inspirasi

Mirip Planet Mars, Sungai Rio Tinto di Spanyol Jadi ‘Laboratorium Alami’

By  | 

Sebagian orang mengenal Rio Tinto sebagai perusahaan tambang. Tapi mungkin belum banyak yang mengetahui kalau sebenarnya Rio Tinto berasal dari nama sungai di Spanyol.

Mengalir dari mata air pegunungan Sierra de Huelva, Andalusia, Sungai Rio Tinto melewati bagian barat daya Spanyol.

Uniknya, aliran sungai ini memukau dengan warna merah mirip permukaan planet Mars.

Namun, di balik warnanya yang menarik, sebenarnya terdapat bahaya bagi makhluk di sekelilingnya.

Baca juga: Vlad The Impaler, Drakula di Dunia Nyata yang Juga Dianggap Pahlawan

Aktivitas pertambangan menjadikan Rio Tinto berwarna merah

Terlihat Seperti Planet Mars, Sungai Rio Tinto di Spanyol Jadi 'Laboratorium Alami'

(foto: holidaywarehouse)

Rio Tinto yang mengalir sepanjang 100 km di Spanyol meliputi lembah dan gunung beserta peradaban manusia di dalamnya.

Tahun 3.000 SM, bangsa Tartessian dan Iberia sudah mendiami daerah pegunungan Sierra de Huelva sampai ke sepanjang alirannya.

Bangsa itulah yang pertama kali jadi penambang sungai secara tradisional. Bangsa Fenisia, Romawi, Yunani, Moor, dan Visigoth kemudian mengikuti.

Pertambangan emas, tembaga, perak, dan juga mineral lainnya di sepanjang aliran sungai sudah berlangsung sejak sekitar 5000 tahun lalu.

Karena aktivitas pertambangan, larutan tembaga pun menciptakan rona merah seperti planet Mars.

Sebenarnya merah bukan satu-satunya warna yang terlihat di sana. Mineral yang mengendap dan terkandung di dalamnya memunculkan warna kuning, oranye, hingga keemasan.

Rio Tinto merupakan tempat kelahiran Zaman Perunggu

Terlihat Seperti Planet Mars, Sungai Rio Tinto di Spanyol Jadi 'Laboratorium Alami'

(foto: pinterest)

Aliran Sungai Rio Tinto merupakan tempat kelahiran Zaman Perunggu sebagai kelanjutan dari Zaman Tembaga.

Pada Zaman Tembaga proses pertambangan belum dilakukan dengan teknik yang canggih.

Pada peradaban Zaman Perunggu mulai dikenal teknik peleburan tembaga untuk membuat perunggu.

Cara tradisional sudah tidak memberikan hasil maksimal, pertambangan pun ditinggalkan.

Sejak beratus-ratus tahun lamanya ditinggalkan, wilayah tambang di sungai ini ditemukan dan kembali beroperasi di bawah pemerintahan Kerajaan Spanyol pada tahun 1724.

Perusahaan tambang Rio Tinto mulai beroperasi secara resmi

Terlihat Seperti Planet Mars, Sungai Rio Tinto di Spanyol Jadi 'Laboratorium Alami'

(foto: abcnet)

Walau penduduk asli sebenarnya sudah mengenal potensi tambang di sekitar Sungai Rio Tinto, skalanya masih kecil dan dilakukan secara tradisional.

Mengingat masih adanya potensi besar, perusahaan tambang dari Inggris melakukan penggalian pada abad ke-19 secara besar-besaran.

Sejak saat itu sungai ini benar-benar berbahaya akibat keasaman yang naik drastis.

Lalu perusahaan multinasional dari Inggris dioperasikan secara resmi untuk mengelola pertambangan di sana.

Perusahaan tambang Rio Tinto, sesuai nama sungainya, menjadi salah satu yang terbesar di dunia sejak akhir abad ke-20.

Baca juga: Terkenal sebagai Ikon Kota Brussel, Patung Manneken Pis Punya Sejarah yang Unik

Tempat tinggalnya tidak layak lagi, penduduk pindah ke daerah lain

Terlihat Seperti Planet Mars, Sungai Rio Tinto di Spanyol Jadi 'Laboratorium Alami'

(foto: trekearth)

Karena aktivitas pertambangan besar-besaran, penduduk jadi terancam risiko berbahaya, kecuali kalau mau pindah tempat tinggal.

Wilayah pertambangannya memang sangat luas. Bukan hanya sungai, tapi sampai ke lembah dan gunung yang ditinggali penduduk.

Air bersih yang menjadi sumber penghidupan masyarakatnya sudah dicemari logam berat. Itulah mengapa daerah pertambangan Rio Tinto tidak layak lagi untuk ditinggali.

Agar terhindar dari bahaya, maka penduduk yang tinggal di daerah sekitar sungai harus dipindahkan ke daerah lain.

Lalu dibangunlah kota baru untuk para penduduk yang posisinya tak begitu jauh dari daerah asal.

Sungai Rio Tinto jadi objek wisata dan ‘laboratorium alami’

Terlihat Seperti Planet Mars, Sungai Rio Tinto di Spanyol Jadi 'Laboratorium Alami'

(foto: railwaygazette)

Setelah lama tidak dihuni penduduk, Rio Tinto menjadi semacam ‘laboratorium alami’.

National Centre of Astrobiology bekerja sama dengan NASA melakukan penelitian tentang ekosistem di sungai ini yang dinilai ada kemiripan dengan di permukaan Mars.

Ilmuwan juga menemukan bakteri yang hidup di sungai memakan mineral sulfida dan besi di bawah bebatuannya. Bakteri itulah yang menjadikan aliran sungai ini tidak terlalu berbahaya lagi.

Meskipun tidak aman untuk permukiman penduduk, pemandangan sungai ini bisa dinikmati wisatawan.

Spanyol juga sudah punya jalur kereta api yang memiliki rute melewati aliran sungai ini. Jadi para  pengunjung bisa menikmati suasananya dengan lebih aman.

Saat ini kawasannya ditetapkan menjadi kawasan yang dilindungi dan akan jadi bagian jaringan Geoparks Eropa.