inspirasi

Telusuri Chefchaouen, Kota Kuno Maroko yang Semua Bangunannya Berwarna Biru

Penulis:   | 

Kota Chefchaouen adalah salah satu destinasi wisata di Maroko yang memanjakan mata. Dibangun dalam konsep bernuansa biru cerah dengan perpaduan putih menjadikannya sangat menarik.

Banyak yang terpesona saat melihat indahnya kota yang berlokasi di Afrika Utara ini. Jelas terlihat adanya pengaruh beberapa budaya di dalamnya.

Menurut sejarah, kota ini pernah diduduki penjajah Spanyol pada abad ke-15. Pembangunannya dimaksudkan untuk perlindungan dari bangsa Portugis.

Tapi corak bangunannya lebih terpengaruh Arab dan Prancis, begitu juga bahasa masyarakatnya sehari-hari.

Baca juga: Hedy Lamarr, Aktris Jenius yang Berjasa di Balik Penemuan Teknologi Wi-Fi

Pertama kali dibangun pada abad ke-15 sebagai perlindungan dari Portugis

Telusuri Chefchaouen, Kota Kuno Maroko yang Semua Bangunannya Berwarna Biru

(foto: lonelyplanet)

Penduduk setempat menyebut kota ini dengan Chaouen. Dari kota besar Tangier, jarak tempuhnya hanya dua jam saja.

Kota unik ini sudah ada sejak abad ke-15 atau tepatnya tahun 1471. Pendirinya seorang pribumi bernama Moulay Ali ibn Rashid al Alami.

Awalnya berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk melawan Portugis yang berusaha untuk mengambil alih Maroko. Saat itu kota yang lebih besar seperti Tangier dan Ceuta sudah ditaklukkan Portugis.

Kota biru ini menjadi benteng pertahanan terakhir di wilayah pegunungan Rif di Maroko. Setelah peristiwa Reconquista, Portugis melakukan invasi ke Afrika utara.

Tidak hanya datang sebentar, tapi juga memperluas kekuasaan, menguasai komoditas ternak, gula, ikan, hasil perkebunan, kulit, dan madu di Maroko yang terkenal berharga tinggi.

Ada beberapa alasan mengapa penduduknya memilih biru untuk mewarnai bangunannya

Telusuri Chefchaouen, Kota Kuno Maroko yang Semua Bangunannya Berwarna Biru

(foto: middleast-monitor)

Rumah-rumah di sini dulunya bercat putih. Nuansa kebiruan pertama kali diterapkan oleh pengungsi Muslim dan Yahudi untuk hunian sendiri pada abad ke-15.

Ada yang menyebut soal pewarnaan birunya hanya muncul selama Perang Dunia II, ketika orang-orang Yahudi melarikan diri dari ancaman Hitler.

Sebagian yang lain menyebut bahwa warna biru muda mengingatkan penduduknya tentang langit dan kebesaran Tuhan.

Warna biru yang cerah juga dipercaya dapat menjaga kesejukan rumah pada musim panas di Maroko yang begitu terik.

Bagaimanapun alasannya yang bervariasi, tradisi mewarnai bangunan kota dengan warna biru masih berlanjut hingga sekarang dan menjadi daya tarik khusus bagi pelancong.

Baca juga: Alfred Nobel, Ilmuwan Penemu Dinamit dan Penggagas Penghargaan Nobel

Ada masjid besar dan bersejarah yang menjadi ikon penting di tengah kota  

Telusuri Chefchaouen, Kota Kuno Maroko yang Semua Bangunannya Berwarna Biru

(foto: lonelyplanet)

Setiap kunjungan ke sini, masjid dan museum kota menjadi tempat yang layak dikunjungi.  Masjid terbesarnya terletak di distrik bersejarah, Plaza Uta El Hammen sebagai pusat budaya kota.

Masjid kota dibangun tidak lama setelah kota didirikan dan juga dikaitkan dengan latar belakang pendirinya sendiri.

Masjid yang masih berfungsi merupakan bukti dari komunitas muslim yang terus berkembang di kota ini.

Menariknya, masjid di sana tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga sering digunakan oleh para pemimpin setempat untuk musyawarah publik.

Meskipun masjid telah dipugar, namun tetap memberi kesan sakral di tengah kesibukan masyarakat.

Sebenarnya masih ada masjid Spanyol di sini yang dibangun pada tahun 1920-an tapi sudah tidak digunakan.

Kotanya tidak terlalu besar, tapi pengunjung mungkin bisa tersesat di dalamnya

Telusuri Chefchaouen, Kota Kuno Maroko yang Semua Bangunannya Berwarna Biru

(foto: afar)

Selain wisata sejarah dan budaya dengan konsep unik, kota ini juga memiliki pesona alam yang menyenangkan.

Meskipun lokasinya termasuk sulit dijangkau karena berada di pegunungan, tetap banyak orang yang berkunjung ke sini.

Kota ini tidak terlalu besar, dapat dengan mudah dijelajahi dalam satu hari, tapi ditata sebagai labirin.

Jalan-jalan kecil di setiap belokan akan membuat orang mudah tersesat. Pintu-pintunya juga banyak yang dicat biru. Pintu masuk berbaur dengan dinding sekitar rumah dan toko.

Satu hal yang sebaiknya dipahami adalah bahwa sejumlah keterangan di sudut kota memakai bahasa Prancis dan Arab.

Akan lebih baik jika turis menyiapkan pengetahuan dasar sebelum kunjungan. Akan tetapi turis tidak perlu waspada kalau ke sana karena ada tour guide yang siap membantu.