lifestyle

Apa Itu Ghosting dalam Hubungan, dan Cara Menyikapinya

Penulis:   | 

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan istilah ghosting. Karena dianggap menyakitkan, semua orang tidak ada yang ingin jadi korban ghosting. Apa itu ghosting sebenarnya?

Selama ini kita mungkin memahami ghosting dalam percintaan. Tapi sebenarnya ghosting juga bisa terjadi dalam persahabatan dan pekerjaan. Orang yang pernah di-ghosting tentunya punya trauma tersendiri.

Karena memang ini bukan hal sepele, banyak sekali yang mengekspresikannya melalui karya seni yang mengena di hati. Lalu bagaimana cara menyikapinya? Yang lebih penting lagi, agar kita tidak menjadi pelakunya.

Baca juga: Mengenal White Noise, Suara untuk Membantu Tidur Nyenyak

Pelaku ghosting tiba-tiba pergi setelah sebelumnya intens berkomunikasi

Apa Itu Ghosting dalam Hubungan, dan Cara Menyikapinya

(foto: pixabay)

Istilah ghosting dahulu pertama kali dikenal masyarakat pada tahun 2000-an ketika internet mulai berkembang. Saat itu layanan kencan online mulai marak. Kebanyakan melakukannya melalui chatting dan telepon.

Ada kalanya orang yang pendekatan ternyata menghilang begitu saja. Dari yang awalnya cukup intens berkomunikasi, tiba-tiba pergi tanpa kejelasan.

Selama ini laki-laki lebih sering dianggap menjadi pelaku ghosting. Walau kenyataannya belum tentu, karena perempuan juga mungkin saja mengalami kondisi emosi tertentu yang tanpa sadar membuatnya jadi pelaku ghosting.

Ada beberapa alasan mengapa orang melakukan ghosting

Apa Itu Ghosting dalam Hubungan, dan Cara Menyikapinya

(foto: pixabay)

Hal-hal berikut ini bisa jadi sebab mengapa orang melakukan ghosting.

Ketakutan

Ghosting memang terkesan jahat dan tidak pengertian. Walau ternyata mereka yang menjadi pelaku ghosting lebih banyak merasa takut. Takut karena apa? Mungkin saja karena takut berkomitmen atau takut dengan ketidakpastian yang dihadapi.

Tidak ingin ada konflik

Sisi lain dari rasa takut adalah keinginan untuk menghindar dari konflik, atau bahkan lari dari kenyataan. Seolah-olah pergi lebih baik daripada harus menghadapi risiko lebih lanjut.

Kurang bertanggung jawab

Hal ini berlaku buat yang sudah mulai mengenal komitmen di antara kedua pihak. Lain halnya jika masih dalam tahap main-main, apalagi dengan orang yang baru dikenal di media sosial. Dia yang pergi begitu saja mungkin saja juga melakukan hal yang sama dengan beberapa orang.

Self care

Meskipun hal ini agak sulit diterima, tapi ghosting bisa menjadi pilihan untuk menjaga dirinya. Ada kalanya yang merasa jadi korban ghosting sebenarnya juga melakukan kesalahan, misalnya terlalu posesif.

Seseorang yang ghosting mungkin saja karena tidak ingin menjalani toxic relationship.

Apa yang perlu dilakukan ketika telanjur menjadi korban ghosting?

dalam Hubungan, dan Cara Menyikapinya

(foto: pinterest)

Memang selalu ada hikmah di balik semua peristiwa yang menyakitkan. Tapi tidak perlu buru-buru jika memang belum menemukannya. Jangankan hikmah dan pembelajaran, yang ada malah emosi negatif yang menguasai

Meskipun butuh waktu dan tidak mudah untuk menyembuhkan. Tapi setiap korban ghosting berhak untuk bahagia lagi dan melepaskan apa-apa yang sudah tidak berarti.

Baca juga: 7 Manfaat Meditasi Kundalini, Ampuh untuk Atasi Stres

Menyenangkan diri sendiri

Cara setiap orang untuk sembuh setelah di-ghosting memang berbeda-beda. Tapi yang pasti, hal praktis yang bisa dilakukan adalah membahagiakan diri sendiri.

Bahagia dalam hal ini adalah mengurangi keterikatan dengan orang lain. Jika belum bisa bahagia, setidaknya mencoba lakukan hal yang menyenangkan.

Tidak perlu ingat-ingat lagi

Seringkali pikiran yang dilarang memikirkan, justru memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya. Termasuk ketika dinasihati untuk tidak mengingat lagi dia yang sudah meninggalkan.

Tapi hal ini tetap harus dilatih pelan-pelan. Sampai pada akhirnya menyadari bahwa ternyata bisa bahagia, dengan atau tanpa dirinya.

Latih empati agar tidak mudah menjadi pelaku ghosting

dalam Hubungan, dan Cara Menyikapinya

(foto: pinterest)

Menjadi korban ghosting memang sangat tidak menyenangkan. Segala emosi negatif bisa muncul dan butuh waktu lama untuk menetralkan kembali. Tapi, bagaimana kalau di lain hari korban ghosting gantian menjadi pelaku?

Inilah pentingnya untuk memiliki empati dan saling menghargai sesama manusia yang memiliki emosi. Saat ada niatan membangun relasi lebih dekat, pastikan untuk mengenal baik-baik.

Jika memang ternyata menemukan hal yang dirasa tidak cocok, sampaikan saja dengan komunikasi yang baik.

Melarikan diri dari kenyataan mungkin akan berasa aman untuk sesaat, tapi bagaimana kalau di lain waktu terkena karma?

Tentu saja hal seperti itu tidak perlu terjadi. Dengan empati dan menghargai orang lain, semoga kita tidak menjadi pelaku ghosting.

TULIS KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.