inspirasi

Sejarah Perang Yarmuk, Ketika Bizantium Takluk pada Pasukan Muslim

By  | 

Perang Yarmuk merupakan sebuah peristiwa besar yang jadi tonggak sejarah peradaban Islam.

Pertempuran antara pasukan Muslim Arab dengan kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium berlangsung pada abad ke-7, tepatnya tahun 636 M.

Perang berlangsung antara tanggal 15-20 Agustus 636 M. Meskipun singkat, perang Yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid menjadi sebuah momen yang bersejarah.

Saat itulah Islam mulai masuk ke wilayah di luar Arab, seperti Suriah, Palestina, Irak, dan sekitarnya.

Meskipun pasukan Muslim berjumlah jauh lebih sedikit daripada pasukan Bizantium, tapi akhirnya bisa memenangkan perang.

Baca juga: Menelusuri Los Roques, Perairan Terindah di Venezuela yang Mirip Segitiga Bermuda

Jumlah pasukan Muslim jauh lebih sedikit, tapi tidak gentar berangkat ke lembah Yarmuk

Sejarah Perang Yarmuk, Ketika Bizantium Takluk pada Pasukan Muslim

(foto: ancient-origins)

Perang Yarmuk juga disebut sebagai Battle of Hieromyax. Sejarawan dari negara barat mengakuinya sebagai
salah satu perang paling gemilang sepanjang sejarah.

Sebutan Perang Yarmuk diambil dari nama lokasinya yang dekat dengan lembah Yarmuk, Yordania.

Sungai Yarmuk yang mengalir dari wilayah dataran tinggi Hawran ke lembah Yordania dan ditumbuhi oleh tanaman.

Dari segi kuantitas pasukannya benar-benar tidak seimbang. Jumlah pasukan Bizantium mencapai 200 ribu dengan strategi dan persenjataan lengkap.

Sementara itu, pasukan Muslim ‘hanya’ 24 ribu. Memang ada beberapa versi tentang jumlah yang tepat, tapi intinya pasukan Muslim lebih sedikit.

Sejak awal Khalid bin Walid sudah mengatur strategi agar pasukannya bergerak efektif. Tidak hanya prajurit pria yang dikerahkan, ada juga wanita muslimah yang dibawa untuk berjaga-jaga dan merawat jika ada pasukan terluka.

Sempat ada prajurit dari pasukan musuh yang dikirim untuk menjadi mata-mata

Sejarah Perang Yarmuk, Ketika Bizantium Takluk pada Pasukan Muslim

(foto: segulamag)

Sebelum perang dimulai, pasukan musuh mengirimkan mata-mata untuk bertemu pasukan Muslim. Dikisahkan pernah ada musuh yang mengucapkan syahadat dan menunjukkan keberpihakan.

Tapi Khalid bin Walid tetap waspada dan mempersiapkan strategi. Pasukan musuh memang menemukan banyak hal penting, tapi pasukan Muslim tidak lengah.

Kaisar Heraclius memberikan tanggung jawab pada Jabalah ibn Aiham, seorang raja dari Ghassasinah dan dibantu oleh Mahan, panglima dari Armenia.

Ternyata strategi pasukan Romawi juga diketahui oleh Khalid bin Walid. Dari 24 ribu pasukannya kemudian dibagi-bagi sesuai posisi masing-masing, dan tidak langsung diterjunkan semua.

Baca juga: Mercusuar Anyer, Wisata di Titik Nol Jalan Raya Daendels yang Bersejarah

Para prajurit memperkuat ibadah di malam hari sebelum merapatkan barisan

Sejarah Perang Yarmuk, Ketika Bizantium Takluk pada Pasukan Muslim

(foto: britannica)

Menyadari bahwa kekuatan musuh sangat jauh lebih besar. Pasukan Muslim tidak hanya merapatkan barisan,
tapi juga membangun kekuatan dari dalam batin masing-masing.

Siang hari untuk berjuang dan di malam hari adalah waktunya para prajurit untuk ibadah, seperti salat malam dan membaca Alquran.

Anggota pasukan perang banyak zikir sebelum menghadapi medan perang. Tidak hanya kekuatan fisik dan mental untuk meraih kemenangan, pasukan juga sudah siap jika seandainya takdirnya adalah mati syahid.

Meski hanya berlangsung singkat, tapi setiap momennya penting. Pada pagi hari pertama, medan perang masih lengang.

Pemimpin pasukan musuh sempat khawatir saat melihat pasukan Muslim yang berjumlah sedikit tapi terampil.

Sebagian pasukan musuh sengaja diikat oleh pemimpinnya agar tidak mundur di saat perang belum selesai.

Dengan kepemimpinan dan strategi yang efektif, pasukan Muslim mendapat kemenangan

Sejarah Perang Yarmuk, Ketika Bizantium Takluk pada Pasukan Muslim

(foto: pinterest)

Mahan mengoordinasi serangan di tengah terik matahari sekadar untuk menguji kekuatan strategi dari pasukan Muslim apakah pasukan Muslim terlihat panik dan kocar-kacir.

Tapi Khalid bin Walid segera merespon keadaan dengan memberi perintah pada pasukannya. Ketika pasukan musuh terlihat bisa dijangkau, anak panah pun diluncurkan. Beberapa pasukan musuh tumbang.

Saat jarak antar pasukan makin kecil, pasukan Muslim mulai bersiap menghunuskan pedang. Sebagian tentara pasukan Muslim posisinya agak di belakang agar musuh merasa aman karena menghadapi jumlah yang lebih kecil.

Di momen yang tepat, yaitu ketika pasukan musuh terdesak Khalid bin Walid mengomando pasukannya untuk maju. Seolah-olah terlihat sebagai bala tentara baru yang energinya masih penuh.

Satu hal yang tercatat dalam sejarah adalah bahwa pasukan Muslim bergerak dengan formasi yang tepat dan memperkuat ibadah dan ikatan persaudaraan antar individu.

Jalannya pertempuran memang sengit dan brutal, akhirnya dimenangkan oleh pasukan Muslim.