inspirasi

Sejarah Geisha, Wanita Penghibur dengan Pakaian Tradisional dan Riasan Unik

By  | 

Sosok geisha sudah sejak dulu menjadi salah satu keunikan di negeri sakura Jepang. Tidak dimungkiri, sempat ada anggapan bahwa geisha adalah wanita penghibur.

Dilihat dari luarnya yang berdandan tebal, ia terlihat mencolok. Sebenarnya ia adalah pekerja seni tradisional di Jepang yang berkelas.

Untuk bisa menjalani pekerjaannya, ia juga melewati proses yang tidak mudah. Geisha memang bekerjasama dengan wanita penghibur kelas atas di Jepang yang dikenal dengan oiran, tapi perannya tidak mengarah pada prostitusi.

Baca juga: Menengok Desa Manyate Ethiopia, Tempat Ditemukannya Kopi Pertama Kali

Geisha sudah ada sejak tahun 1600 dan pada awalnya dijalani oleh pria

Sejarah Geisha, Wanita Penghibur dari Jepang dengan Pakaian Tradisional dan Riasan Unik

(foto: tota)

Sejarah telah mencatat bahwa geisha yang pertama ada di Jepang tahun 1600-an sebenarnya seorang pria. Tugasnya seperti pelayan yang menyajikan teh, membawakan cerita lucu, menyanyi, dan menghibur tuannya.

Sementara itu, wanita pertama yang menjadi geisha baru ada sejak tahun 1751. Hingga sekarang justru geisha dilakukan oleh para wanita.

Sosok wanita ini identik dengan riasan unik berwarna putih dan pakaian tradisional kimono.

Wajahnya seolah-olah ditaburi bedak sangat tebal, alisnya dipotong setengah, dan bibirnya bergincu merah menyala. Tapi ternyata dandanan yang mencolok adalah untuk wanita muda yang belum lama jadi geisha.

Makin dewasa, maka riasannya akan semakin sederhana. Geisha dianggap pensiun kalau sudah menikah.

Tugas utamanya menghibur tamu dengan penampilan seni dan obrolan seru

Sejarah Geisha, Wanita Penghibur dari Jepang dengan Pakaian Tradisional dan Riasan Unik

(foto: yourjapan)

Tidak sedikit yang menilai geisha sama dengan wanita penghibur kelas atas. Anggapan seperti itu mengakar kuat karena didukung fakta sejarah bahwa dahulu setelah Perang Dunia II banyak wanita Jepang yang menyambung hidup dengan menghibur para tentara di malam hari.

Bahkan sebagian yang dilayani adalah tentara Amerika. Karena itu, pemahaman soal pekerjaan ini di mata orang-orang barat adalah seperti wanita penghibur di rumah bordil.

Faktanya, geisha adalah sosok penghibur profesional yang pernah menjalani latihan khusus sehingga menjadi terampil.

Keterampilannya adalah menari, menyanyi, memainkan shamisen, atau setidaknya menjadi teman ngobrol yang menyenangkan.

Baca juga: Sejarah Matryoshka, Boneka Kayu dari Rusia dengan Filosofi Mendalam

Memiliki peran-peran yang berbeda dalam menghibur para tamunya

Sejarah Geisha, Wanita Penghibur dari Jepang dengan Pakaian Tradisional dan Riasan Unik

(foto: pinterest)

Sebenarnya geisha punya beberapa peran berbeda sesuai keahlian yang pernah ditempa pada dirinya saat latihan.

Sejak abad ke-18, terdapat sejumlah istilah bagi para geisha, misalnya kido, untuk yang bertugas di pintu masuk sebuah karnaval dan memainkan shamisen demi menarik tamu.

Ada juga shiro, untuk yang memang benar-benar tugasnya menghibur dengan mengobrol langsung.

Terlepas dari pakaian dan riasan putihnya yang unik, peran utamanya terletak pada keahliannya dalam seni dan membuat orang lain senang.

Reputasinya semakin baik seiring dengan keterampilan, wawasan, serta tutur katanya yang terdengar akrab. Untuk mendapatkan keterampilan tentunya perlu latihan khusus.

Untuk mengasah keterampilan, geisha perlu latihan khusus secara disiplin

Sejarah Geisha, Wanita Penghibur dari Jepang dengan Pakaian Tradisional dan Riasan Unik

(foto: pixabay)

Para wanita Jepang yang akan menjadi geisha melewati masa pelatihan intensif dan durasinya lama. Ada yang mulai mendapat latihan sejak balita sampai umur 20-an.

Apa saja yang dipelajari selama pelatihan? Selain melatih diri dengan seni pertunjukan, menyanyi, dan main musik, ada juga kewajiban untuk belajar merangkai bunga atau ikebana, kaligrafi, cara berbicara dengan pelanggan, belajar merias wajah dan menata rambut.

Lebih dari urusan keterampilan seni, geisha pun belajar berbagai ilmu humaniora seperti sastra dan politik. Keterampilan yang dipelajari tidak untuk pekerjaan menghibur orang saja, tapi juga untuk kehidupan sendiri.

Setelah ratusan tahun sejak kemunculannya di tengah kondisi perang, kini realitasnya sudah bergeser. Bukan lagi dilakukan karena tuntutan hidup, melainkan karena merawat tradisi.