inspirasi

Higanbana, Bunga Cantik dari Jepang yang Menjadi Lambang Kematian

Penulis:   | 

Pada umumnya bunga dikenal karena keindahannya. Banyak jenis tanaman hias yang dirawat di rumah karena bunganya cantik.

Tapi apa jadinya kalau sebuah bunga identik dengan hal-hal yang tak diinginkan? Di Jepang ada bunga Higanbana yang tampilannya menarik tapi menjadi lambang kematian atau perpisahan.

Bunga ini bermekaran di Jepang pada musim panas yang berganti menjadi musim gugur di akhir September sampai awal Oktober.

Uniknya, antara daun dan bunganya tidak dapat tumbuh bersama. Ketika bunganya tumbuh dan mekar, daunnya gugur. Ketika daunnya tumbuh bertunas baru, bunganya yang layu.

Baca juga: Lagi Naik Daun, Tanaman Janda Bolong Bisa Dihargai Ratusan juta

Pemandangan bunga Higanbana bisa dinikmati sepanjang bulan September

 Higanbana, Bunga Cantik dari Jepang yang Menjadi Lambang Kematian

(foto: ikidane-nippon)

Meskipun Higanbana hanya tumbuh dalam waktu singkat, tapi masyarakat dapat menyambutnya di sepanjang bulan September.

Bunga ini juga mendapat sebutan ‘manjushage’ yang artinya ‘bunga surga’. Bunga yang merah dianggap datang dari surga yang memberikan berkah bagi manusia.

Dalam bahasa Jepang, Higan bermakna sisi lain atau tepian pantai. Sementara itu, O-higan merupakan Hari Ekuinoks Musim Gugur (Shūbun no hi) sekaligus hari untuk keluarga.

Saat itu anggota keluarga akan datang ke makam untuk mendoakan leluhur. O-higan yang jatuh pada tanggal 23 September menjadi hari libur di Jepang.

Banyak persepsi yang dihubungkan dengan bunga Higanbana warna warni

 Higanbana, Bunga Cantik dari Jepang yang Menjadi Lambang Kematian

(foto: ikidane-nippon)

Sebenarnya bunga Higanbana bukan tumbuhan asli Jepang, melainkan berasal dari daratan China dan semenanjung Korea.

Di Jepang, bunga ini tumbuh dengan subur di sekitar Kepulauan Ryukyu. Higanbana yang berwarna merah bermakna perpisahan, hilangnya kenangan, atau sesuatu yang terlantar.

Higanbana yang berwarna putih bermakna kesepian atau harapan untuk bertemu seseorang yang dirindukan. Sementara itu, Higanbana yang berwarna kuning memiliki makna kenangan atau cinta kasih.

Ada juga kepercayaan di kalangan warga di Jepang yang akan berpisah dengan seseorang. Saat itu bahwa bunga ini akan terlihat mekar di sepanjang jalan.

Baca juga: Alberobello, Desa Kurcaci Bak Negeri Dongeng yang Jadi Warisan UNESCO

Warga sering menanamnya di tepi sawah atau area pemakaman

 Higanbana, Bunga Cantik dari Jepang yang Menjadi Lambang Kematian

(foto: japan-visitor)

Karena popularitasnya, hampir semua orang di dunia mengakui bunga sakura adalah salah satu jenis bunga yang terindah di dunia.

Tapi ada satu lagi bunga yang terlihat menarik dan sering muncul di serial anime yaitu bunga Higanbana (Amaryllis).

Tanaman yang juga disebut Red Spider Lily juga menumbuhkan umbi beracun dan berbahaya.

Karena beracun, petani Jepang sering menanamnya di tepi sawah untuk mencegah penyebaran tikus beserta hama lainnya yang mungkin merusak padi.

Selain di sawah, orang Jepang juga menanam Higanbana di area pemakaman agar hewan liar tidak memangsa mayat yang baru saja dikuburkan. Sejak saat itulah bunga ini identik dengan tanda kematian.

Tidak hanya kematian, Higanbana juga terkait dengan simbol perpisahan

 Higanbana, Bunga Cantik dari Jepang yang Menjadi Lambang Kematian

(foto: wallpaperflare)

Ada juga kisah lain mengatakan Bunga Higanbana berlambang perpisahan. Ada sabuah legenda bahwa bunga ini tak bisa tumbuh bersama dengan daun. Konon di masa lalu ada dua peri penjaga bunga Higanbana atas perintah Dewi Matahari (Amaterasu).

Setiap peri sudah mendapat tugas dan tidak boleh beranjak dari tempat masing-masing. Kedua peri adalah Manju yang bertugas untuk menjaga bunga dan Saka bertugas untuk menjaga daun.

Pada suatu hari, Manju dan Saka pergi dari tempatnya berjaga karena khilaf dan penasaran. Keduanya bertemu dan jatuh cinta ketika daun Higanbana sedang bertumbuh sampai ke kelopak bunga.

Dewi Matahari mengetahui pertemuan keduanya. Dewi Matahari pun murka akibat ulah peri-peri yang tidak patuh pada perintahnya.

Peri Manju dan Saka pun dikutuk sehingga tak bisa lagi untuk bertemu. Kisah legenda itulah yang menjadikan waktu tumbuh bunga Higanbana tidak  sama dengan daunnya.

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.