inspirasi

10 Kebiasaan Orang Lombok, Tidak Dijumpai di Tempat Lain

Penulis:   | 

6. Atraksi lu’u daha

10 Kebiasaan Orang Lombok, Tidak Dijumpai di Tempat Lain

(foto: editornews)

Atraksi yang disebut lu’u daha adalah tarian yang terinspirasi perlawanan rakyat dari Kerajaan Dompu kepada Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit.

Penampilan atraksi dilakukan dengan pedang, cambuk, tombak perisai, dan juga tangan kosong.

Baca juga: Keunikan Besek, Kemasan Tradisional yang Ramah Lingkungan

7. Upacara bau nyale

10 Kebiasaan Orang Lombok, Tidak Dijumpai di Tempat Lain

(foto: kompas)

Upacara bau nyale menjadi kebiasaan orang Lombok turun menurun. Waktu untuk menggelarnya adalah bulan 10 tangga 20 sesuai penanggalan Sasak di pantai-pantai Lombok, khususnya saat air laut sedang surut.

Tradisi dilakukan dengan menangkap nyale atau cacing laut. Asal mula tradisi bau nyale ini ada cerita rakyat Putri Mandalika.

8. Kawin culik suku Sasak

Kawin culik suku Sasak

(foto: genpi)

Suku Sasak di Lombok punya tradisi unik yaitu merari atau kawin culik. Penculikan calon mempelai wanita dilakukan oleh calon mempelai pria sebelum akad nikah dilangsungkan.

Penculikan biasa dilakukan saat malam hari agar terhindar dari keributan atau kegagalan.

Kawin culik tidak diketahui pihak keluarga wanita. Untuk masyarakat Suku Sasak, kawin culik dipahami sebagai ujian kesediaan si calon mempelai wanita yang akan ikut calon suami sesudah menikah.

9. Melestarikan pakaian adat 

Melestarikan pakaian adat 

(foto: tempo)

Tradisi melestarikan pakaian adat dilakukan pada saat ada kematian. Donggo Sambori adalah pakaian yang digunakan untuk ritual kematian, dan warnanya didominasi hitam. Selaian pakaian, ada juga penutup kepala yang disebut lupe atau waku.

Bentuknya lonjong dan menjadi payung ketika hujan. Bahannya adalah daun pandan hutan dengan serat yang kuat sehingga tidak gampang robek. Dahulu pakaian seperti ini dipakai peternak dan petani sawah dan padang rumput.

10. Peresean

Peresean

(foto: indonesiakaya)

Peresean adalah seni beladiri dengan perisai khas Lombok seperti pada zaman kerajaan. Awalnya, peresean dilakukan sebelum menuju medan perang.

Saat ini, peresean menjadi suatu ajang pembuktian ketangkasan kaum pria dari Suku Sasak. Bukan hanya seni beladiri, peresean digunakan juga sebagai cara untuk memanggil hujan di musim kemarau.

Itulah kebiasaan orang Lombok yang unik dan juga memiliki nilai luhur untuk menjaga warisan nenek moyang.

Halaman :

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.