inspirasi

Mengenal Ampo, Camilan Unik Khas Tuban Berbahan Tanah Liat

Penulis:   | 

Pada umumnya kalau orang makan sesuatu dan makanannya jatuh ke tanah, pasti langsung dibuang karena kotor. Bagaimana kalau ternyata ada makanan yang dibuat dari bahan tanah?

Di kabupaten Tuban, Jawa Timur, ada camilan ampo yang dibuat dari tanah liat. Bentuknya seperti wafer stik dan cukup renyah saat dikunyah.

Bagi yang baru mengetahuinya, mungkin akan sedikit kaget karena makanan tradisional ini ternyata merupakan salah satu resep turun menurun.

Orang tua zaman dulu di Tuban memberikannya untuk wanita hamil dan juga untuk obat beberapa penyakit.

Baca juga: Sejarah Kantong Plastik, Dulu Dibuat untuk Selamatkan Bumi

Ampo dibuat karena masyarakat kelaparan pada zaman penjajahan Belanda

Mengenal Ampo, Camilan Unik Khas Tuban Berbahan Tanah Liat

(foto: tabloidbintang)

Ampo pada awalnya dibuat oleh masyarakat di Trowulan, Tuban. Bukan tanpa alasan sampai masyarakat memilih untuk makan tanah.

Saat itu, ampo adalah menu alternatif ketika menghadapi kesulitan di era penjajahan Belanda di daerah Tuban.

Sistem tanam paksa yang diberlakukan membuat masyarakat jatuh ke dalam jurang kemiskinan dan bencana kelaparan. Harga beras dan kebutuhan pokok begitu mahal dan tidak dapat dijangkau oleh masyarakat.

Keadaan itulah yang membuat masyarakat harus putar otak demi bisa bertahan hidup. Tidak ada beras, endapan lumpur sungai pun bisa mengganjal perut.

Endapan lumpur adalah berupa tanah aluvial berbahan lempung. Masyarakat harus menunggunya sampai kering baru dikonsumsi. Cara membuatnya tidak harus dimasak, tapi bisa juga dipanggang dulu di atas tungku api.

Banyak diberikan untuk ibu hamil dan dipercaya bisa mengobati penyakit

Mengenal Ampo, Camilan Unik Khas Tuban Berbahan Tanah Liat

(foto: sisternet)

Proses pemanasan dengan api juga bisa mematikan kuman yang ada. Orang-orang tua zaman dulu mempercayai makanan tradisional ini jadi obat untuk beberapa penyakit.

Ampo juga bisa dipercaya memperkuat sistem pencernaan, dan membuat perut terasa dingin. Bagi yang menyukai, rasanya gurih dan tidak ada duanya.

Banyak ibu hamil di Tuban pada zaman dahulu yang disarankan untuk mengonsumsinya untuk memperkuat kandungan. Malah ada yang sampai ngidam camilan anti-mainstream ini.

Padahal untuk memperolehnya tidak mudah karena tidak dijual di sembarang toko, jadi harus ke produsen langsung. Sampai hari ini, hanya segelintir orang yang bisa membuatnya.

Baca juga: Magic Mushroom, Jamur Ajaib yang Bisa Memicu Halusinasi

Pemilihan tanahnya hati-hati, agar bahan yang dipakai benar-benar steril

Mengenal Camilan Unik Khas Tuban Berbahan Tanah Liat

(foto: allianz)

Bisa dibilang kalau makanan tradisional yang satu ini memang sangat ekstrem. Sebagian orang mengatakan kalau rasanya memang tidak biasa, seperti coklat, kopi, dan batu bata dicampur jadi satu.

Tapi bahannya tidak sembarang tanah liat, melainkan harus tanah murni dan tidak bercampur pasir atau zat berbahaya.

Orang-orang zaman dahulu juga memilih tanah dengan hati-hati agar bahan yang dipakai benar-benar steril.

Tanah liat yang terkumpul ditambah air secukupnya, lalu dibuat jadi adonan yang tidak lengket di tangan. Sesekali adonannya perlu ditumbuk dengan kayu atau batu.

Proses pembuatannya kemudian membentuk tanah jadi kubus, menyerut pakai bambu sampai membentuk stik. Ampo setengah jadi dikeringkan di atas tungku, kemudian siap dikemas.

Tidak lagi banyak dikonsumsi, karena menghindari zat berbahaya di dalam tanah

Mengenal Camilan Unik Khas Tuban Berbahan Tanah Liat

(foto: gojatim)

Sayangnya tidak dapat dipastikan bahwa tanah yang dipakai untuk membuatnya bebas dari zat berbahaya. Mungkin saja di dalamnya ada parasit seperti cacing atau bahkan kotoran hewan.

Cukup beralasan kalau banyak generasi sekarang yang sudah tidak mengonsumsinya, tapi hanya mengakuinya sebagai bagian dari cerita perjuangan orang tua terdahulu.

Beberapa orang yang pernah mencobanya mengakui bahwa ketika mengunyahnya akan menempel di gigi dan memunculkan sensasi sedikit aneh. Apalagi pada zaman sekarang, sudah banyak zat berbahaya di dalam tanah.

Masyarakat sudah paham risiko-risiko sebelum mengonsumsi sesuatu dari tanah. Selain karena menjaga kesehatan, sumber makanan sehat lain masih lebih banyak yang bisa dipilih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.