inspirasi

Ketam Kenari, Kepiting Darat Terbesar di Dunia yang Suka Makan Kelapa

By  | 

Bayangkan kalau kamu melihat seekor kepiting sedang memanjat pohon atau menggigit batok kelapa.

Atau mungkin kepiting raksasa yang dapat melepas sendiri kawat yang mengikatnya. Bukan hanya melepas tapi juga mematahkan.

Bentuknya cukup menakjubkan untuk ukuran kepiting. Tapi ternyata hewan mirip kepiting raksasa ini bernama ketam kenari (Birgus latro).

Baca juga: Kisah Nyata Dina Sanichar, Bocah India yang Hidup di Hutan Bersama Serigala

Bisa hidup di berbagai wilayah di dunia, termasuk Indonesia

Ketam Kenari, Kepiting Darat Terbesar di Dunia yang Suka Makan Kelapa

(foto: newatlas)

Ketam kenari atau terrestrial hermit crab bisa hidup di sejumlah tempat, misalnya kepulauan di Samudera Hindia, Hawaii, Madagaskar, Australia, dan Seychelles.

Populasinya yang paling banyak dapat ditemukan di Pulau Christmas yang berada di barat daya Pulau Jawa.

Ketam kenari juga hidup di Indonesia, misalnya di Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Ternate, dan Halmahera Selatan.

Ada sedikit perbedaan antara ketam kenari di wilayah satu dengan wilayah lainnya. Perbedaannya adalah soal warna; dari ungu muda, merah hati, hingga kecokelatan.

Untuk menjaga kelembapan tubuh, ketam kenari sering menggali lubang di tanah gembur atau sembunyi di celah batu atau di bawah tanah.

Ketam kenari lebih banyak berada di darat dan akan ke laut untuk melepas telur.

Memiliki lima pasang kaki yang masing-masing punya fungsi sendiri

Ketam Kenari, Kepiting Darat Terbesar di Dunia yang Suka Makan Kelapa

(foto: ourmarine-species)

Sekilas wujud ketam kenari tidak begitu berbeda dari kepiting, tapi ukurannya jauh lebih besar.

Sebagai arthropoda darat paling besar di dunia, ketam kenari ukurannya bisa mencapai 1 m dan beratnya 4 kg.

Tubuhnya memiliki bagian yang masing-masing punya fungsi khusus. Bagian tubuh ketam kenari terbagi menjadi kepala, dada (cephalotorax), perut (abdomen), dan kaki.

Sebagaimana halnya kepiting, ketam kenari punya lima pasang kaki. Sepasang kaki yang paling depan fungsinya untuk pembuka kulit kelapa yang keras.

Dua pasang kaki selanjutnya dipakai untuk berjalan dan memanjat pohon. Satu pasang kaki keempat untuk melindungi diri. Satu pasang kaki yang terakhir dipakai untuk membersihkan bagian organ pernapasan.

Baca juga: Codex Gigas, Kitab Raksasa Misterius yang Memuat Potret Iblis

Suka mengonsumsi buah kelapa dan bisa memetik buahnya sendiri

Ketam Kenari, Kepiting Darat Terbesar di Dunia yang Suka Makan Kelapa

(foto: bbc)

Karena makanan yang disukainya adalah kelapa, maka habitatnya sering ditemukan  di sekitar pesisir pantai. Dengan capitnya yang sangat kuat, ketam kenari bisa memanjat pohon kelapa dan memetik sendiri buahnya.

Buah kelapa yang sudah dipetik akan dijatuhkan bersama tubuhnya. Ketiping ini turun dari pohon dengan menjatuhkan diri, tapi tidak sakit atau mati.

Masih dengan capitnya, kepiting raksasa ini mampu membuka kulit kelapa dan memecah batoknya yang keras. Setelah jadi potongan-potongan berukuran kecil, kelapa lebih mudah untuk dikonsumsi.

Hewan ini juga menggunakan pecahan batok kelapa sebagai pelindung bagian perut.

Saat sudah dewasa, ia tidak bercangkang, tapi mengeraskan perisai perut dengan zat kapur dan kitin. Dengan perut mengeras, ia tidak akan kehilangan air saat di darat.

Populasinya mulai berkurang akibat perburuan yang dilakukan manusia

Ketam Kenari, Kepiting Darat Terbesar di Dunia yang Suka Makan Kelapa

(foto: pinterest)

Untuk bertahan hidup, sebenarnya ketam kenari tidak hanya makan kelapa tapi juga biji-bijian, anak penyu, burung, dan tikus.

Hewan omnivora ini mampu hidup sampai 60 tahun, atau bahkan lebih lama lagi. Dengan catatan tidak ada predator, sumber makanannya melimpah, dan kondisi lingkungan yang tepat.

Mulai usia 5 tahun, ia sudah mampu melakukan reproduksi. Pada umumnya musim kawin dimulai saat bulan Mei lalu berakhir bulan September.

Ketam kenari betina melepas telur-telur ke lautan di saat kondisi air laut pasang. Sayang sekali di beberapa wilayah, populasi hewan unik ini berkurang. Banyak oknum yang memburunya untuk diperjualbelikan.

Untuk menjaga keberlangsungan hidupnya, beberapa daerah memberlakukan aturan pencegahan agar hewan unik ini tidak punah.