inspirasi

Keutamaan Bulan Sya’ban, Ketika Catatan Perbuatan Manusia Diserahkan pada Allah

Penulis:   | 

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan Hijriyah yang penting untuk umat Islam. Kedatangannya dinantikan karena Sya’ban merupakan satu bulan sebelum Ramadan.

Bulan ini menjadi semacam ‘pemanasan’ menjelang bulan Ramadan. Yang menjadi istimewa adalah bahwa di bulan Sya’ban catatan amal perbuatan manusia akan diserahkan kepada Allah.

Orang-orang yang beriman dianjurkan memperbanyak ibadah agar bisa mendapat banyak kebaikan di bulan Sya’ban.

Baca juga: Kopi Joss Khas Jogja, Minuman Unik Yogyakarta yang Dicampur Arang Panas

Keutamaan bulan Sya’ban bisa jadi momen untuk menemukan jalan kebaikan

Keutamaan Bulan Sya'ban, Ketika Catatan Perbuatan Manusia Diserahkan pada Allah

(foto: pixabay)

Bulan Sya’ban berasal dari istilah sya’bun, yang berarti golongan atau kelompok. Mengapa disebut Sya’ban? Karena di bulan inilah masyarakat Arab jahiliyah zaman dahulu berpencar untuk mencari air.

Ada pula sumber yang menyatakan bahwa masyarakat jahiliyah berpencar ke dalam beberapa golongan untuk berperang.

Konon pada zaman jahiliyah dahulu memang pada bulan ini sering terjadi perang dan rebutan kekuasaan.

Dalam versi lain, Sya’ban berasal dari istilah syi’ab yang berarti jalan di atas gunung. Karena itu, banyak umat Islam yang memanfaatkan momen bulan Sya’ban untuk mendapatkan jalan kebaikan.

Di bulan Sya’ban, Allah memang menurunkan banyak kebaikan yang berupa; ampunan (maghfirah), pertolongan (syafaat), dan pembebasan dari siksa neraka (itqun min ‘adzabin-naar).

Menjadi momen peningkatan keimanan sebelum memasuki bulan suci Ramadan

Keutamaan Bulan Sya'ban, Ketika Catatan Perbuatan Manusia Diserahkan pada Allah

(foto: pixabay)

Karena waktu datangnya berdekatan dengan Ramadan, umat Islam dianjurkan meningkatkan keimanan pada bulan Sya’ban. Dengan kata lain, keutamaannya adalah seperti penghubung menuju ke bulan suci Ramadan.

Sambil bersiap-siap menjemput pahala bulan Ramadan, umat Islam juga dianjurkan berpuasa sunnah seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhamaad SAW pernah bersabda tentang keutamaan puasa di bulan Sya’ban.

“Itulah bulan yang manusia melalaikannya, bulan antara Rajab dan Ramadan, di bulan itulah (catatan) amal diangkat kepada Tuhan semesta alam, aku senang jika amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Selain puasa, ada beberapa amalan lain yang dianjurkan untuk menguatkan keimanan, misalnya banyak zikir, sedekah, menyambung persaudaraan, dan memohon ampunan dari Allah SWT.

Baca juga: Jarang Diketahui, Inilah Sosok Pak Dal Pencipta Lagu Bintang Kecil

Ada suatu malam istimewa yang dikenal dengan malam Nishfu Sya’ban

Keutamaan Bulan Sya'ban, Ketika Catatan Perbuatan Manusia Diserahkan pada Allah

(foto: pixabay)

Keutamaan berikutnya terletak di suatu malam pada tanggal 15 Sya’ban, atau yang biasa dikenal dengan malam Nishfu Sya’ban. Nishfu Sya’ban secara harfiah berarti pertengahan Sya’ban.

Alangkah baiknya umat Islam mengisi siang dan malam bulan Sya’ban dengan perbuatan baik, seperti menambah ibadah sunnah.

Tidak hanya fokus pada amalan yang menambah pahala, tentunya juga menjauhi berbagai maksiat yang dilarang.

Orang yang beriman yakin bahwa malam Nishfu Sya’ban, malaikat yang mencatat amal baik dan buruk, yaitu Raqib dan Atid akan menyerahkan semua catatan amal perbuatan manusia ke hadapan Allah SWT.

Itulah saat-saat ketika seseorang akan dinilai perbuatannya dan diberikan balasan setimpal oleh Allah SWT.

Ada amalan yang dianjurkan karena sunnah, ada yang merupakan tradisi semata

Keutamaan Bulan Sya'ban, Ketika Catatan Perbuatan Manusia Diserahkan pada Allah

(foto: pixabay)

Begitu memasuki bulan Sya’ban, ada lafaz doa yang bisa dibaca.

 “Allahumma bārik lanā fī rajab wa sya’ban wa ballighnā romadlon”

Yang artinya:

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.”

Setelah itu, sudah selayaknya umat Islam menjalaninya dengan kesungguhan dan penuh harap untuk bisa sampai di bulan Ramadan.

Tapi di sinilah letak kelalaian manusia, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi. Contohnya adalah tentang utang puasa.

Untuk yang masih punya utang puasa Ramadan sebelumnya, seharusnya dilunasi terlebih dahulu. Jangan sampai sibuk dengan yang sunnah, atau bahkan yang bersifat tradisi, tapi kewajibannya belum dipenuhi.

Umat Islam di Indonesia banyak yang terbiasa menjalankan ritual ibadah, tapi juga ada yang sekadar tradisi semata.

Contoh ritual yang termasuk tradisi adalah mengirim doa untuk keluarga yang sudah meninggal dengan cara membaca surat Yasin, tahlil, dan melakukan ziarah kubur.

Khususnya untuk ziarah kubur, bukan berarti dilarang tapi sebaiknya tidak perlu dikhususkan saat Sya’ban saja. Karena ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja untuk melembutkan hati sambil mengingat kematian.