inspirasi

Kapal Jung dari Jawa, Kendaraan Raksasa Simbol Kekuatan Maritim Majapahit

Penulis:   | 

Sejarah tentang maritim Indonesia selalu memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan istilah yang menyebut nenek moyang kita seorang pelaut, sepertinya tidak terbatas menjadi nyanyian saja.

Kemampuan para leluhur dalam melakukan eksplorasi di laut tidak diragukan lagi. Dalam hal seni navigasi di lautan lepas, orang Jawa di zaman dulu dihargai karena pengalamannya.

Menggunakan kendaraan raksasa bernama Kapal Jung, orang Jawa di era Majapahit kemudian menjadi pionir penjelajahan lautan.

Baca juga: Chocolate Hills Filipina, Perbukitan Berbentuk Unik dengan Cerita Legenda Raksasa

Berukuran raksasa dan dibuat dari kayu jati yang hanya tumbuh di Jawa

Kapal Jung dari Jawa, Kendaraan Raksasa Simbol Kekuatan Maritim Majapahit

(foto: pinterest)

Denys Lombard melalui bukunya Nusajawa: Jaringan Asia (2004) menyebut bahwa kapal Jung berasal dari Asia Tenggara.

Kapal Jung juga disebut Jong yang berasal dari sebuah istilah Jawa Kuno yang artinya sebangsa perahu.

Kapal Jung termasuk kapal berukuran raksasa yang tercatat dalam sejarah dan pernah digunakan berlayar di wilayah laut selatan.

Ukurannya begitu besar, sampai bisa muat seribu orang penumpang. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa kata Jung adalah dari bahasa China.

Tapi ada sumber lain pada khazanah budaya Melayu, bahwa kapal Jung merupakan asli dari Jawa karena dibuat dari kayu jati yang hanya tumbuh di Jawa.

Tokoh yang mencatat sejarah China pun menyebut bahwa kapal ini pernah berlayar di  perairan sebelah selatan daratan China sampai di pulau rempah yang tak lain adalah Indonesia.

Meskipun pembuatannya tanpa memakai bahan besi, tapi sangat kuat

Kapal Jung dari Jawa, Kendaraan Raksasa Simbol Kekuatan Maritim Majapahit

(foto: gnfi)

Bukan sekadar perjalanan, tapi eksplorasi di lautan zaman dahulu dianggap sebagai seni. Karena itu, armada yang digunakan sebisa mungkin dibuat spektakuler dan sangat kuat.

Dari segi ukuran, ternyata kapal ini lebih besar dari kapal milik Laksamana Cheng Ho. Ukuran panjangnya mencapai 50 m dan kuat membawa muatan seberat 250-1.000 ton.

Terdapat lebih dari 10.000 kargo dengan ketinggian di atas air 4-7 m. Hebatnya, pembuatannya tanpa memakai bahan besi. P

elaut Nusantara zaman dahulu memakai pasak agar bisa merekatkan antar bagian kapal.

Dindingnya tersusun atas berlapis-lapis papan kayu jati. Ada sejenis cadik dua bilah ditempatkan pada bagian belakang dek kapal.

Kapalini memakai beberapa macam layar besar dilengkapi sebuah busur besar untuk kemudi angin.

Baca juga: Pulau Lazaretto, Tempat Karantina yang Menyelamatkan Eropa dari Wabah

Pernah dipakai oleh Kerajaan Majapahit dan menjadi simbol kekuatan maritimnya

Kapal Jung dari Jawa, Kendaraan Raksasa Simbol Kekuatan Maritim Majapahit

(foto: pinterest)

Pierre-Yves Manguin yang merupakan rekan Denys Lombard pernah mendeskripsikan kapal Jung sebagai kapal raksasa dari galangan kapal dekat kawasan hutan jati Cirebon, Tuban, dan Jepara.

Kapal raksasa ini merupakan kapal perdagangan utama milik orang-orang Asia Tenggara.

Sementara itu, catatan tertua mengenai kapal raksasa dari Asia Tenggara dimuat pada catatan Ptolemy sekitar tahun 100 M.

Catatan tersebut berjudul Periplus Marae Erythraensis atau catatan laut terluar.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai pun disebutkan bahwa Kerajaan Majapahit memakai Kapal ini sebagai simbol kekuatan maritimnya. Jumlahnya bahkan mencapai sebanyak 400 kapal.

Gaspar Correia, seorang sejarawan Portugis abad ke-16 pernah mencatat pertemuan antara Alfonso Albuquerque dan kapal Majapahit di Selat Malaka.

Menurut Gaspar, kapal raksasa dari Majapahit tetap bertahan walau ditembaki meriam besar. Di antara semua lapisan papan yang ada, meriam hanya mengenai dua lapisan.

Banyak yang hilang karena galangan kapal dihancurkan di era Kerajaan Mataram

Kapal Jung dari Jawa, Kendaraan Raksasa Simbol Kekuatan Maritim Majapahit

(foto: aseanheritage)

Dalam Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer menyebut Jung sebagai ‘kapal-kapal Majapahit’. Tujuannya adalah sebagai pembeda dengan kapal-kapal milik pedagang dari Tiongkok.

Selain di era Kerajaan Majapahit, kapal ini juga pernah digunakan oleh Pati Unus dari Kesultanan Demak. Pada tahun 1513, Pati Unus dan armadanya menyerang pasukan Portugis di tanah Malaka.

Tapi misi Pati Unus tampaknya tidak berjalan lancar. Peristiwa di Malaka berpengaruh besar untuk hilangnya sejumlah kapal besar di galangan kapal yang terdapat di pesisir Jawa bagian utara.

Di samping itu, kekuasaan kerajaan Mataram yang merambah ke pedalaman menjadi alasan ditinggalkannya galangan kapal di pesisir.

Kemudian di era Kerajaan Mataram ada kebijakan yang memukul beberapa kota di pesisir.

Untuk mencegah pemberontakan, pelabuhan dan kapal-kapal dihancurkan. Karena itulah, kapal raksasa ini tinggal cerita.