inspirasi

Kisah Inspiratif Setsuko Thurlow, Korban Selamat Bom Hiroshima

By  | 

Meskipun sudah berlalu 75 tahun yang lalu, tragedi bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki masih menyisakan rasa pilu.

Sedikit kilas balik tentang sejarah ledakan bom atom 6 Agustus 1945 tersebut, ratusan ribu korban kehilangan nyawa saat kejadian ledakan tersebut, infrastruktur rusak, dan risiko radiasi yang berlangsung lama. Bahkan menjadi salah satu peristiwa paling membekas dari Perang Dunia II di Asia Pasifik.

Baca juga: Ditakuti Eropa, Janissary Jadi Pasukan Elit Terkuat di Zamannya

Setsuko Thurlow menjadi salah satu korban selamat

Kisah Inspiratif Setsuko Thurlow Menyelamatkan Korban Bom Hiroshima

(foto: nytimes)

Tidak dimungkiri, peristiwa yang diabadikan sejarah itu cukup menimbulkan trauma tersendiri di benak para korban selamat.

Para korban selamat disebut dengan ‘hibakusha’ yang artinya orang-orang yang terkena dampak bom. Salah satu korban selamat yang kemudian menjadi saksi hidup tragedi bom atom Hiroshima adalah Setsuko Thurlow.

Setsuko Thurlow yang lahir dengan nama Setsuko Nakamura masih berumur 13 tahun saat peristiwa ledakan itu terjadi.

Setsuko kecil hanya berjarak 1.8 kilometer dari hiposentrum ledakan. Dalam sekejap, delapan anggota keluarga dan 351 teman sekolahnya tewas.

Tidak menyerah walau terluka parah

Kisah Inspiratif Setsuko Thurlow Menyelamatkan Korban Bom Hiroshima

(foto: pixabay)

Setsuko yang selamat bukan berarti tidak terluka. Ketika bom akan jatuh, ia melihat kilatan cahaya putih kebiru-biruan. Lalu tiba-tiba tubuhnya terlempar begitu saja dan melayang ke udara.

Ia pun menyadari bahwa semua bangunan di sekitarnya hancur dan rata dengan tanah. Tubuhnya sendiri pun ikut jatuh dan tidak sadarkan diri.

Beberapa saat kemudian setelah ia kembali sadar, Setsuko menyadari sesuatu yang baru saja terjadi dan ia merasa seperti akan meninggal tidak lama lagi.

Setsuko ingin menyerah, saat itu juga ia bisa mendengar suara-suara para gadis muda yang merintih minta tolong.

Ia merangkak sekuat tenaga mencari sumber suara. Ternyata mereka adalah korban-korban selamat lain namun kondisi fisiknya sudah tidak berbentuk manusia normal.

Mereka kehilangan sebagian anggota tubuh. kkulit mengelupas, berlumuran darah, tulang belulangnya terlihat.

Dalam sebuah pidato di depan Norwegian Nobel Committee, ia menjelaskan peristiwa yang dialami tujuh dekade yang lalu.

“…Orang-orang terluka parah, mereka berdarah, terbakar, menghitam dan bengkak. Beberapa bagian tubuh mereka hilang. Daging dan kulit tergantung dari tulang mereka. Beberapa dengan bola mata tergantung di tangan.”

Baca juga: Keunikan Karang Kenek, Dusun Misterius yang Penduduknya Tidak Bisa Bertambah

Mendapat hadiah nobel

Kisah Inspiratif Setsuko Thurlow Menyelamatkan Korban Bom Hiroshima

(foto: reuter)

Setsuko bersama korban lain yang selamat beranjak ke tempat lain untuk mencari pertolongan. Saat ia menuju ke sebuah tempat pelatihan tentara, ternyata di sana sudah penuh jasad korban meninggal dan begitu banyak orang sekarat.

Terlalu mengerikan untuk dikenang dan diceritakan lebih lengkap, tujuh dekade kemudian Setsuko bergerak di organisasi The International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN).

Ia banyak memberi inspirasi dan mengajak orang seluruh dunia untuk mengambil tindakan terkait larangan senjata nuklir. Bahkan Setsuko mewakili ICAN mendapat hadiah Nobel Perdamaian pada 10 Desember 2017.

Dalam lanjutan pidatonya saat menerima hadiah Nobel tersebut Setsuko yang kini tinggal di Canada, selain mengenang keluarganya, juga mengungkapkan tentang rasa terima kasih dan harapan.

“Setiap kali saya ingat Hiroshima, gambar pertama yang muncul di benak saya adalah keponakan saya yang berusia empat tahun, Eiji. Tubuh kecilnya berubah menjadi potongan daging yang tidak dapat dikenali. Dia terus memohon air dengan suara lemah sampai kematian membebaskannya dari penderitaan.”

 “Saya berbicara sebagai anggota keluarga hibakusha, kami yang secara kebetulan selamat dari pemboman atom di Hiroshima dan Nagasaki. Selama lebih dari tujuh dekade, kami telah bekerja untuk penghapusan total senjata nuklir. Kalian masing-masing memberi saya harapan yang sangat besar sehingga kami dapat, dan akan, mengakhiri era senjata nuklir.”

Setsuko, sebelum mengakhiri pidatonya, berharap bahwa kisahnya yang memilukan tersebut bisa membuat orang-orang di dunia membuka mata tentang senjata nuklir.

“Senjata-senjata ini bukanlah kejahatan yang diperlukan, mereka adalah kejahatan tertinggi.”