inspirasi

Mengenal Handschar, Tentara Muslim yang Angkat Senjata di Barisan Hitler

Penulis:   | 

Apa jadinya kalau tentara Muslim ikut berperang di barisan Adolf Hitler? Memang tidak banyak catatan sejarah yang mengabadikan cerita ini.

Bahwa seorang Adolf Hitler bersama pasukan Nazi pernah membangun masjid dan madrasah, serta memberi kesempatan untuk beribadah kepada pasukan perangnya yang memeluk Islam.

Ini adalah tentang tentara Muslim yang bergabung bersama Nazi pada tahun 1943. Mereka mayoritas adalah Muslim Bosnia dan bukan orang Jerman.

Nama mereka pun dikenal sebagai The 13th Waffen Mountain Division of the SS “Handschar” atau Handschar saja.

Bagaimana sampai Hitler berinisiatif merekrut mereka dan seperti apa sepak terjang yang ditoreh Handschar? Begini kisahnya.

Baca juga: Hongcun, Desa Kuno di China yang Berusia 900 Tahun

Awalnya Nazi kekurangan pasukan

Mengenal Handschar, Tentara Muslim yang Angkat Senjata di Barisan Hitler

(foto: pinterest)

Nazi memang diketahui tidak punya banyak rekan perang. Hanya Benito Mussolini dan Kaisar Hirohito yang berada pada Blok Poros, yakni negara-negara yang berperang pada Perang Dunia II melawan Sekutu.

Karena kebutuhan mendesak akan pasukan yang jumlahnya banyak, pembentukannya tidak mementingkan ras lagi. Nazi kemudian menambah pasukan yang kebanyakan warga negara Bosnia dan Kroasia.

Saat itu tahun 1942 – 1943, Nazi juga sudah menguasai Eropa Timur, Bosnia dan sekitarnya. Pasukan yang kemudian dibentuk merupakan pasukan gunung yang dalam bahasa Jermannya Waffen Gebirgs Division Der SS Handschar.

Hitler bertemu dengan Mufti Besar Yerusalem

Mengenal Handschar, Tentara Muslim yang Angkat Senjata di Barisan Hitler

(foto: jpost)

Adolf Hitler saat itu mengetahui tentang ajaran yang dianut orang-orang Islam, khususnya para pejuangnya yang bersenjata. Hitler mendengar kabar bahwa mereka sangat pemberani di medan perang.

Karena ada sebuah keyakinan bahwa ketika Muslim gugur di dalam peperangan itu berarti sebuah jalan ke surga.

Atas usulan Heinrich Himmler, komandan pasukan khusus Nazi, Hitler kemudian bertemu dengan Mufti Besar Yerusalem yang pernah memimpin pemberontakan Arab di Palestina tahun 1936 -1939.

Mufti Besar Yerusalem atau Al-Husseini setelah peristiwa pemberontakan itu ia pergi ke Eropa, kemudian bertemu Hitler di Berlin pada 28 November 1941.

Memang sebelumnya hubungan Adolf Hitler dengan dunia Arab tidak terlalu intens. Alasannya adalah karena tidak ada kepentingan yang urgen untuk melawan ataupun menjadi kawan.

Nazi memiliki kecocokan gagasan dengan dengan Arab

Mengenal Handschar, Tentara Muslim yang Angkat Senjata di Barisan Hitler

(foto: onej)

Sebelum bertemu pada akhir November 1941, Hitler dan Al-Husseini sudah pernah berkorespondensi surat-menyurat untuk deklarasi kerjasama Jerman dengan Arab.

Begitu melakukan pertemuan dengan Al-Husseini, mereka menyadari bahwa kedua pihaknya punya musuh yang sama: Sekutu dan Yahudi.

Dalam situasi tersebut, Hitler juga bersepakat dengan ungkapan politis ini: “musuh dari musuhku adalah temanku.”

Dalam hal ini ada kecocokan pandangan antara Nazi dan Arab. Sementara Inggris dan Prancis pasca-Perjanjian Versailles adalah penjajah.

Nazi tidak sepakat dengan liberalisme yang diusung oleh Inggris dan Prancis. Arab dan Nazi juga anti-Yahudi. Kedua pihak ini juga mengusung gagasan tentang persatuan global.

Baca juga: Mengenal Pohon Nothofagus di Papua yang Jadi Sorotan UNESCO

Bersepakat untuk membangun pasukan baru

Mengenal Handschar,

(foto: pinterest)

Dalam pertemuan tersebut, Hitler menjanjikan adanya sokongan penuh kepada Al-Husseini untuk menjadi pemimpin dunia Arab, mulai pendanaan, senjata, sampai pembentukan prajurit muslim di bawah panji Nazi.

Nama unit pasukan yang merupakan hasil dari perjanjian Hitler dengan Al-Husseini adalah “Handschar”.

Tentara-tentara Muslim di barisan Nazi tersebut terdiri atas 100 ribu Muslim Eropa dan kemudian dibagi ke dalam sejumlah divisi.

Salah satu yang terbesar disebut Brigade Hanzar. Menurut Al-Husseini, mereka adalah serdadu terbaik bagi Islam saat itu.

Persekutuan berakhir tahun 1945

Mengenal Handschar

(foto: pinterest)

Al-Husseini juga bergerak di luar lingkar militer sebagai pengusung propaganda melawan Sekutu.

Namun meski Al-Husseini juga terjun ke medan perang sebagai pendongkrak moril, koalisi Arab Merdeka dibantu Jerman dan Italia itu dilibas Inggris pada 31 Mei 1941.

Pada bulan Mei empat tahun kemudian, yaitu 1945, waktu itu Jerman kalah dalam perang. Maka berakhirlah sudah persekutuan antara Nazi dan tentara Muslim.