inspirasi

Gua Ek Luntie, Saksi Bisu Tsunami Purba di Aceh Sejak Ribuan Tahun Lalu

By  | 

Peristiwa tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 sepertinya masih membekas di ingatan banyak orang. Tapi sebenarnya, tsunami di Aceh tidak hanya terjadi satu kali. Pesisir Aceh telah berulang kali diterjang tsunami.

Gua Ek Luntie di menjadi bukti pernah adanya tsunami purba di Aceh. Sesuai namanya, tsunami purba sudah terjadi sejak ribuan tahun.

Para peneliti sudah berhasil menemukan fakta penting berdasarkan kondisi alam yang ada di gua.

Baca juga: Kisah Nabi Daud, Bisa Melunakkan Besi dan Memiliki Suara yang Merdu

Menjadi lokasi penelitian tsunami di Aceh selain wilayah pesisir pantai

Gua Ek Luntie, Saksi Bisu Tsunami Purba di Aceh sejak Ribuan Tahun Lalu

(foto: abulyatama)

Para peneliti di beberapa bidang ilmu kebumian telah berusaha menelusuri riwayat tsunami di Aceh di zaman purba.

Permukaan tanah yang naik turun karena gempa juga berpengaruh pada perubahan bentuk terumbu karang di sepanjang pantai.

Pada umumnya memang pesisir pantai di saat tenang adalah tempat ideal untuk melakukan penelitian tentang tsunami di masa lalu. Endapan tsunami di masa lalu tidak mudah terkena erosi oleh air laut.

Tidak hanya di pantai, jejak tsunami di masa lalu juga ditemukan di Gua Ek Luntie. Karena itu, penelitian tsunami juga dilakukan dengan fokus di Gua Ek Luntie.

Sebagai salah satu upaya agar masyarakat lebih tanggap bencana, wilayah Gua Ek Luntie dibentuk menjadi geopark tsunami dan tidak ada pemukiman di sekitarnya.

Terdapat lapisan tanah dan endapan lumpur dengan kedalaman berbeda-beda

Gua Ek Luntie, Saksi Bisu Tsunami Purba di Aceh sejak Ribuan Tahun Lalu

(foto: bnpb)

Gua Ek Luntie yang lebih dikenal sebagai gua tsunami purba (paleotsunami) berlokasi di Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar.

Gerbang untuk memasuki gua berbentuk horisontal yang ukurannya sekitar 5 x 8 m. Dengan sedikit penerangan lampu, orang yang masuk ke dalamnya bisa langsung menginjak lapisan tanah yang bercampur endapan lumpur.

Sebelum diteliti, lapisan tanah di Gua Ek Luntie dengan kedalaman yang berbeda-beda pernah dibiarkan begitu saja bertahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan sampel yang diteliti, diperoleh beberapa lapisan yang mengandung lumpur, pasir, dan air yang dahulu pernah terseret masuk ke gua saat peristiwa tsunami.

Baca juga: Pernah Jadi Medan Perang, Situs Bersejarah Plain of Jars Laos Penuh Ranjau

Ada lebih dari 14 peristiwa tsunami purba yang pernah terjadi di Aceh

Gua Ek Luntie, Saksi Bisu Tsunami Purba di Aceh sejak Ribuan Tahun Lalu

(foto: mongabay)

Sejauh ini, Gua Ek Luntie menjadi satu-satunya objek paleotsunami yang sudah berhasil diteliti di Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari beberapa disiplin ilmu, sisa-sisa tsunami pada zaman purba berhasil ditemukan.

Beberapa kubangan air di bawah tanah dalam gua juga terdiri atas campuran air laut dan air tanah. Lumpur yang mengendap juga memiliki umur yang berbeda.

Menurut para peneliti dari Universitas Syah Kuala Aceh dan Nanyang Technological University Singapura, ada lebih dari 14 peristiwa tsunami purba yang pernah menghantam Aceh.

Di antara semua tsunami di Aceh, enam yang terbesar pernah terjadi pada tahun 900, 1349, 1450, 1797, 1833, dan 2004.

Informasi yang ditemukan diharapkan bisa membuat masyarakat lebih siap menghadapi bencana

Gua Ek Luntie, Saksi Bisu Tsunami Purba di Aceh sejak Ribuan Tahun Lalu

(foto: aacom)

Sejumlah informasi tentang siklus terjadinya tsunami Aceh yang tidak teratur dianalisis berdasarkan endapan struktur tanah.

Bukan hanya sebatas informasi atau angka-angka, tapi hal ini diharapkan menjadi kesadaran baru bagi warga Aceh.

Temuan fakta di Gua Ek Luntie bisa menjadi pengingat tersendiri bahwa siklus tsunami tidak teratur, artinya bisa datang kapan saja.

Para peneliti dan pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga berkoordinasi untuk meningkatkan kesadaran tentang mitigasi bencana.

Sehingga tsunami Aceh tidak hanya menjadi peristiwa yang menelan banyak korban, tapi juga memahami cara menghadapi dan mengatasinya.