inspirasi

Sosok Ted Bundy, Pembunuh Berantai yang Hobi Koleksi Kepala Wanita Cantik

By  | 

Ted Bundy adalah seorang pembunuh paling kejam yang pernah ada dunia. Salah satu kebiasaannya sangat mengerikan, yakni mengoleksi kepala.

Bukan kepala hewan buruan, tapi kepala para wanita cantik yang telah dihabisinya. Konon korban-korbannya memiliki kemiripan dengan sang mantan kekasih yang telah berpisah dengannya saat kuliah.

Berita tentang kejahatan yang dilakukannya sempat menghebohkan Amerika. Kisah hidupnya yang kontroversial juga pernah difilmkan dengan judul Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile (2019).

Baca juga: Paling Sepi di Dunia, Inilah Kota Monowi yang Penghuninya Hanya Satu Orang

Punya latar belakang pendidikan psikologi dan menjadi relawan anti bunuh diri

Sosok Ted Bundy, Pembunuh berantai yang Hobi Koleksi Kepala Wanita Cantik

(foto: crimemuseum)

Theodore Robert Bundy atau yang lebih dikenal dengan nama Ted Bundy adalah seorang warga Amerika Serikat kelahiran 24 November 1946.

Kebanyakan orang mengenalnya sebagai sosok yang menarik, dalam hal penampilan maupun pergaulannya. Siapa sangka di kemudian hari namanya tercatat dalam sejarah sebagai sosok penjahat.

Di balik reputasinya yang mengerikan, ternyata ia adalah seorang yang berpendidikan tinggi dengan fokus bidang ilmu psikologi.

Semakin ironis lagi saat diketahui bahwa ia pernah menjadi seorang relawan untuk aksi mencegah bunuh diri.

Namanya sempat terdaftar di Seattle’s suicide hotline crisis center setahun sebelum lulus dari Washington University tahun 1972.

Koleganya menilai bahwa saat masih kuliah, pembawaannya ramah, punya empati besar, dan  senang bersosialisasi. Semuanya berubah sejak ia bertemu kekasihnya yang kemudian meninggalkannya.

Membunuh banyak wanita muda dan mengambil kepalanya untuk dikoleksi

Sosok Ted Bundy, Pembunuh berantai yang Hobi Koleksi Kepala Wanita Cantik

(foto: oxygen)

Ketika masih kuliah, ia sempat kenal dengan wanita cantik bernama Stephanie Brook dan kemudian menjadi kekasihnya. Karena satu dan lain hal, keduanya berpisah.

Stephanie menilainya tidak punya kehidupan yang bisa diandalkan dan karakternya juga belum dewasa. Konon didorong oleh perasaan dendam, ia lantas banyak mengincar para gadis remaja dan wanita muda.

Bukan untuk dijadikan pasangan baru, tapi untuk dibunuh secara keji. Kebanyakan korbannya punya rambut panjang lurus berwarna coklat seperti Stephanie.

Selain membunuh, ia juga menggergaji kepala para korban sampai terlepas dari tubuh masing-masing untuk kemudian disimpan sebagai kenang-kenangan.

Karena kelakuannya yang tidak wajar, banyak yang mempertanyakan kondisi kejiwaannya.

Baca juga: Welwitschia Mirabilis, Tanaman Langka Afrika yang Ada Sejak Zaman Dinosaurus

Mengaku telah membunuh 30 korban dari beberapa wilayah di Amerika

Sosok Ted Bundy, Pembunuh berantai yang Hobi Koleksi Kepala Wanita Cantik

(foto: insider)

Sekian lama ia menolak untuk mengakui dakwaan yang ditujukan padanya. Seolah ia ingin terus menghindar dari sanksi atas tindak kejahatan yang telah ia lakukan.

Ia bahkan sempat meloloskan diri dari hukuman dua kali karena kasus pembunuhan berantai di Colorado. Tapi akhirnya ketika ditangkap di Florida, muncullah pengakuan lain.

Bahwa ia benar-benar membunuh sebanyak 30 orang dari beberapa kota dan negara bagian di Amerika. Meskipun pihak yang berwajib mendapat laporan bahwa perkiraan korbannya mencapai lebih dari 100 orang.

Bagaimana caranya merayu banyak wanita untuk kemudian jadi korbannya? Penampilannya yang menarik berhasil menaklukkan korbannya.

Ia biasa berlagak pura-pura terluka sebelum bertemu korban agar mendapat simpati. Saat sudah nyaman, korban diculik ke tempat-tempat tersembunyi dan diperlakukan tidak manusiawi sampai berujung kematian.

Masih sempat menunjukkan sisi manusiawi sebelum dihukum mati

Sosok Ted Bundy, Pembunuh berantai yang Hobi Koleksi Kepala Wanita Cantik

(foto: concordmonitor)

Meskipun lihai memperdaya korban dan menghindari hukuman, akhirnya ia tertangkap juga. Tanggal 24 Januari 1989, hukuman mati siap dijatuhkan padanya.

Ternyata ia memang sangat pandai menampilkan dirinya sebagai sosok berkarisma, bahkan di hari terakhirnya. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia masih punya sisi manusiawi, meskipun tidak berguna lagi.

Di dalam sel penjara, air matanya tidak terbendung. Ia sempat berpesan pada pendeta dan pengacaranya untuk menyampaikan cintanya pada keluarga dan teman-temannya.

Setelah dihukum mati di kursi elektrik, jasadnya dikremasi dan abunya dibuang di pegunungan Cascade Washington atas permintaan sendiri.

Pegunungan Cascade adalah tempat yang dulu pernah ia pilih untuk membunuh korban-korbannya.