inspirasi

Laksamana Cheng Ho, Pelaut Tionghoa yang Berjasa dalam Perkembangan Islam di Nusantara

By  | 

Nama Laksamana Cheng Ho mungkin tidak asing lagi bagi kita. Kedatangan rombongan armada Laksamana Cheng Ho di tanah air mendapat sambutan yang baik, khususnya oleh tokoh-tokoh agama.

Bahkan untuk mengabadikan jejaknya, dibangunlah masjid Cheng Ho di beberapa kota di Indonesia.

Cheng Ho lahir di Provinsi Yunan, Tiongkok pada 1371 dari pasangan Ma Hazhi dan Wen yang merupakan bangsa Hui. Keluarganya diketahui berasal dari salah satu suku minoritas Tionghoa.

Orang tuanya juga memberi nama resmi Tionghoa dengan marga Ma, yaitu Ma Zhe. Memasuki usia 11 tahun, Cheng Ho dijadikan kasim di istana kaisar. Cheng Ho di kemudian hari menjadi abdi istana pertama yang diberi posisi yang tinggi.

Baca juga: Kisah Djainem Moeridjan, Dukun Jawa yang Dikagumi di Negeri Belanda

Mendapat perintah dari kaisar untuk melakukan ekspedisi

Laksamana Cheng Ho, Pelaut Tionghoa yang Berjasa dalam Perkembangan Islam di Nusantara

(foto: pinterest)

Sejak usia remaja, Cheng Ho dipercaya menjadi seorang pelayan khusus untuk Pangeran Zhu Di, putra keempat kaisar.

Di sana, Cheng Ho diberi nama San Bao yang artinya tiga permata. Ketika Zhu Di menjadi kaisar pada tahun 1402, posisi Cheng Ho pun semakin kuat.

Pada tahun 1405, Kaisar Yongle memberi perintah kepada Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi mengarungi lautan. Tujuan utama dari ekspedisi tersebut adalah untuk memperluas pengaruh China di berbagai belahan dunia lainnya.

Untuk memenuhi misi tersebut, rombongan armada Cheng Ho tidak memakai cara-cara kekerasan. Strategi yang dipilih adalah perdagangan dan akulturasi budaya. Mereka juga saling tukar menukar komoditas antar negeri yang dikunjungi.

Menurut Edward L. Dreyer dalam Zheng He: China and the Oceans in the Early Ming, sebanyak 307 kapal yang mengangkut lebih dari 27.800 orang dilibatkan untuk menjalani petualangan besar itu.

Setidaknya 62 kapal besar, ditambah 190 kapal lain yang berukuran lebih kecil dan sisanya kapal-kapal tambahan yang dikerahkan.

Tidak pernah menjajah negara mana pun

Laksamana Cheng Ho, Pelaut Tionghoa yang Berjasa dalam Perkembangan Islam di Nusantara

(foto: gomelaka)

Selain mempunyai deretan armada kapal paling banyak di dunia, ia juga pemimpin yang bijaksana. Terlihat dari armadanya yang begitu besar, namun ia dan juga rombongannya tidak menjajah wilayah negara mana pun. Armadanya hanya merapat dan kemudian membaur ke kehidupan lokal di sana.

Datang di Jawa pada tahun 1405 dan 1413, rombongan laksamana Cheng Ho berbaur dengan komunitas Islam dan mendukung proses perkembangan Islam di nusantara.

Baca juga: Mengenal Barbarossa Bersaudara, Pelaut Muslim yang Dicitrakan Negatif oleh Dunia Barat

Misi sebenarnya bukan untuk menyebarkan agama

Laksamana Cheng Ho, Pelaut Tionghoa yang Berjasa dalam Perkembangan Islam di Nusantara

(foto: 500px)

Catatan sejarah tentang keterkaitan antara Cheng Ho dan Islam di Asia Tenggara dapat membuka banyak wawasan. Bahwa ekspedisi Cheng Ho sebenarnya bukan untuk berdakwah.

Selama tujuh ekspedisinya di luar negeri, apakah Cheng Ho berpartisipasi dalam menyebarkan Islam? Belum ditemukan catatan atau bukti yang mendukung dalam arsip sejarah di Tiongkok.

Dilihat dari latar belakangnya yang sedang mengabdi pada kekaisaran, yang pasti Cheng Ho dan rombongannya hanya menjalankan perintah dari kaisar untuk melakukan ekspedisi.

Ekspedisi ini menjadi bagian penting dalam aspek pertukaran budaya antara China dan Asia Tenggara. Bahkan perjalanannya berkontribusi dalam pelayaran dunia.

Mampu mengubah peta navigasi dunia

Laksamana Cheng Ho, Pelaut Tionghoa yang Berjasa dalam Perkembangan Islam di Nusantara

(foto: amusingplanet)

Dari buku Cheng Ho yang ditulis oleh Tan Ta Sen, ekspedisi Cheng Ho dibagi menjadi tiga fase. Ekspedisi pada fase awal pertama berada di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Armada itu berlayar sampai di Calicut, India.

Berhenti di Calicut, Cheng Ho sempat mempelajari wilayah Selat Hormuz yang merupakan pusat perdagangan bagi bangsa-bangsa Asia Barat, Eropa, dan Afrika.

Laksamana Cheng Ho disebut sebagai sosok terpenting ke-14 di dunia menurut majalah Life. Dikenal tangguh, perjalanan armada Cheng Ho sampai bisa menghasilkan sebuah peta yang disebut Peta Navigasi Cheng Ho.

Peta tersebut mampu mengubah peta navigasi dunia sampai dengan abad 15. Di dalam buku panduan itu terdapat 24 peta navigasi tentang jarak di lautan, arah pelayaran, dan berbagai titik pelabuhan. Armada Cheng Ho mampu mengubah peta navigasi dunia.