inspirasi

Dikaitkan dengan Ilmu Hitam, Praktik Santet Sudah Ada Sejak Ratusan Tahun di Indonesia

By  | 

Istilah santet sudah tidak asing lagi terdengar di kalangan masyarakat Indonesia. Beberapa daerah mempunyai jenis santetnya sendiri.

Konon hal ini dilakukan karena balas dendam, perebutan kekuasaan, ingin membuat orang lain celaka, entah itu sakit, kesusahan, atau bahkan sekarat.

Di balik pandangan negatif yang menyertai, tenyata ilmu ini sudah ada di Indonesia sejak ratusan tahun. Kegiatan yang dikaitkan dengan ilmu hitam ini juga termasuk warisan budaya masa lampau.

Baca juga: Manchineel, Pohon Mirip Apel yang Beracun dan Bisa Sebabkan Luka Bakar

Ada yang menganggap sebagai kejahatan tapi ada juga yang netral saja

Dikaitkan dengan Ilmu Hitam, Praktik Santet sudah Ada Sejak Ratusan Tahun di Indonesia

(foto: pinterest)

Kegiatan ini dikenal dalam berbagai istilah misalnya; sihir (witch craft) atau tenung (sorcery) dan dikaitkan dengan ilmu hitam (black magic). Pada umumnya praktiknya dilakukan oleh dukun atau paranormal.

Pelakunya akan mentransfer energi negatif dengan perantara tertentu kepada orang lain. Cara melakukannya bisa dari jarak dekat maupun jarak jauh.

Isu ini menjadi isu yang banyak diperdebatkan di tengah-tengah masyarakat yang heterogen. Perspektif yang muncul pun beragam.

Ada yang menolak tegas karena alasan keyakinan agama dan ada yang menilainya sebagai kejahatan yang terselubung.

Tapi api ada juga yang netral saja, menganggapnya tidak masuk akal dan sekadar jadi wawasan.

Sempat bercampur dengan kepercayaan seperti animisme dan dinamisme  

Dikaitkan dengan Ilmu Hitam, Praktik Santet sudah Ada Sejak Ratusan Tahun di Indonesia

(foto: fineartamerica)

Sejarahnya sebenarnya berawal sejak ratusan tahun lalu. Saat itu masyarakat masih menganut kepercayaan tradisional seperti animisme dan dinamisme. Sebagian lainnya menganut agama Hindu atau Budha.

Pada era Hindu atau Budha, praktik ilmu-ilmu gaib cenderung terlihat kabur. Bahkan bercampur-baur dengan samar bersama keyakinan animisme atau dinamisme di tengah masyarakat.

Uniknya, ketika Islam masuk ke wilayah nusantara, praktik ini jadi semakin menonjol. Ada golongan masyarakat yang menganut Islam tapi masih melakukan praktik santet.

Karena beragam motif yang pada umumnya negatif, pelaku akan mengirimkan benda-benda misalnya paku, jarum, pecahan kaca, atau benda tajam lain melalui perantara ilmu gaib atau mistik.

Baca juga: Telusuri Chefchaouen, Kota Kuno Maroko yang Semua Bangunannya Berwarna Biru

Sudah menjadi sebuah realitas sosial sehari-hari dalam berbagai bidang kehidupan

Dikaitkan dengan Ilmu Hitam, Praktik Santet sudah Ada Sejak Ratusan Tahun di Indonesia

(foto: paranormal-encounter)

Di tanah air ada beberapa suku yang konon ilmu gaibnya adalah berasal dari nenek moyang. Dalam hal ini santet menjadi semacam realitas sosial.

Seperti yang dikutip di dalam buku A. Masruri yang berjudul The Secret of Santet (2010), ilmu ini merupakan warisan dari masa lalu yang masih bertahan di tengah masyarakat Sunda sampai sekarang.

Hal itu merujuk pada sebuah naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang tertulis sejak abad ke-6 Masehi.

Di sana santet disebut dengan teluh yang merupakan perasaan sakit hati, kemurungan, dan rasa tidak suka yang berusaha dialihkan ke orang lain.

Di antara banyak wilayah di Indonesia, Banten menjadi wilayah yang banyak memiliki tradisi ini. Dahulu Banten masih menjadi wilayah Jawa Barat dan didominasi suku Sunda.

Ternyata dahulu praktik santet pernah dilakukan untuk tujuan yang baik

Dikaitkan dengan Ilmu Hitam, Praktik Santet sudah Ada Sejak Ratusan Tahun di Indonesia

(foto: alchetron)

Sejumlah kasus terkait santet pun sempat membingungkan tenaga medis. Ada pasien sakit tapi ternyata tidak ada penyakitnya.

Ibaratnya sakit yang dialami merupakan ‘penyakit kiriman’ yang belum terpecahkan secara ilmiah.

Terkait dengan istilah kiriman, tahukah kamu bahwa di era patih Gadjah Mada pada abad ke-13, santet dimanfaatkan untuk mengirim bahan makanan untuk para prajurit yang sedang berjuang di medan perang.

Dari jauh makanan dikirimkan untuk dimasukkan ke dalam perut prajurit agar tetap kuat dan bertahan.

Tapi saat Belanda datang pada abad ke-17, dukun santet diundang untuk memindah benda-benda yang tajam kepada hewan tertentu.

Setelah diketahui bahwa praktik ini dapat dipergunakan untuk mencelakai pihak musuh dalam perang, dukun yang baik justru disingkirkan. Lambat laun, informasi soal isu ini pun menyebar.

Di kemudian hari hal ini hanya dikenal sebagai aksi untuk  mencelakakan, bukan untuk memberi manfaat.