya ada di Purwodadi, Jawa Tengah, kurang lebih 28 km ke arah timur.

Tidak seperti semburan lumpur yang terkenal di Porong, Sidoarjo, lumpur Bledug Kuwu sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram.

Orang-orang yang berkunjung ke sana banyak yang mengadakan ritual dan berdoa. tempat ini juga punya legenda tersendiri yang menarik dan menjadi cerita turun temurun.

Baca juga: Dikenal sebagai Bapak Dongeng Dunia, H.C. Andersen Punya Kisah Hidup yang Pilu

Proses pembentukannya karena tekanan gas dalam bumi yang mendorong batuan naik

Fenomena Bledug Kuwu, Semburan Lumpur dengan Legenda Unik

(foto: wikipedia)

Kawasan lumpur Bledug Kuwu terhitung cukup luas terbentang 45 hektar dalam bentuk hamparan lumpur kering pada lahan kosong.

Bledug Kuwu ada karena tekanan gas dalam bumi, sehingga bisa mendorong batu-batuan untuk naik. Wilayah Bledug Kuwu berada pada Zona Randublatung yang terdapat endapan alluvial.

Endapan alluvial di sana mempunyai struktur batuan lunak, sehingga tekanan dari gas bumi bisa keluar dengan mudah dan membentuk semburan lumpur.

Semburan lumpurnya juga mengandung gas yang warnanya putih dan baunya sangat. Gas yang baunya menyengat mengandung hidrogen sulfida.

Kemunculannya terkait dengan ledenda Raden Ajisaka dan Jaka Linglung

Fenomena Bledug Kuwu, Semburan Lumpur dengan Legenda Unik

(foto: oneearthmedia)

Fenomena Bledug Kuwu yang terbentuk melalui proses alami ternyata juga disertai kisah legenda yang menarik.

Kemunculannya terkait dengan ledenda Raden Ajisaka dari Kerajaan Medang Kamulan.

Saat Raden Ajisaka baru memerintah, ada seekor naga dengan nama Jaka Linglung yang mengaku sebagai anak.

Tentu saja Ajisaka tidak mau mengakui dan berniat menyingkirkan naga Jaka Linglung.

Raden Ajisaka menjanjikan untuk mengakui Jaka Linglung menjadi anak dengan syarat cukup berat. Jaka Linglung harus membunuh Prabu Dewata Cengkar yang menjelma menjadi buaya putih.

Prabu Dewatacengkar sendiri adalah sosok kanibal kejam yang senang memangsa para manusia. Pertarungan Jaka Linglung dan Prabu Dewatacengkar berlangsung di sekitar Pantai Selatan.

Setelah usai pertarungan, Jaka Linglung pulang melewati tempat tersembunyi. Konon agar tidak membuat warga resah, Jaka Linglung melewati jalur bawah tanah.

Jaka Linglung kembali ke Raden Ajisaka dan muncul di tempat sekitar semburan lumpur ini.

Baca juga: Berada di Ujung Dunia, Timbuktu Pernah Jadi Pusat Ilmu Pengetahuan

Banyak orang yang menjalani ritual di sekitar Bledug Kuwu dengan memberi sesajen

Fenomena Bledug Kuwu, Semburan Lumpur dengan Legenda Unik

(foto: jelajahkatulistiwa)

Bledug Kuwu sudah sejak 1983 menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menampilkan semburan lumpur dingin. Meskipun tidak terlalu besar, lumpur yang disemburkan mencapai ketinggian 3 meter.

Meskipun asal usulnya sudah bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi tetap ada saja masyarakat sekitar dan pengunjung yang meyakini hal-hal magis di sekitar lumpur.

Setiap Kamis atau Jum’at masyarakat menjalani ritual di sekitar tempat ini. Ritual dilakukan dengan cara memberi sesajen yang isinya pisang raja, pisang kawista, kapur sirih, air putih, dan bunga setaman.

Orang-orang yang menjalankan ritual percaya bahwa keinginannya akan terkabul setelah memberikan sesajen.

Demi keselamatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pengunjung

Fenomena Bledug Kuwu, Semburan Lumpur dengan Legenda Unik

(foto: ganesharyudha)

Beberapa kawah kecil baru bermunculan dan mengeluarkan semburan lumpur dingin.

Tidak hanya semburan lumpurnya saja yang jadi sebuah daya tarik, tapi juga tentang tanah yang bergoyang di dekat kawah.

Tanah bergoyang di sini tidak seperti gempa, tapi ini disebabkan karena kawah baru yang terbentuk dan masih sering goyah dan retak.

Di atasnya terlihat seperti tanah kering, ternyata lapisan bawahnya lumpur. Jika pengunjung salah langkah, bisa terperosok ke dalam kubangan lumpur.

Untuk pengunjung sebaiknya tidak berkunjung di malam hari sampai pagi hari sebelum pukul 7 pagi.

Konsentrasi karbondioksida di wilayah ini sangat tinggi dan bahkan mematikan.