inspirasi

Ditakuti Eropa, Janissary Jadi Pasukan Elit Terkuat di Zamannya

By  | 

Menurut catatan sejarah, Kesultanan Turki Utsmani adalah salah satu imperium kerajaan yang terluas di dunia.

Pada masa kejayaan, daerah kekuasaannya meliputi sepertiga dunia, yakni terbentang mulai dari Asia Barat, sebagian besar Eropa Tenggara, dan Afrika Utara.

Kejayaan imperium Turki Utsmani tidak lepas dari perjuangan pasukan Janissary yang pada saat itu dipandang sebagai pasukan elit dan paling kuat di dunia.

Janissary atau Yeniçeri berasal dari bahasa Turki yang artinya ‘pasukan baru’. Ini adalah sebuah pasukan infanteri atau angkatan darat yang dibentuk oleh Sultan Murad I dari Kekhalifahan Bani Seljuk pada abad 14.

Baca juga: Keunikan Karang Kenek, Dusun Misterius yang Penduduknya Tidak Bisa Bertambah

Awal mula pembentukan Janissary

Ditakuti Eropa, Janissary Jadi Pasukan Elit Terkuat di Zamannya

(foto: turkinesia)

Janissary dibentuk pada masa kekuasaan Murad I (1326-1389 M), Sultan ketiga Turki Utsmani. Bukan sekadar pasukan, gagasan pembentukannya adalah tentang strategi militer yang brilian saat itu.

Sultan Murad I terkenal dengan standarnya yang ketat saat merekrut calon untuk Janissary. Pada saat baru dibentuk, anggota pasukan Janissary adalah para pemuda non muslim (kemudian mualaf) dari daerah Balkan yang merupakan daerah taklukan Turki Utsmani.

Untuk menjadikan mereka lebih tangguh, calon pasukan Janissary ini dididik dan dilatih dengan sangat disiplin. Tidak hanya latihan untuk kemampuan fisik, tapi juga kecerdasannya.

Bukan tanpa alasan, pasukan ini dipersiapkan untuk memiliki kemampuan perang yang mumpuni, termasuk menjaga keamanan sultan.

Menurut Micah Azzir, sejarawan Turki di Istanbul yang meneliti tentang Janissary, para pemuda itu bertahun-tahun ditempa dengan berbagai kemampuan; memanah, bermain pedang, menunggang kuda, gulat, angkat besi, hingga menggunakan senjata api.

Sangat disegani dan ditakuti pasukan Eropa

Ditakuti Eropa, Janissary Jadi Pasukan Elit Terkuat di Zamannya

(foto: islamidia)

Pasukan Janissary dibagi menjadi dua korps, yaitu korps infanteri dan korps kavaleri. Korps infanteri adalah pasukan yang membawa nama pasukan Turki ke berbagai daerah di Eropa dan Asia.

Dengan rantai besi dan baju zirah, bersenjata tombak panjang dengan mata kapak atau disebut halberd, dan tanpa membawa tameng, pasukan ini hampir tidak pernah terkalahkan di semua pertempuran. Mereka sangat disegani dan ditakuti pasukan dari Eropa.

Korps kavaleri adalah pasukan yang dibentuk kekaisaran Utsmani setelah berhasil menaklukkan sebagian besar Eropa, khusus penembak yang dipilih dari pasukan infantri sebelumnya.

Mereka dibekali dengan  senapan teknologi terbaik saat itu. Pada zamannya, senjata tersebut lebih baik dari handgun biasa.

Baca juga: Tan Jin Sing, Sosok Berjasa Dibalik Penemuan Candi Borobudur

Berperan dalam penaklukan konstantinopel

Ditakuti Eropa, Janissary Jadi Pasukan Elit Terkuat di Zamannya

(foto: islampos)

Pada 2 April 1453, pasukan Turki Utsmani diperintahkan oleh Muhammad al-Fatih atau Sultan Mehmed II untuk melakukan serangan ke Romawi Timur, khususnya di pusat Kekaisaran Byzantium. Serangan ke dinding Kota Konstantinopel pun dimulai.

Sekitar 80 ribu pasukan Turki Utsmani dan 6.000 pasukan Janissary yang dikerahkan oleh Sultan Mehmed II al-Fatih. Mereka menewaskan 12 ribu pasukan Byzantium dan membakar armada laut galley Byzantium.

Itu menjadi salah satu torehan pencapaian gemilang dari pasukan Janissari. Peristiwa serangan tersebut berakhir ketika Byzantium berhasil direbut kembali. Setelah itu, Byzantium diubah jadi ibu kota baru Turki Usmani yang kini bernama Istanbul.

Dibubarkan karena terlibat kudeta

Ditakuti Eropa, Janissary Jadi Pasukan Elit Terkuat di Zamannya

(foto: allthatsinteresting)

Tercatat dari abad ke-15 sampai akhir abad ke-17, paling tidak ada 200 ribu sampai 300 ribu remaja laki-laki direkrut untuk menjadi Janissary.

Itu karena reputasi keunggulan dari pasukan Janissary yang membuat banyak keluarga dari daerah penaklukan yang berlomba-lomba mendaftarkan anak laki-laki mereka untuk bergabung.

Tapi sayangnya kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Menjelang akhir abad 17, para Janissary sempat terlibat kasus kudeta terhadap sultan di istana karena perebutan kekuasaan. Mereka banyak melanggar aturan dan terlibat dalam konspirasi politik.

Tugas sebagai Janissary justru disalahgunakan sebagai alat penggulingan kekuasaan. Melihat Janissary yang terus menggerogoti kekuatan militer Kekaisaran Turki Utsmani, Sultan Mahmud II memerintahkan pasukannya memerangi pasukan Janissary dan akhirnya pasukan elit itu pun dibubarkan pada tahun 1826.