inspirasi

Kisah Osman Gazi, Sang Pendiri Kesultanan Ottoman yang Legendaris

By  | 

Kesultanan Turki Utsmani atau Kesultanan Ottoman pernah memiliki kekuasaan yang meliputi daratan Eropa, Asia dan Afrika.

Berkuasa selama 600 tahun, Kesultanan Ottoman dipimpin oleh seorang Sultan yang kedudukannya diwariskan turun temurun. Salah satu pencapaian di masa kejayaannya adalah saat menaklukkan Konstantinopel.

Di balik semua jejak kebesarannya, ternyata tidak cukup banyak bahasan tentang siapa pendirinya. Pendiri Kesultan Ottoman adalah Osman Gazi.

Kiprahnya begitu penting, bahkan nama Kesultanan Utsmani atau Ottoman adalah berasal dari namanya.

Baca juga: Kisah Ashabul Kahfi, 7 Pemuda Beriman yang Tertidur di Dalam Gua Selama 309 Tahun

Tidak banyak informasi tertulis yang lengkap tentang kehidupan awalnya

Kisah Osman Gazi, Sang Pendiri Kesultanan Ottoman yang Legendaris

(foto: historynet)

Dalam tulisan Sejarawan Colin Imber yang dipublikasikan berjudul The Legend of Osman Gazi disebutkan bahwa informasi awal tentang Kesultanan Ottoman cenderung tidak begitu jelas. Begitu juga tentang riwayat hidup pendirinya, Osman Gazi.

Catatan sejarah yang meyakinkan tentang kehidupan Osman Gazi bisa dibilang langka. Tidak diketahui dengan pasti di mana dan kapan ia lahir.

Beberapa teks kuno tentang dirinya mayoritas hanya berasal dari masyarakat lokal yang memiliki tradisi bertutur.

Dengan segenap upaya, sejarawan berusaha menyaring informasi yang paling kredibel. Pada abad ke-15, pihak otoritas Kesultanan Ottoman baru menuliskan tentang sejarahnya.

Walau sudah lebih dari satu abad setelah kematiannya, namanya tetap abadi karena disematkan menjadi nama resmi kesultanan.

Mewarisi kemampuan untuk menjadi pemimpin dari ayahnya dan kakeknya

Kisah Osman Gazi, Sang Pendiri Kesultanan Ottoman yang Legendaris

(foto: jstor)

Menurut berbagai informasi yang telah dihimpun sejarawan, ia berasal dari klan Kayi atau masih tercatat sebagai keturunan suku Turki Oghuz.

Meski tidak spesifik nama kotanya, sempat ada yang sumber menyatakan bahwa kelahirannya adalah di daerah Kesultanan Rum.

Kemudian tempat bermukimnya di Anatolia barat, dan di sanalah ia dipercaya menjadi pemimpin. Kemampuannya dalam memimpin diwariskan oleh ayahnya dan kakeknya yang memang dari keluarga bangsawan.

Ayahnya adalah Urthughril atau lebih dikenal dengan nama Ertugrul dan kakeknya bernama Suleiman Shah. Ayah dan kakeknya termasuk sosok berpengaruh.

Kakeknya pernah menghadapi serbuan tentara Mongol dan menyelamatkan keluarganya. Ayahnya pernah membantu kemenangan pasukan Seljuk yang berperang melawan pasukan Nasrani di Anatolia.

Sebagai penghargaan, pimpinan pasukan Seljuk memberikan sebagian wilayah Anatolia dekat perbatasan Bizantium.

Baca juga: Asal Usul Bangsa Eropa yang Berkulit Putih, Berambut Pirang, dan Bermata Biru

Membangun wilayah berdaulat dan meletakkan fondasi Kesultanan Ottoman

Kisah Osman Gazi, Sang Pendiri Kesultanan Ottoman yang Legendaris

(foto: theeconomist)

Ayahnya membangun aliansi bersama orang-orang Seljuk, bahkan di tiap ekspedisi melawan tentara Bizantium selalu diikutinya.

Tahun 1299 M ayahnya wafat dan ia menjadi seorang pemimpin yang baru di bawah naungan Kesultanan Seljuk bergelar adipati atau Bey.

Ketika Kesultanan Seljuk runtuh, ia segera mengatur barisan untuk memerdekakan diri, membangun wilayah berdaulat. Dalam melanjutkan pemerintahan, ia mulai meletakkan fondasi Kesultanan Ottoman.

Ia banyak mencontoh kebijakan di era ayahnya, misalnya soal perluasan wilayah sampai ke jajahan Bizantium.

Supaya pengaruhnya makin meluas, ia memindahkan ibukota. Pada mulanya di Sogut, kemudian pindah ke Bursa, sampai akhirnya menguasai Konstantinopel dan menjadikannya ibukota.

Sepak terjangnya cenderung strategis dan terlihat cerminan kepemimpinan yang kuat. Di kemudian hari, Konstantinopel dikenal sebagai kota Istanbul.

Setelah ia meninggal, banyak cerita mitos tentangnya yang diceritakan dalam hikayat Turki

Kisah Osman Gazi, Sang Pendiri Kesultanan Ottoman yang Legendaris

(foto: hurriyetdailynews)

Melihat pencapaiannya, bisa dilihat bahwa kemampuannya terbentuk dari proses didikan yang panjang dari ayah dan kakeknya.

Tapi ternyata ada pula mitos yang banyak diceritakan dalam hikayat Turki yang terkenal pada saat seratus tahun setelah ia meninggal.

Bahwa kekuasaannya berawal dari sebuah mimpi yang ajaib.  Suatu malam, saat ia sedang berada di kediaman Syekh Edebali, ia mimpi menyaksikan cahaya putih seperti bulan yang terbit dari dada Syekh Edebali.

Tiba-tiba cahaya putih berpindah ke dadanya. Ada pohon yang kemudian bertumbuh dari badannya. Bahkan bayangannya dapat meliputi sebagian besar penjuru bumi.

Di bawah naungannya, ada pegunungan dan sungai yang mengalir dari gunung. Orang-orang minum dan menyiram taman dengan aliran pegunungan. Sesaat kemudian ia terjaga dan menceritakan mimpinya pada Syekh Edebali.

“Anakku, Osman, selamat! Allah kelak memberimu anugrah kerajaan besar, yang akan kau wariskan kepada keturunanmu,” kata Syekh Edebali.

Sampai tutup usia, ia masih bertaha dengan gelari Bey, bukan Sultan. Ia pun sempat memberikan pesan terakhir pada keturunannya tentang nilai kehidupan yan diyakininya.

“Wahai anakku, ita bukan golongan manusia yang berperang lantaran dorongan hawa nafsu untuk berkuasa. Kita hidup atas nama Islam dan untuk Islam pula kita mati. Inilah anakku, apa-apa yang perlu kamu perhatikan.”