inspirasi

Thariq bin Ziyad, Panglima Muslim yang Pernah Membebaskan Andalusia

By  | 

Thariq bin Ziyad merupakan salah satu panglima perang yang selalu dikenang karena keberaniannya.

Sejarah mencatat kecerdikannya dalam mengatur pasukan Islam saat akan menyeberang selat Gibraltar ke daratan Eropa pada masa kekhalifahan Bani Umayyah.

Saat itu tujuan utama ke Eropa, tepatnya Andalusia Spanyol, adalah membebaskan rakyatnya dari kezaliman Raja Roderick.

Berangkat dari Afrika Utara tahun 711 M, ia membawa ribuan pasukan menuju Andalusia. Sejak saat itu Islam berhasil menduduki Andalusia beberapa abad dan membawa banyak kemajuan sampai berabad-abad lamanya.

Baca juga: Ditemukan Lumiere Brothers, Ini Awal Mula Bioskop Pertama di Dunia

Sejak masa muda sudah berjihad di Afrika Utara

Thariq bin Ziyad, Panglima Muslim yang Pernah Membebaskan Andalusia

(foto: fineartamerica)

Dilahirkan pada tahun 670 M atau 50 H di kota Kenchela, tetapi ia lebih lama tinggal di Maroko. Secara garis keturunan, ia juga bukan bangsa Arab.

Sebagaimana umat muslim yang taat, ia banyak membaca Alquran dan belajar hadis. Masa mudanya tidak banyak diketahui adanya hal yang mencolok.

Thariq bin Ziyad kemudian bergabung sebagai pasukan jihad yang dipimpin Musa bin Nushair ke Afrika Utara. Pada masa Kekhalifahan Bani Umayyah, Afrika Utara adalah daerah yang strategis.

Masyarakat di sana, khususnya Maroko, sudah kenal dengan Islam sejak lama. Tapi mereka masih belum meyakini sepenuhnya. Masih banyak yang menganut kepercayaan sesuai tradisi sebelumnya.

Keberanian dan loyalitasnya saat itu membuat kagum Musa bin Nushair. Dengan pendekatan yang damai kepada masyarakat,  Kota Al-Hoceima berhasil ditaklukkan.

Al-Hoceima adalah salah satu kota penting dan strategis di Maroko. Inilah yang menjadi momentum yang penting sebelum berlanjut menaklukkan Andalusia melalui Selat Gibraltar.

Mulai melakukan ekspansi kerajaan ke Andalusia

Thariq bin Ziyad, Panglima Muslim yang Pernah Membebaskan Andalusia

(foto: visiontimes)

Saat itu Andalusia masih dikuasai Raja Roderick dari Visigoth yang kejam pada rakyatnya. Masyarakat Andalusia pun terbuka pada umat Islam yang datang untuk membebaskannya dari Roderick.

Ekspansi kerajaan ke Andalusia sudah pernah dimulai sebelumnya. Baru benar-benar terlaksana sejak adanya Thariq bin Ziyad.

Tahun 710 M pertengahan, ia berangkat dengan empat kapal dan membawa 500 pasukan terpilih. Pasukan terpilih itu pada awalnya hanya memelajari situasi di Andalusia dan tidak menyerang Raja Roderick dengan senjata.

Begitu mendapat kabar yang bisa dipercaya, ia membawa 7000 orang pasukan terbaik untuk menyebrang menuju ke Andalusia pada tahun 711 M.

Raja Roderick mempersiapkan pasukan untuk menghadapi kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad. Tidak tanggung-tanggung, ada 100.000 pasukan disiapkan lengkap dengan seperangkat peralatan perangnya.

Tapi akhirnya pasukan Muslim menjadi pemenang dengan pasukan tambahan yang dikirim amir Musa bin Nushair. Saat itu Raja Roderick terbunuh di pertempuran pada bulan Juli 711 M.

Baca juga: Seperti Menggantung di Langit, Biara Meteora Dibangun pada Tebing Raksasa

Thariq bin Ziyad selalu mengobarkan semangat pasukannya

Thariq bin Ziyad, Panglima Muslim yang Pernah Membebaskan Andalusia

(foto: pinterest)

Sebelum peperangan berlangsung, ada peristiwa heroik yang banyak dikisahkan turun temurun. Bahwa Thariq bin Ziyad sengaja membakar kapal-kapalnya setelah menyeberangi Selat Gibraltar.

Narasi yang terbentuk adalah soal keberanian untuk maju menghadapi musuh perang atau mengalah sebelum berperang.

“Lautan terbentang di belakang kalian, musuh-musuh berada di hadapan kalian, dan tidak ada jalan selamat bagi kalian kecuali dengan pedang!” demikian kalimat yang sering dikutip sebagai pengobar semangatnya pada pasukannya.

Meski sangat terkenal dan terkesan mengharukan, tapi ternyata peristiwa pembakaran kapal tidak disepakati oleh ulama sejarah.

Tidak ada bukti kuat tentang kisah pembakaran kapal

Thariq bin Ziyad, Panglima Muslim yang Pernah Membebaskan Andalusia

(foto: britannica)

Dr. Raghib as-Sirjani seorang sejarawan dan pakar jarh wa ta’dil atau ilmu penelitian tentang periwayatan menyatakan bahwa kisah pembakaran kapal justru bertentangan dengan semangat yang dibangun sejak awal di Bani Umayyah.

Thariq bin Ziyad juga tidak sendiri dalam memberi komando, melainkan harus ada persetujuan Musa bin Nushair selaku amir kerajaan.

Pembakaran kapal juga gegabah dan membahayakan pasukan kaum muslimin yang secara kuantitas jauh lebih sedikit.

Ada lagi informasi lain yang lebih dinilai akurat. Al-Bayan al-Maghrib dari Ibnu Adzari dan Al-Raudh al-Mu’thar dari Al-Himyari mencatat bahwa kapal-kapal pasukan umat Islam ke Andalusia bukan milik Thariq bin Ziyad semuanya.

Sebagian di antaranya adalah milik Raja Julian dari Bizantium yang berseteru dengan Roderick.

Setelah berhasil membebaskan Andalusia, ia mengembalikan sebagian kapal-kapal pinjaman kepada Raja Julian.

Yang pasti jasanya di Andalusia saat itu diabadikan menjadi nama selat Gibraltar yang menghubungkan antara Maroko dan Spanyol.

Gibraltar merupakan bahasa Spanyol yang dalam bahasa Arab disebut Jabal Thariq atau Bukit Thariq.