inspirasi

Tradisi Kebo-Keboan, Wujud Syukur Masyarakat Petani Banyuwangi

Penulis:   | 

Indonesia memang punya banyak sekali keunikan budaya dari berbagai daerah. Salah satunya adalah tradisi dari Banyuwangi yang disebut dengan kebo-keboan.

Tradisi kebo-keboan masih dilestarikan sampai hari ini. Yang pertama kali melakukannya dulu adalah masyarakat Desa Alasmalang, Singojuruh, Banyuwangi.

Bukan hanya hiburan masyarakat, tapi tradisi ini adalah tontonan yang menarik untuk banyak orang, bahkan wisatawan asing.

Baca juga: Mitos Burung Perkutut, Sumber Ketenangan Orang Jawa Kuno

Pada awalnya dilaksanakan untuk mengatasi wabah pageblug di desa

Bagaimana sejarah awal dari tradisi kebo-keboan? Dahulu di Desa Alasmalang ada wabah pageblug atau wabah berbagai penyakit dan bencana. Banyak warga yang kemudian terserang penyakit.

Tanaman padi pun ikut terserang oleh hama. Alhasil, warga masyarakat banyak yang meninggal kelaparan. Di tengah situasi yang darurat, sesepuh desa melakukan ritual meditasi di atas bukit.

Dari meditasi yang dilakukannya, ia pun mendapat sebuah wangsit yang intinya warga masyarakat disarankan menggelar syukuran di desa dalam bentuk gelaran kebo-keboan.

Warga pun mengikuti perintah dari sesepuh dengan harapan wabah pergi dan panen pun bisa diperoleh kembali. Ternyata harapan masyarakat terwujud. Masyarakat bisa hidup dengan sejahtera kembali.

Dilakukan setahun sekali oleh masyarakat yang didandani mirip kerbau

Tradisi Kebo-Keboan, Wujud Syukur Masyarakat Petani Banyuwangi

(foto: brainfog)

Sejak saat itulah tradisi yang disebut kebo-keboan selalu digelar dari generasi ke generasi.

Tradisi ini biasa diadakan satu tahun sekali, yaitu pada bulan Sura menurut perhitungan kalender Jawa. Istilah kebo-keboan berasal dari bahasa Jawa yang artinya kerbau jadi-jadian.

Mengapa yang dipilih adalah hewan kerbau? Alasannya adalah karena kerbau biasa digunakan petani untuk mengelola sawahnya.

Memang namanya adalah kebo-keboan, tapi di dalam pelaksanaannya tidak ada kerbau sama sekali.

Dalam tradisi ini, yang berperan sebagai kerbau jadi-jadian adalah warga masyarakat, khususnya adalah petani. Jumlah kebo-keboannya adalah kurang lebih 18 orang.

Pesertanya didandani supaya mirip kerbau sungguhan yang lengkap dengan dua tanduk dan sebuah lonceng di leher.

Untuk memberi warna hitam pada kulit, pemerannya dioles-olesi dengan oli cair dicampur arang agar terlihat hitam seperti kerbau di sawah.

Baca juga: Rumah Batu Olak Kemang, Warisan Sejarah Kesultanan Jambi

Ada sajian makanan dan sesaji yang disiapkan dengan makna tertentu

Tradisi Kebo-Keboan, Wujud Syukur Masyarakat Petani Banyuwangi

(foto: kebo-keboan)

Saat berperan sebagai kerbau, orang-orangnya akan menunjukkan gerak gerik seperti seekor kerbau yang ada di sawah untuk membantu petani. Segala gerak gerik dari kebo-keboan ada di bawah pengawasan pawang.

Filosofi dari pelaksanaannya adalah sebuah rasa syukur masyarakat kepada Tuhan karena melimpahnya hasil panen.

Selain rasa syukur, kebo-keboan juga menjadi wujud doa dan harapan agar kondisi tanaman dan hasil panen pada tahun berikutnya bisa berjalan lancar.

Dalam pergelaran tradisi kebo-keboan, masyarakat biasanya melengkapi dengan berbagai sajian makanan yang disiapkan dengan sungguh-sungguh dan penuh perhitungan.

Jumlah makanan yang disajikan punya makna khusus yaitu;

  • 12 tumpeng yang melambangkan 12 bulan dalam setahun.
  • 7 porsi jenang suro yang melambangkan 7 hari dalam seminggu.
  • 5 porsi jenang sengkolo sebagai simbol hari pasaran pada kalender Jawa.

Seluruh sajiannya menjelaskan filosofi dari dimensi waktu pada siklus hidup manusia.

Ada serangkaian acara yang dilaksanakan oleh anggota masyarakat

Tradisi Kebo-Keboan, Wujud Syukur Masyarakat Petani Banyuwangi

(foto: liputan6)

Selain di Desa Alasmalang, di Banyuwangi juga ada tradisi yang sejenis yaitu keboan yang digelar di Desa Aliyan, Rogojampi, Banyuwangi.

Dalam sepekan sebelumnya, masyarakat kompak untuk melakukan berbagai kegiatan untuk membersihkan lingkungan mulai dari rumah masing-masing dan pekarangan.

Satu hari sebelum acara dilaksanaan, ibu-ibu berkumpul mempersiapkan sejumlah makanan dan sesaji. Bukan hanya makanan dan sesaji, tapi ada juga perlengkapan yang disiapkan.

Bukan hanya digunakan sebagai perlengkapan untuk selamatan, tapi sesaji juga ditempatkan di beberapa sudut perempatan jalan.

Malam harinya menjelang acara, giliran pemuda dusun beraksi mempersiapkan tanaman palawija, ketela pohon, tebu, dan lain-lain.

Berbagai tanaman yang telah dipersiapkan ditanam di sepanjang jalan di Dusun Krajan. Untuk mengairi tanamannya, ada juga sebuah bendungan khusus yang dibangun.

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.