inspirasi

Bukan Mayat Hidup, Zombie Ternyata Seorang Pejuang Islam

By  | 

Zombie yang kita tahu selama ini sering muncul di film horor, video game, dan cerita fantasi. Zombie dideskripsikan sebagai makhluk yang tak punya pikiran tapi menyerang manusia yang masih hidup.

Zombie juga muncul sebagai wabah yang menakutkan bagi manusia. Karya populer seperti film World War Z dan game Resident Evil turut mewarnai imajinasi orang-orang tentang zombie.

Terlepas dari hal-hal yang menakutkan, ternyata ada sejarah mengenai sosok Zombie yang merupakan pejuang Islam.

Baca juga: Mengenal Sargon, Penakluk Mesopotamia yang Pernah Dibuang ke Sungai

Ada beberapa versi tentang asal kata zombie

Bukan Mayat Hidup, Zombie di Brazil Ternyata Seorang Pejuang Islam

(foto: theconversation)

Ketika kita mencari tahu tentang asal zombie sebenarnya, akan ada banyak versi jawaban. Mulai dari asal namanya sampai negara-negara yang terkait dengan sejarahnya. Jika dirunut sejarahnya, ternyata istilah zombie bermula dari ratusan tahun lalu.

Ada pendapat bahwa istilah ini asalnya dari kosa kata di Afrika Barat. Yang pertama adalah ndzumbi dalam bahasa Mitsogo (di negara Gabon) yang berarti mayat.

Ada juga yang menyebut nzambi dalam bahasa Kongo yang berarti jiwa orang yang sudah mati.

Diketahui bahwa wilayah Afrika Barat merupakan kampung halaman budak-budak yang dikirim ke Eropa untuk bekerja pada perkebunan.

Di masa kolonial Portugis tahun 1500-an, banyak budak Afrika yang dipaksa pindah ke Hindia Barat. Hindia Barat meliputi Negara-negara di kepulauan Karibia, Samudera Atlantik, dan sebagian kecil Amerika Selatan.

Dikaitkan dengan kehidupan para budak Afrika yang kerja paksa

Bukan Mayat Hidup, Zombie di Brazil Ternyata Seorang Pejuang Islam

(foto: wsj)

Praktik perbudakan mendorong bangkitnya Prancis dan Inggris menjadi kekuatan dunia dalam perekonomian. Salah satunya disokong oleh keuntungan besar dari perkebunan mereka.

Budak-budak Afrika memiliki kepercayaan masing-masing. Akan tetapi, Prancis secara hukum waktu itu membuat aturan agar mereka semua memeluk Katolik.

Alhasil, muncullah beberapa kepercayaan yang menggabungkan tradisi berbeda-beda, misalnya: Santeria di Kuba, Obeah di Jamaika, dan yang terkenal Voodoo di Haiti.

Selain soal agama, menurut kepercayaan orang-orang Afrika saat itu, konon ahli sihir mampu bangkitkan jasad yang telah mati untuk menjadi budak atau mayat hidup dengan pengaruh sihir kuat.

Zombie yang dikenal seram, tidak kenal lelah, walau tak punya keinginan ini bisa dipahami sebagai kondisi kerja paksa yang dialami budak Afrika.

Baca juga: Jadi Penemuan Menakjubkan, Patung Pasukan Terakota Punya Ekspresi Wajah Berbeda

Zumbi di Brazil membebaskan orang-orang Muslim dari perbudakan

Bukan Mayat Hidup, Zombie di Brazil Ternyata Seorang Pejuang Islam

(foto: todamateria)

Sementara itu di Brazil, Amerika selatan (tidak jauh dari Hindia Barat) yang dikuasai Portugis sejak 1500 Masehi juga berlangsung eksploitasi kekayaan alam yang memanfaatkan tenaga budak Afrika.

Tercatat kemudian budak Afrika yang didatangkan oleh kolonial Portugis membawa Islam sampai ke Brazil sekitar tahun 1550 Masehi.

Sejak saat itu makin banyak pula warga lokal yang memeluk Islam. Posisi budak di masyarakat pun jadi lebih kuat. Mengetahui hal itu, Portugis berusaha membasmi orang-orang Muslim secara brutal. Tentu saja peristiwa itu menimbulkan perlawanan.

Di balik perlawanan itu ada sosok Zumbi dos Palmares, seorang ksatria di sejarah Brazil. Zumbi adalah raja terakhir di Quilombo dos Palmares, sebuah permukiman Afro-Brazil yang berhasil membebaskan diri dari perbudakan Portugis saat itu.

Kisahnya ada di buku 100 Tokoh Islam yang Berpengaruh Terhadap Sejarah karya Jihad at Turbany.

Namanya diabadikan sebagai salah satu bandara internasional di Brazil

Bukan Mayat Hidup, Zombie di Brazil Ternyata Seorang Pejuang Islam

(foto: panrotas)

Zumbi memimpin Palmares di Brazil timur tahun 1655-1695 Masehi. Sebenarnya ia bukan asli Brazil, melainkan satu di antara ribuan budak Afrika yang dipaksa mengeksploitasi kekayaan alam Brazil oleh pemerintah kolonial Portugis.

Literatur Amerika dan Eropa pun sepakat tentang adanya komunitas Muslim yang kuat dan hidup bersama Zumbi dos Palmares.

Ketegangan penduduk Palmares dan penjajah Portugis makin meningkat. Tahun 1694, Portugis melancarkan serangan di Palmares.

Pada 6 Februari 1694, Portugis memporak-porandakan Cerca do Macaco, yaitu pemukiman pusat kerajaan.

Beberapa perlawanan pun berlanjut, tetapi pada 20 November 1695 Zumbi yang disegani karena kecerdikannya akhirnya tewas terpenggal kepalanya. Namanya diabadikan sebagai salah satu bandara internasional di Brazil.