inspirasi

Keunikan Orang Polyglot, Mereka yang Menguasai Banyak Bahasa

Penulis:   | 

Pernahkah kamu menemukan orang-orang yang bisa berkomunikasi dengan banyak bahasa?

Orang yang menguasai lebih dari enam bahasa asing dengan lancar disebut orang polyglot. Bukan hanya tahu, tapi bisa paham bahasa asing secara lisan dan tulisan.

Salah seorang polyglot yang paling terkenal di dunia adalah Kardinal Guiseppe Caspar Mezzofanti yang menguasai 70 bahasa dunia.

Selain Mezzofanti, ada lagi tokoh dunia yang terkenal, yaitu diplomat dari Jerman yang bernama Emil Kerbs. Ia mampu bicara dalam 65 bahasa. 

Baca juga: Sejarah Filateli, Berawal dari Mahalnya Ongkos Kirim Surat

Menjadi seorang polyglot sepertinya memang menarik perhatian banyak orang

Keunikan Orang Polyglot, Mereka yang Menguasai Banyak Bahasa

(foto: pixabay)

Sebelum mengetahui tentang bagaimana cara orang-orang polyglot berpikir, ada baiknya kita ketahui hal-hal serunya terlebih dahulu.

Bisa menguasai banyak bahasa di dunia sepertinya menarik buat banyak orang.

Ketika punya teman yang kebetulan seorang polyglot, ia pasti pernah disuruh untuk bicara dengan bahasa-bahasa yang dipahaminya.

Meskipun sebenarnya orang lain hanyalah penasaran tanpa ingin tahu arti apa yang diucapkan dan tidak berniat mempelajari bahasa asing yang tidak dibutuhkan.

Sampai suatu pertanyaan iseng pun muncul: orang yang mengerti banyak bahasa, kalau bicara dalam hati (self talk) pakai bahasa apa?

Lalu kalau bermimpi juga apakah ada banyak bahasa? Jawabannya pun bisa saja personal, tergantung pada orang-orang yang menjalaninya.

Struktur otak polyglot memang tidak sama seperti otak orang kebanyakan

Keunikan Orang Polyglot, Mereka yang Menguasai Banyak Bahasa

(foto: pixabay)

Pada tahun 2004, peneliti sempat membedah bagian otak Emil Kerbs demi mengetahui benarkah struktur otak polyglot lebih unik dan berbeda dibanding dengan otak manusia pada umumnya.

Bagian dari otak yang mengatur urusan terkait bahasa adalah area Broca. Memang pada otak Emil Kerbs terlihat berbeda dari struktur otak yang pernah diteliti sebelumnya.

Tapi, peneliti belum mengetahui apa benar keunikan yang ada pada otak milik Emil Kerbs sudah terbentuk dari lahir atau karena proses belajar.

Bertahun-tahun, ada dugaan kuat bahwa aktivitas pada saraf otak orang polyglot tidak sama dengan kebanyakan orang. Faktanya memang otak termasuk organ yang sangat adaptif.

Orang yang banyak mempelajari hal baru, khususnya bahasa, akan mengalami aktivitas kognitif yang lebih tajam dibanding yang bukan.

Baca juga: Sejarah Tari Panarat, Ada Kisah Kehidupan Petani Teh Jawa Barat

Ternyata bentuk orang yang polyglot cenderung kurang simetris

Keunikan Orang yang Menguasai Banyak Bahasa

(foto: thinkstock)

Tentang ‘misteri’ otak polyglot, penelitian ahli saraf Narly Golestani di Cognitive Neuroscience University College London ternyata menemukan informasi penting lainnya.

Orang-orang polyglot memang punya lebih banyak jumlah materi otak putih pada bagian yang memroses suara. Penelitian juga menunjukkan bahwa bentuk otak polyglot agak kurang simetris.

Ketika otak orang yang menguasai banyak bahasa di-scan, terlihat volume lebih besar materi putihnya di bagian pendengaran sebelah kiri. Bagian tersebut dikenal dengan Heschl’s gyrus.

Ada juga suatu perbedaan posisi belahan otak kanan, di antara orang yang bisa mempelajari bahasa dengan cepat dan orang yang cenderung lambat.

Meskipun tidak terpakai di kehidupan sehari-hari, polyglot tetap senang melakukannya 

Keunikan Orang yang Menguasai Banyak Bahasa

(foto: pixabay)

Para polyglot pada umumnya memiliki komunitas atau kelompok yang mewadahi. Seringkali ada hal-hal yang hanya mereka sendiri yang memahami.

Contohnya adalah tentang tujuan atau manfaat dari bahasa-bahasa yang dipahaminya.

Barangkali memang bahasa yang dipelajari tidak akan terpakai di dalam pekerjaan atau untuk studi, lantas untuk apa mempelajarinya?

Sebut saja misalnya polyglot yang memahami bahasa Korea, Jepang, Spanyol, Jerman, sampai bahasa dari Benua Afrika seperti Xhosa dan Swahili.

Padahal mungkin bahasa asing yang umum terpakai di kehidupan sehari-hari hanya bahasa Inggris.

Orang-orang yang bukan polyglot pun bertanya-tanya, kira-kira mengapa ada orang yang rela mengerahkan energi sedemikan rupa untuk belajar bahasa baru?

Lebih dari tentang kegunaan di dalam karier atau urusan hidup lainnya, ternyat polylgot memang mempelajarinya karena memang senang melakukannya sebagaimana hobi yang memberi rasa bahagia.

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.