inspirasi

Tan Jin Sing, Sosok Berjasa Dibalik Penemuan Candi Borobudur

By  | 

Indonesia dikenal banyak memiliki warisan sejarah, contohnya Candi Borobudur yang diperkirakan merupakan salah satu candi Budha terbesar di dunia. Borobudur dibangun sekitar tahun 750 Masehi dan menjadi pusat perkembangan agama Budha.

Tapi sempat terlantar ribuan tahun, tertutup tanah dan pepohonan, bahkan menjadi sebuah bukit. Setelah ribuan tahun ditelantarkan itu, baru kemudian tahun 1812 menjadi tonggak sejarah yang baru. Jalan ke Borobudur dibuka kembali.

Namun jarang yang tahu, ada sosok Tan Jin Sing yang berjasa besar atas penemuan Candi Borobudur.

Baca juga: Muhammad Al-Fatih, Penakluk Konstatinopel yang Punya Strategi Perang Cerdas

Ketertarikan Thomas Stamford Raffles pada Candi Borobudur

Inilah Tan Jin Sing, Sosok yang ‘Menemukan’ Candi Borobudur

(foto: traveloka)

Pada tahun 1812 Pulau Jawa masih berada di bawah kekuasaan Inggris, dengan Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles.

Sebelumnya, Raffles pernah mengungkapkan ketertarikan kepada candi-candi peninggalan nenek moyang orang Jawa dan ingin menelitinya dengan bantuan dari John Crawfurd. Crawfurd adalah seorang residen Inggris di Yogyakarta.

Raffles juga sempat mendengar kabar tentang bangunan kuno yang sangat besar di hutan, tepatnya di desa Bumisegoro, dekat Muntilan, Kabupaten Magelang. Bangunan yang dimaksud adalah Candi Borobudur.

Bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1812, hari itu Tan Jin Sing bertamu ke rumah John Crawfurd. Crawfurd sedang bersama dengan atasannya, yakni letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles.

Kepada Raffles, ia memperkenalkan diri sebagai Bupati Yogyakarta yang diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono III.

Menanggapi ketertarikan Raffles

Inilah Tan Jin Sing, Sosok yang ‘Menemukan’ Candi Borobudur

(foto: zoological society of london)

Mulai mengerahkan pasukan untuk membuka jalan ke Borobudur sekaligus menanggapi ketertarikan Raffles, Tan Jin Sing dan mandornya yang bernama Rachmat, berangkat dengan kereta kuda menuju Bumisegoro.

Tidak banyak yang tahu, ternyata ada sosok yang sangat berjasa memperkenalkan kemegahan Borobudur kepada dunia.

Peristiwa itu diprakarsai oleh Tan Jin Sing, bupati Yogyakarta yang bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Secodiningrat.

Tan Jin Sing diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono III. Ia dan anak buahnya mengeksplor candi Borobudur untuk melakukan restorasi dengan melibatkan peran Thomas Stamford Raffles.

Baca juga: Sisi Kelam Kehidupan Animator Jepang, Gaji Rendah dan Rentan Depresi

Jejak kehidupannya

Inilah Tan Jin Sing, Sosok yang ‘Menemukan’ Candi Borobudur

(foto: kekunoan)

Terlepas dari kilas sejarah Borobudur, ada beberapa hal lagi yang menarik untuk kita ketahui. Sosok Tan Jin Sing sebelum menjadi Bupati Yogyakarta adalah seorang kapitan Tionghoa yang punya peran besar terkait dengan pengabdian di Keraton Yogyakarta atau Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Berdasarkan informasi dari buku Tan Jin Sing: dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta yang ditulis TS Werdoyo, ia lahir di Wonosobo dengan nama asli Raden Luwar.

Dia adalah anak pasangan Ki Demang Kalibeber dan Raden Ayu Patrawijaya. Ibunya adalah putri dari Sunan Mataram Mangkurat Agung.

Sepeninggal Demang Kalibeber, Raden Ayu Pratawijaya dinikahi Oei The Long. Resmi jadi anak tiri, Oei The Long, Raden Luwar diberi nama Tionghoa Tan Jin Sing.

Dikenal pandai sejak kecil, di umurnya yang baru 11 tahun sudah mampu menguasai 5 bahasa, yakni bahasa Melayu, Belanda, Inggris, Hokkian, dan Jawa.

Masyarakat mengenalnya sebagai sosok cakap dan pandai. Saat itu, ia juga berhasil mengemban amanah dengan baik dalam memimpin masyarakat Tionghoa di Yogyakarta.

Kehidupannya di Kampung Ketandan

Inilah Tan Jin Sing, Sosok yang ‘Menemukan’ Candi Borobudur

(foto: traveltodayindonesia)

Jejak kehidupannya bisa ditemukan di daerah Kampung Ketandan, Yogyakarta. Sebagian dari bangunan rumah Tan Jing Sing di Kampung Ketandang masih bisa dikunjungi oleh wisatawan yang ingin napak tilas kehidupannya.

Tan Jin Sing atau KRT Secodiningrat menjabat sebagai bupati Yogyakarta sampai meninggal pada 10 Mei 1831. Keturunan KRT Secodiningrat terus menjunjung tinggi perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa, sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Di Yogyakarta, namanya sempat diabadikan menjadi Jalan Secodiningratan, namun kemudian diganti menjadi Jalan P. Senopati.